oleh

Amalan Menjaga Hati Ala Tasawuf

-Tasawuf-7 views

Ketahuilah hai saudara-saudara, dalam kehidupan kita sehari-hari, marilah kita sama-sama akan sama-sama memperjuangkan hal di bawah ini untuk mendukung cahaya hati agar ketetapan (istiqamah) di Rahman dan Rahim dari-NYA.

Penjelasan penjagaan hati ini terdiri dari 8 (delapan) perkara yaitu:

1. Hush dar dam artinya: Menjaga napas sepenuhnya sadar
Hush artinya “berpikir”. Dar artinya “dalam”. Dam artinya “napas”. Berikut ini: Dalam setiap tarikan nafas yang naik kita senantiasa berpikir akan kebesaran Allah Swt. Hamba yang cerdas / bijak harus selalu mengendalikan nafasnya terhadap kelalaian, dalam keadaan menarik dan melepaskan nafas tersebut, dengan pembahasan yang selalu terkait keselamatan senantiasa hanya tertuju kepada Allah Swt.

Kita harus selalu bernapas dengan mengingat berkekalan kepada Allah Swt, sebab setiap tarikan dan hembusan napas yang demikian itu akan hidup dan menyambung dengan Allah Swt, setiap tarikan dan hembusan napas dengan kelalaian akan mati dan terputus hubungan dengan Allah Swt, tanya ini di bangun dasar teori, lalu pasang setiap saat untuk menarik napas lalu tariklah dan hindari, selalu ingatkan bahu di lingkungan ingatlah untuk menarik dan menghembuskan napas berjalan keluar.

Nama Allah Swt terdiri dari empat huruf, yakni : Alif, Lam, Lam dan Ha, dalam pengertian ini di nyatakan tentang zat Allah Swt yang sempurna di katakan pada huruf terakhir yang disebut “Ha”, huruf ini mewakili dialah yang maha ghaib dan sempurna.

Lam adalah untuk (pencarian) mengidentifikasi pencarian, sedangkan Lam yang kedua adalah untuk mubalagha (mengatur).

Seharusnya hal yang perlu diketahui dari kita semua bagaimana meminta dari kelalaian Ingat adalah tentang pekerjaan yang harus dilakukan untuk seseorang, jadi kita harus melakukan hal yang dengan cara mencari ampunan (istighfar) karena mencari ampunan akan mencari dan mengucikan diri kita dan akan mencari tahu apa yang diharapkan Allah Swt yang memang nyata berada di mana-mana.

2. Nazar bar qadam maksud: Mengintip langkah
Itu berarti kita harus berjalan sambil memandang mata hanya tertuju pada objek (fokus), kemanapun arah mempertanyakan dia tempatkan atau langkahkan, maka pandangan mata kita bisa tertuju kesitu pula.

Jangan melemparkan pandangan kesana kemari, seperti melihat kekiri atau kekanan atau kedepan, agar pandangan yang satu tidak mendukung, karena memunculkan jilbab/dinding yang menyebabkan di hati yang pembohong (tidak tetap) selama bergerak di sana, karena berbagai macam keinginan yang tercetak di dalam pikiran kita, berbagai gambaran, maka akan menjadi tabir yang akan menutup hati.

Hati yang harus bersihkan melalui zikir terus menerus akan menjadi cermin untuk penglihatan hati, maka dengan memahami kita di perintahkan untuk merendahkan pandangannya agar bisa tidak diserbu oleh anak panah syaithan.

Merendahkan dan menafikan pandangan juga merupakan tanda kerendahan hati, orang yang merasa puas dan sombong tidak akan pernah melihat akan tujuan mereka, tetapi jika selalu melihat ke arah perjalanannya dengan fokus dan makan, maka gerakan menuju arah yang akan diambil.

Baca juga...  Pengertian Muraqabah Dalam Thariqat

Jika ini sudah disetujui, maka kita tidak akan melihat kemana – mana saja yang dikeluarkan untuk Tuhan, laksana seseorang yang ingin mencapai dengan cepat, demikian juga seseorang yang menuju Allah bergerak dengan cepat, tidak melihat ke kanan atau ke kirinya, tidak berbilang-melihat, tidak mudah terkagum akan apa yang di jumpainya, tidak melihat kepada duniawi, tetapi hanya melihat kepada Allah Swt.

Pemandangan mendahului langkah dan langkah pengambilan pandangan…Ingatlah! Untuk perjalanan yang meningkat/keatas (mi’raj) atau ke maqam yang lebih tinggi di mulai dengan melihat yang satu, di ikuti dengan langkah, melangkah langkah dari pandangan yang tinggi, maka pandangan akan naik lagi ke tingkat berikutnya, lalu coba langkah juga mengikuti bergilir.

Tampilan akan di angkat ke tempat yang lebih tinggi lagi dan langkah akan mengikutinya secara bergilir dan begitu seterusnya sampai mencapai tingkat kesempurnaan, kearah akan langkah selanjutnya akan di tarik.

Pahamilah…“Jika langkah mengambil pandangan, maka kita harus mencapai tingkat kesiapan dalam langkah yang lurus dan benar, maka langkah yang lurus dan benar itu akan di sebut juga sebagai awal atau pertama dari semua langkah lain.”

3. Syafar dar watan, artinya: Perjalanan kembali / pulang
Maknanya adalah perjalanan pulang menuju dunia ibadah.

Rasulullah Saw mengatakan : “Saya akan tahu Tuhanku dari satu maqam ke maqam yang lebih baik (dari tinggi) dan dari satu daerah ke daerah yang lebih tinggi.” Berharap kita harus pergi untuk kembali dari keinginan hal terlarang untuk keinginan untuk Allah Swt.

Di definisikan lagi:

a. Perjalanan Luar
Artinya: Berjalan dari satu tempat ketempat yang lain guna menambah ilmu dan amal, demi meningkatkan dan mendekatkan kita kepada Allah Swt.

b. Perjalanan Dalam
Artinya: Untuk perjalanan kemantapan luar, di dalam perjalanan luar yang diperlukan sekali lagi kesukaran yang berkemungkinan takkan sanggup di tanggung oleh kita, di khawatirkan malah akan kehilangan untuk tindakan terlarang, ini di sebabkan karena masih dalam ibadahnya.

Jika dua hal di atas dapat kita laksanakan dan tinggalkan akhlaq buruk mereka dan tingkatkan akhlaq yang lebih tinggi, aturlah semua orang akan membutuhkan dunia dari kemenangan, maka kita akan di angkat oleh Allah.

Kapan saja di sucikan, maka gunakan jernih seperti udara, bak kaca transparan, mengkilap seperti cermin, di perlihatkan kebenaran dari semua hal dalam kehidupannya sehari-hari, dalam kemenangan akan muncul semua hal yang di perbaiki untuk kehidupannya dan untuk mereka yang ada di lihatnya.

4. Khalwat dar anjuman artinya: Sendiri dalam ramai
Khalwat artinya menyendiri atau berjama’ah, berarti tampak dari luar bersama – sama dengan manusia di sekelilingnya, sementara dalam batin atau dalam perasa senantiasa selalu ingat / bersama Allah Swt. Ada juga dua kategori “khalwat”. Pertama adalah penyendirian eksternal dan kedua adalah penyendirian internal.

Khalwat ini ada dua macam, yaitu :

1. Khalwat dengan sendirinya di suatu tempat yang tidak ada orang lain selain dari orang-orang yang khalwat, mengatur dan bermeditasi pada dzikir untuk Allah Swt, dengan tujuan untuk mendapatkan kebenaran Allah Swt menjadi kebesaran-NYA (Tajalli).

2. Khalwat yang menyendiri di antara keramaian (di dalam lingkungan masyarakat), di sini kita berharap selalu hadir dengan Allah Swt sambil dzahirnya berada di tengah-tengah keramaian tersebut, selalu mengkaitkan dzikir sirr (tertutup) dalam hati sanubari manusia, berusaha sepenuhnya mengekalkan ingat kepada Allah Swt, di dalam tanah ini di atas yang mana atas apa yang di namakan khalwat atau suluk, benda ini benar dan lurus, sesuai dengan yang tadi adalah qur’an “Orang-orang yang tak dapat di alihkan perhatinnya dari mengingat Allah oleh bisnis juga untung.”

Khalwat utama seorang Syaikh Thariqat adalah kesendirian dalam keramaian, mereka bersama Allah Swt dan sekaligus bersama manusi ,. seperti kata Rasulullah Saw : “Saya memiliki dua sisi, satu muka menghadap Al-Khaliq muka lainnya menghadap ciptaan (makhluq).”

Syaikh Thariqat selalu mendapat kehormatan akan berjama’ah, bermajelis (persetujuan), Thariqat kita adalah persahabatan (kebersamaan) dan menguntungkan sesuai dalam kebersamaan.

Kesempurnaan bukan pada peragaan kekuatan karamah, tapi kesempurnaan adalah duduk bersama orang ramai (banyak), menjual dan membeli, menikah dan memiliki anak, namun tidak pernah menerima kembali Allah Swt dalam sekejap pun.

5. Yad kard, berarti: Dzikir yang utama
Kita dapat meminta dzikir dengan persetujuan dan penerimaan, pada lidahnya senantiasa dzikir untuk Allah Swt sampai mencapai keadaan muraqabah.

Keadaan itu akan diucapkan pada setiap hari dengan ucapan: LAA ILAAHA ILLALLAAH pada lidah, antara 5.000 dan 10.000 kali, mengirimkan dari semua yang tidak mau akan mengotori dan membuat keinginan berkarat.

Dzikir ini akan memoles hati dan membawa kita ke dalam, kita harus melakukan dzikir setiap hari, baik dengan hati (syir) atau dengan lidah jasmani secara keseluruhan dalam, membaca ALLAH-ALLAH dalam hati sanubari, yang akan ditampilkan (semua) asma dan sifat-NYA, atau dengan aturan napi istbat melalui penyebutan LAA ILAAHA ILLALLAAH, dzikir ini akan membawa kita kepada persetujuan akan ke-esa-an Allah Swt.

Kita senantiasa berusaha mengulang dzikir ini dengan setiap napas, menghirup dan mengalahkan, selalu berusaha mencapai hati, makna dari dzikir ini membawa sasaran kita hanya satu, hanya untuk ALLAH Swt dan tidak ada sasaran yang lain untuk kita.

6. Baz ghast, artinya: Pulang / kembali
Keadaan ini di mana yang melakukan dzikir dengan mencapai pemahaman Rasulullah Saw, “Illahi anta maqsudi wa ridhaka matlubi” artinya: “Ya Allah, hanya engkaulah kumaksud dan keridhaan engkaulah engkaulah yang kutuju.”

Munajat ini akan menambah kesadaran kita tentang Ke-Esa-an Allah Swt, sampai kita mencapai keadaan di mana semua makhluk ciptaan (makhluq) lenyap dari pandangan mata, semua yang kita lihat, kemanapun kita melihat, adalah Allahu Swt.

Kita membaca dzikir macam ini agar dapat membuka rahasia yang akan dibuka oleh seseorang (Al-Ahad), dan untuk membuka diri untuk menantang Allah Swt.

Bagi pemula tidak boleh keluar dzikir ini jika dia tidak mendapatkan hasil / kekuatan itu muncul dalam perjuangan, harus tetap membaca dzikir ini, karena Rasulullah Saw telah mengatakan: “Barang siapa yang mencari golongan orang dan akan menjadi bagian dari golongan itu.

Makna Baz Ghast adalah kembali kepada Allah Swt, dengan menunjukkan kepasrahan diri yang sempurna dan sumbangan untuk kebahagiaan, dan kerendahan diri ini akan sempurna dengan semua yang berhubungan dengan pada-NYA, yang meminta Rasulullah Saw dalam do’anya: “Ma dzakarnaka aqqa “Kami tidak ingat menerima mengingat, Ya Allah.”

Kita tidak akan dapat datang ke hadhirat Allah Swt dalam dzikir, dan tidak dapat mengungkapkan Rahasia dan Sifat Allah Swt dalam dzikir, jika tidak melaksanakan dzikir itu dengan dukungan Allah Swt dan tanpa Allah Swt memilih kembali akan diri kita dan singkatnya, kita tidak dapat melakukan dzikir oleh atau dengan sendirinya,

7. Nighah dast, artinya: Memperhatikan / memperhatikan
Senantiasa membuat suatu pandangan, artinya kita harus mengendalikan hati dan melindunginya dengan cara mencegah masuknya pikiran buruk.

Kecenderungan akan hal-hal yang buruk akan menarik hati dari Allah Swt, bagi seseorang yang dapat melindungi dari masalah buruk selama lima menit saja merupakan hasil yang besar.

Untuk ini saja dia sudah akan di akui sebagai seorang yang sampai, ajaran sufi/tasawwuf adalah sebuah kekuatan untuk melindungi hati dari pemikiran buruk dan menjaganya dari keinginan rendah.

Barang siapa yang berhasil dengan di atas, dia akan mengerti, dan barang siapa yang mengerti akan memenangkan, tentu akan memenangkan Tuhannya. Rasulullah Saw berkata: “Barang siapa yang mengenal dirinya sendiri, niscaya akan mengenal Tuhannya”.

8. Yada dast, artinya: Ingatan
Membaca dzikir akan melindungi dengan masing-masing kehancuran tanpa mengingat Allah Swt, mengambilnya kita memelihara hati selalu bisa dekat dan dekat dengan Allah Swt.

Ini akan membuat kita menyadari dan merasakan Cahaya (nur) dari Allah Swt, kita harus membuang tiga dari empat bentuk pikiran yang terasa, yaitu teorinya: Pikiran egois, Pikiran jahat dan Pikiran malaikat, sambil mempertahankan dan membenarkan, kita hanya bisa memikirkan pikiran, yaitu: Pikiran kebenaran, keyakinan, hal ini akan membimbing kita menuju ketingkat tinggi dari kesempurnaan dengan membuang semua khayalan dan hanya mengambil kebenaran yang benar-benar esanya Allah Swt.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya