oleh

Al-Quran dan Realitas Sosial

Jika dilihat dari kaca mata realitas sosial, akan terlihat bahwa Al-Qur’an sangat bersifat realistis, dalam arti selalu seiring sejalan dan tidak mengabaikan realitas sosial, hal ini dikarenakan Al-Qur’an mempunyai fungsi sebagai petunjuk (hujan) bagi kehidupan, begitu intensifnya pergumulan antara ayat-ayat Al-Qur`an dengan realitas sosial, sehingga dalam tradisi ke-Islam-an muncul ilmu khusus mengenai sebab-sebab turunnya Al-Qur`an (asbab An-nuzul), meskipun tidak semua ayat Al-Qur`an ada asbab an-nuzul-nya. 

Mengenai hal ini, bahkan mencatat ayat-ayat yang pada saat turunnya secara spesifik ditujukan kepada Sahabat Rasulullah Saw tertentu, hal itu bisa dilihat dalam yang berjudul “Rijal wa Nisa” Anzala allâhu fîhim Qur’an-an” (laki-laki dan perempuan yang kepadanya
ayat-ayat Al-Qur`an diturunkan).
 

Al-Qur`an, dilihat dari kronologi turunnya, para ulama mengategorikan ayat-ayatnya menjadi dua, yaitu ayat-ayat Makkiyyah dan ayat-ayat Madaniyyah, hal itu, jika diilihat dari kaca mata realitas sosial terlihat adanya perbedaan isi ajaran dalam keduanya, ayat-ayat Makkiyyah yang diturunkan sebelum Rasulullah Saw melakukan hijrah ke Madinah berkisar antara 19/30 dan berlangsung selama kurang lebih 13 tahun berisi ajaran mengenai dasar-dasar aqidah dan akhlak, sedangkan ayat-ayat Madaniyyah yang mulai diturunkan sejak Rasulullah Saw Hijrah ke Madinah, yang berkisar antara 11/30 dan berlangsung selama kurang lebih 10 tahun berisi mengenai ajaran yang bersifat amaliyah secara utuh seperti shalat dan lain-lain.
 

Terlihat sekali bahwa realitas sosial mendapat perhatian dalam proses turunnya Al-Qur`an, di mana pada fase Makkah belum ada kesemapatan dan pendorong kepada tasyri’ yang bersifat ‘amali, dan belum dibentuk peraturan pemerintahan, perdagangan, dan lain-lain, sehingga dalam surat-surat Makkiyyah dalam Al-Qur`an seperti surat Yunus, Ar-Ra’du, Al-Furqan, Yasin, dan Al-Hadid, tidak terdapat satu ayat pun dari ayat-ayat hukum yang ‘amali, bahkan kebanyakan ayat-ayatnya khusus membahas masalah aqidah, akhlak dan tamsil perjalanan hidup umat manusia di masa lampau.

Hal yang berbeda terlihat pada fase Madinah, di mana Islam telah terbina menjadi umat dan telah membentuk pemerintahan, serta mediamedia dakwah telah berjalan lancar, keadaan mendesak diberlakukannya tasyri’ dan undang-undang guna mengatur hubungan antar individu satu dengan yang lain sebagai umat yang sedang berkembang. Realitas tersebut menghendaki diberlakukannya hukum-hukum seperti hukum perkawinan, perceraian, pewarisan, perjanjian utang-piutang, kepidanaan dan lain-lain. 

Baca juga...  Teman Yang Baik Ada Di Majelis Dzikir

Surat-surat Madaniyyah dalam Al-Qur`an seperti Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa`, Al-Maidah, Al-Anfal dan Al-Ahzab merupakan surat-surat yang memuat ayat-ayat mengenai hukum-hukum tersebut, mencermati cara Al-Qur’an dalam hubungannya dengan realitas sosial, akan terlihat bahwa Islam berangkat bersama-sama dengan manusia secara apa adanya dan menerapkan hukum sesuai dengan tingkat kemampuannya, tahapan dan keadaannya, atau dengan kata lain, realitas sosialnya dan hukum yang diterapkan tersebut dianggap sebagai batas taklifnya. 

Apabila seseorang sudah siap dengan taklif itu maka kepadanya diterapkan dan apabila tingkat kemapuannya meningkat taklifnya juga ditingkatkan, begitu seterusnya, untuk lebih jelasnya, ayat-ayat Al-Qur`an yang berhubungan dengan realitas saat diturunkannya terbagi menjadi dua, yaitu :

  • Ayat yang diturunkan untuk menjawab pertanyaan para sahabat Rasulullah Saw, dalam hal ini banyak sekali ditemukan ayat-ayat yang dimulai dengan kata “yas`alûnaka” (mereka bertanya kepadamu, ayat-ayat tersebut di antaranya dapat ditemukan dalam surat Al-Anfal : 1, surat Al-Baqarah : 189, 219, 222, 217 dan lain-lain.
  • Ayat yang diturunkan sebagai respon terhadap suatu kejadian, hal ini merupakan perintah/petunjuk Allah kepada Rasulullah Saw untuk menyikapi kejadian tertentu, ayat-ayat semacam ini bisa ditemukan misalnya dalam Surat Al-Maidah : 33, Surat An-Nahl : 126, Surat An-Nisa :7, 11, 12 dan lain-lain.


Proses turunnya Al-Qur`an (nuzûl) memang sudah berakhir dengan wafatnya Rasulullah, namun Al-Qur`an sebagai pedoman/dasar dalam agama Islam mempunyai sifat shâlihun li kulli zamân wa makân (bisa diterapkan di segala situasi tanpa terikat oleh ruang dan waktu). Dalam hal ini Al-Qur`an mempunyai fungsi tanazzul atau diturunkan sesuai dengan konteksnya, sesuai realitas sosial yang menghendaki solusi darinya.
 

Tanazzul, merupakan sebuah proses ijtihad untuk menyikapi realitas yang sedang berjalan serta merupakan usaha untuk menerapakan ajaran Al-Qur`an sesuai dengan konteksnya, sesuai dengan realitas sosial yang melatarinya, bisa dikatakan bahwa asbâb al-nuzûl, yang dalam hal ini menunjukkan adanya konteks, situasi kemasyarakatan, dan permasalahan-permasalahan yang dihadapi masyarakat, semua itu menjadi bukti yang jelas bahwa teks agama atau taklif datang untuk menjawab keadaan yang sedang dihadapi manusia, untuk dijadikan contoh secara umum yang terlepas dari batasan ruang dan waktu dan yang terjadi di setiap waktu dan tempat, kata tanazzul merupakan kata yang digunakan oleh al-Qaradhawi ketika mendefinisikan fatwa. 

Fatwa menurutnya adalah tanazzul al-hukm li al-wâqi (menurunkan/memberikan hukum terhadap realitas), sebab yang dijadikan patokan adalah umumnya lafad bukan adanya sebab tertentu.
 

Al-Qur`an merupakan wahyu terakhir dan Nabi Muhammad Saw juga merupakan nabi terakhir, konsekwensinya, Al-Qur`an harus berisi semua yang dikehendaki Allah untuk diajarkan, baik berupa ajaran untuk diterapkan segera maupun diterapkan untuk situasi yang tepat di masa depan, yang jauh sekalipun (Q.S. An-Na’im).

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru