oleh

Al-Qadha (Lembaga Peradilan Islam)

Qadla’ (lembaga peradilan) adalah lembaga yang bertugas untuk menyampaikan keputusan hukum yang bersifat mengikat, lembaga ini bertugas menyelesaikan perselisihan yang terjadi antara sesama anggota masyarakat atau mencegah hal-hal yang dapat merugikan hak jama’ah atau mengatasi perselisihan yang terjadi antara warga masyarakat dengan aparat pemerintahan, baik khalifah, pejabat atau pegawai negeri yang lain. Dalil asal hukum di syari’atkannya lembaga peradilan itu adalah Al-Kitab dan As-Sunnah, tentang dalil Al-Kitab adalah firman Allah : “Dan hendaknya engkau hukumi (perkara yang terjadi) di antara mereka dengan dasar apa yang telah di turunkan oleh Allah.” (Q.S. Al-Maidah : 49). “Dan apabila mereka di seru kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka…” (Q.S. An-Nur : 48).
Sedangkan dalil As-Sunnah adalah, bahwa Rasulullah Saw sendiri pernah memimpin lembaga peradilan (qadla’) dan memutuskan masalah yang terjadi di tengah masyarakat. Salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari A’isyah istri Nabi Saw yang mengatakan, bahwa Utbah Bin Abi Waqqas telah menitipkan bayi laki-laki Zam’ah kepada saudara laki-lakinya, yaitu Sa’ad Bin Abi Waqqas (dengan pesan): “Ini anakku, maka terima dan peliharalah menjadi anakmu.” Pada saat penaklukan kota Makkah, anak itu diminta oleh Sa’ad, sambil berkata : “Ini anak saudaraku, yang dulu telah di titipkan kepadaku.” Lalu Abdu Bin Zam’ah berdiri menghampirinya dengan berkata : “Ini saudaraku dan anak laki-laki bapakku, yang telah di lahirkan melalui tempat tidurnya (keturunannya).” Kemudian mereka berdua sama-sama mengadu kepada Rasulullah Saw, di mana Sa’ad berkata : “Ya Rasulullah, ini adalah anak saudaraku yang telah di titipkan kepadaku.” Sementara Abdu Bin Zam’ah berkata: “Dia sudaraku, dan anak laki-laki bapakku yang di lahirkan melalui tempat tidurnya’ (keturunannya).” Rasulullah Saw kemudian bersabda : “Dia saudaramu, ya Abdu Bin Zam’ah.” Kemudian beliau bersabda : “Anak itu adalah milik keturunananya (lil firasy), sedangkan “lil ‘ahir” (orang yang tidak memiliki garis keturunan dengannya) haram memilikinya.” Beliau juga pernah mengangkat para qadli. Beliau pernah mengangkat ‘Ali Bin Abi Thalib untuk menjadi qadli di Yaman, di mana beliau pernah menasihatinya, berupa penjelasan terhadap cara memutuskan suatu perkara dengan bersabda : “Apabila dua orang yang berselisih datang menghadap kepadamu, jangan segera kau putusi salah satu di antara mereka sebelum engkau mendengarkan pengakuan dari pihak yang lain.”

Baca juga...  Standart Kebenaran Agama dan Mabda

Beliau juga pernah mengangkat Abdullah Bin Nufail sebagai qadli di Madinah, semuanya ini adalah dalil di syari’atkannya adanya lembaga peradilan (qadla’), dari hadits Aisyah di atas, nampak jelas bagaimana tata cara yang telah ditempuh Rasulullah Saw dalam memutuskan perkara sengketa antara Sa’ad dengan Abda Bin Zam’ah terhadap status anak laki-laki Zam’ah itu, di mana masing-masing mengklaim anak tersebut adalah menjadi haknya.

Rasulullah Saw kemudian memberitahukan kepada mereka berdua tentang status hukum syara’ yang berkaitan dengan anak laki-laki Zam’ah itu, sebagai hak Abda Bin Zam’ah, di mana anak adalah hak yang memiliki garis keturunan (lil firasy), keputusan beliau itu merupakan pemberitahuan terhadap hukum syara’, di mana beliau mengikat mereka berdua untuk menerima keputusan hukum tersebut dan Abdu Bin Zam’ahlah yang akhirnya bisa mengambil anak tersebut.

Ini adalah dalil tentang definisi lembaga peradilan, di mana definisi itu merupakan sifat suatu fakta (realitas), hanya saja karena fakta (realitas) tersebut merupakan fakta (realitas) syara’, di mana definisi syar’i adalah hukum syara’, maka definisi tersebut tentu membutuhkan dalil yang bisa digali untuk melahirkan definisi tersebut dan hadits-hadits di atas merupakan dalil bagi lahirnya definisi lembaga peradilan tersebut.
Sebagian orang ada yang mendefinisikan peradilan (qadla’) sebagai lembaga yang menyelesaikan perkara-perkara sengketa di antara sesama manusia, definisi ini kurang dari satu sisi, dimana definisi ini tidak menjelaskan realitas peradilan itu sendiri sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dan apa yang di sabdakan oleh beliau di sisi lain, definisi ini hanya menjelaskan hal-hal yang bisa dihasilkan oleh lembaga peradilan (yaang berupa keputusan), padahal keputusan itu kadang-kadang tidak di hasilkan dari lembaga peradilan tersebut, di mana seorang qadli, kadang-kadang memutuskan suatu perkara dan kadang tidak memutuskan sengketa antara dua orang yang berperkara, karena itu, definisi yang menyeluruh (al-jaami’) dan bisa mengeliminasi kemungkinan-kemungkinan di luar masalah yang di definisikan (al-mani’) itu adalah definisi yang di kemukakan di awal pembahasan lembaga peradilan ini, di mana definisi inilah yang di gali dari banyak hadits.

Baca juga...  Bentuk Pengadilan Rasulullah Saw

Bahwa definisi tersebut juga mencakup vonis terhadap perkara di tengah-tengah masyarakat itu esensinya seperti realitas yang ada di dalam hadits Aisyah di atas, disamping meliputi masalah hisbah (pemutusan perkara-perkara penyelewengan yang bisa merugikan hak jama’ah) yaitu pernyataan yang mengatakan : “Menyampaikan keputusan hukum yang bersifat mengikat dalam masalah yang merugikan hak jama’ah.” Di mana realitas inilah yang di tunjukkan oleh hadits “Seonggok makanan” (shubratut tha’am).

Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah yang mengatakan, bahwa Nabi Saw berjalan (melihat-lihat) seonggok makanan, lalu beliau memasukkan tangan beliau ke dalam makanan tersebut, di mana jari beliau menemukan, bahwa bagian bawah onggokan makanan itu basah (di campuri air). Lalu beliau bertanya : “Ini apa, wahai pemilik makanan?” Dia menjawab : “Terkena hujan, ya Rasulullah.” Beliau bersabda : “Tidakkah seharusnya yang terkena hujan di letakkan di bagian atasnya makanan ini, sehingga orang-orang bisa mengetahuinya. Ingatlah, siapa saja yang menipu, bukan termasuk umatku.”

Definisi tersebut juga mencakup masalah memberi pertimbangan dalam perkara-perkara madlalim (kedzaliman pejabat dan penguasa), sebab perkara-perkara tersebut merupakan perkara peradilan, bukan perkara hukum, karena perkara itu berupa pengaduan terhadap tindakan penguasa dan pejabat, yaitu perkara tindak kedzaliman, sebagaiamana yang di nyatakan di dalam definisi tersebut : “Menyampaikan hukum dengan cara mengikat untuk mengatasi perselisihan yang terjadi antara warga masyarakat dengan aparat pemerintahan, baik khalifah, pejabat atau pegawai lainnya, termasuk masalah yang terjadi di kalangan kaum muslimin, karena perbedaan dalam memahami makna salah satu nas syara’ yang ingin di putuskan serta hukum yang ingin di tetapkan.”

Masalah tindak kedzaliman itu di nyatakan dalam hadits Rasulullah Saw ketika beliau bersabda : “Aku sungguh tidak berharap bertemu (menghadap kepada) Allah Azza Wa Jalla, di mana ada orang yang menuntutku karena kedzaliman yang telah aku lakukan kepadanya, baik berkaitan dengan masalah darah meupun harta.”

Baca juga...  Islam Mengharamkan Pemerintahan Militer

Juga nampak di dalam sabda Rasulullah Saw, yaitu : “Siapa saja yang pernah hartanya aku ambil, maka inilah harta milikku silahkan ambil hak yang pernah aku ambil darinya, siapa saja yang pernah aku cambuk tubuhnya, maka inilah tubuhku, maka balaslah mana saja yang di suka darinya.”

Kenyataan ini membuktikan, bahwa perkara yang di lakukan penguasa, wali atau pegawai negeri akan di angkat ke mahkamah madlalim (di-PTUN-kan) sesuai dengan apa yang di adukan oleh orang yang di dzalimi, di mana qadli madlalim-lah yang bertugas menyampaikan hukum itu dengan cara mengikat, oleh karena itu, definisi di ataslah yang menyeluruh dan mencakup tiga bentuk pengadilan yang di nyatakan di dalam hadits-hadits Rasulullah Saw serta af’al beliau di atas, yaitu penyelesaikan perkara sengketa yang terjadi di antara manusia dan mencegah terjadinya hal-hal yang membahayakan hak jama’ah, serta menyelesaikan perselisihan yang terjadi antara rakyat dengan penguasa atau antara rakyat dengan pegawai negeri dalam melaksanakan tugas-tugas mereka.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya