oleh

Akad Nikah

Tentang Akad Nikah

Syarat sah akad nikah antara lain :

1. Kerelaan wanita sebelum melakukan akad nikah, seorang gadis tidak boleh di paksa untuk menikah, tetapi harus di mintai izinnya terlebih dahulu. (H.R. Bukhari Juz 5 : 4843 dan Muslim Juz 2 : 1419).

Demikian pula untuk janda, ia tidak boleh di paksa untuk menikah, tetapi harus di tunggu ucapan persetujuannya atau penolakannya. (H.R. Bukhari Juz 5 : 4845, Nasa’i Juz 6 : 3268, Abu Dawud : 2101, dan Ibnu Majah : 1873).

2. Izin dari wali, izin wali dari pihak wanita merupakan syarat sah pernikahan, ini adalah pendapat jumhur ulama’. (H.R. Ahmad, Tirmidzi Juz 3 : 1102, Abu Dawud : 2083 dan Ibnu Majah : 1879).

Wali seorang wanita yang berhak menikahkannya adalah Al-Ashabah, yaitu kaum kerabat yang laki-laki dari pihak bapaknya, bukan dari pihak ibunya.

Di riwayatkan dari Abu Hurairah Ra ia berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Seorang wanita tidak boleh menikahkan wanita lainnya, seorang wanita juga tidak boleh menikahkan dirinya sendiri.” (H.R. Ibnu Majah : 1882).

Sehingga dengan demikian, yang menjadi wali bagi seorang wanita secara berurutan adalah :

1. Bapaknya (ia adalah orang yang paling berhak untuk menikahkan anak perempuannya).

2. Kakeknya dari pihak bapak, dan seterusnya ke atas.

3. Saudara laki-lakinya sekandung.

4. Saudara laki-lakinya sebapak.

5. Anak laki-lakinya.

6. Cucu laki-laki dari anak laki-laki dan seterusnya ke bawah.

7. Anak laki-laki dari saudara laki-laki kandung (keponakan).

8. Anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak (keponakan).

9. Paman yang sekandung dengan bapaknya.

10. Paman yang sebapak dengan bapaknya.

11. Anak laki-laki pamannya (sepupu) dari pihak bapak.

12. Yang terakhir adalah hakim atau sulthan atau raja atau penguasa, seorang wali tidak sah mewalikan jika masih ada wali lain yang lebih dekat hubungannya dengan wanita tersebut.

Baca juga...  Beberapa Mandi Yang Di Sunnahkan Rasulullah Saw

Sehingga tidak sah perwalian saudara laki-laki jika masih ada bapak kandungnya, atau tidak sah pula perwalian saudara laki-laki sebapak jika saudara laki-laki sekandung masih ada, demikian seterusnya.

Adapun syarat bagi seorang wali adalah :

a) Beragama Islam. Ini menurut kesepakatan para ulama’. (Q.S. At-Taubah : 71).

b) Laki-laki. Ini menurut kesepakatan para ulama’.

c) Mukallaf (baligh dan berakal). Ini menurut Jumhur ulama’.

d) Merdeka. Ini menurut mayoritas ahli ilmu.

e) ‘Adil (tidak tampak kefasikan darinya). Ini menurut pendapat Imam Asy-Syafi’i dan satu riwayat dari Imam Ahmad.

3. Mahar

Mahar dalam pernikahan hukumnya adalah wajib, jika kedua pengantin sepakat untuk meniadakan mahar, maka nikahnya rusak/tidak sah. Ini adalah pendapat madzhab Malikiyah dan pendapat yang di pilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Hal ini sebagaimana firman Allah : “Berikanlah mahar kepada wanita (yang kalian nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” (Q.S. An-Nisa’ : 4).

4. Saksi

Pernikahan tidak sah tanpa adanya dua orang saksi laki-laki yang beragama Islam, mukallaf dan ‘adil, di riwayatkan dari ‘Aisyah Ra, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda :

“Tidak (sah) suatu pernikahan, kecuali (dengan adanya) seorang wali dan dua orang saksi yang adil.” (H.R. Al-Baihaqi).

Berkata Imam At-Tirmidzi : “Pengamalan dari hadits ini yang di lakukan oleh para ulama’ dari kalangan sahabat Nabi Saw dan orang-orang setelahnya dari kalangan tabi’in.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya