oleh

Apa Itu Zakat?

APA ITU ZAKAT?

Zakat adalah kewajiban mengeluarkan sebagian harta yang telah di tentukan kadar dan jenisnya oleh syari’at, Rasulullah Saw telah menjelaskan bagaimana seorang muslim mengeluarkan zakatnya dengan mudah, sebagaimana dahulu manusia berdagang dengan cara tukar-menukar barang (barter), kemudian manusia mendapat kemudahan dengan adanya uang emas (dinar) dan uang perak (dirham), kemudian manusia mendapatkan kemudahan yang lebih jauh dengan adanya uang logam, uang kertas, cek, rekening, saham dan berbagai macam surat/barang berharga.

Banyak permasalahan harta yang di miliki kaum muslimin yang dahulu belum pernah ada dan kondisi ini memaksa setiap muslim mengetahui apakah harta yang ia miliki wajib di keluarkan zakatnya atau tidak, berikut akan kami bahas fiqih tentang zakat, mudah-mudahan bermanfaat.

UANG LOGAM DAN UANG KERTAS, ADAKAH ZAKATNYA?
Dahulu, sebelum ada uang, manusia berjual beli dengan cara barter, sebagai contoh, jika seseorang butuh gandum, maka dia membelinya dengan kain atau yang lainnya, kemudian zaman berikutnya manusia menggunakan emas dan perak yang di cetak sedemikian rupa sebagai alat tukar dalam jual beli yang lebih mudah dan di namai dinar dan dirham, kemudian para pedagang besar merasa tidak aman membawanya dalam jumlah yang besar, lalu mereka menitipkan kepada rukang emas dan orang-orang terpercaya, lalu mereka memberi catatan semacam kwitansi untuk di ambil sewaktu-waktu di butuhkan, kemudian semakin bertambah zaman, sehingga setiap negara membutuhkan dan membuat mata uang khusus untuk negeri mereka, hingga sekarang.

Para ulama’ berbeda pendapat tentang uang, apakah di masukkan ke dalam emas, perak atau yang lainnya dalam masalah zakat, yaitu :


– Pendapat pertama mengatakan, uang hanya catatan utang yang menjadi tanggungan bagi yang mengeluarkan uang.


– Pendapat kedua mengatakan bahwa uang sama dengan barang dagangan seperti kain, kitab dan sebagainya, sebab uang adalah pengganti barang-barang di atas.


– Pendapat ketiga mengatakan bahwa uang adalah pengganti emas dan perak, karena sebelum ada uang, emas dan perak (dinar dan dirham) sudah ada sebagai alat tukar.


– Pendapat keempat mengatakan, uang adalah alat tukar yang berbeda dengan yang lainnya, bukan pengganti emas dan perak, tetapi berlaku padanya hukum emas dan perak dalam hal zakat dan lainnya dan inilah pendapat mayoritas ulama masa kini dan inilah pendapat yang paling kuat.
Adapun Nishabs (kadar) uang yang terkena zakat, maka para ulama berbeda pendapat tentang nishab yang harus terpenuhi pada uang sehingga harus di keluarkan zakatnya.


– Sebagian mengukur nishab uang dengan nishabnya perak, sebab uang adalah pengganti dirham dan harga perak Iebih murah dari emas, sehingga Iebih bermanfaat bagi fakir miskin dari zakat tersebut.


– Sebagian lain mengukur nishab uang dengan nishab emas, sebab harga emas stabil berbeda dengan perak yang harganya tidak stabil.


– Dan sebagian lain berpendapat, bahwa jika mencapai salah satu dari nishabnya emas dan perak, maka wajib di keluarkan zakatnya.


Pendapat terakhir inilah yang Iebih dekat kepada kebenaran, karena uang adalah kelanjutan dinar dan dirham yang berasal dari emas dan perak dan pendapat ini Iebih hati-hati.
Karena itu, jika seseorang memiliki uang yang mencapai nishab perak yaitu 595 gram, atau mencapai nishab emas yaitu 85 gram, maka wajib di keluarkan 2,5% dari uang tersebut setelah sempurna haulnya (satu tahun penuh).
Ini adalah fatwa Lajnah Da’imah yang di ketuai oleh Abdul Aziz Ibn Baz 9/254-257 dan Muhammad Ibn Shalih Al-Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ 6/98-99.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya