oleh

Apakah Shalat Itu Bersifat Seperti Denda?

“Apakah shalat itu denda yang harus di bayar seseorang seperti halnya membayar sebagian pajak secara dzalim?”

Jawaban, Tidak! Shalat bukanlah denda materil yang harus di bayar, bukan pula pajak harta yang harus di pungut, tetapi ia adalah amanah (yang ada padamu) dan di lihat Pemiliknya setiap hari sebanyak lima kali. Lalu Dia bersaksi bahwa kamu setia, jujur, ikhlas dan menjaga hak-hak-Nya, kemudian memberimu imbalan sebesar-besar pahala, karena sudah merawatnya dengan baik.

Benar, ia bukanlah pajak, denda atau pun upeti. Ia hanyalah pengakuan terhadap hak, refleksi syukur terhadap suatu kebaikan, bukti kejernihan jiwa dengan berlaku taat terhadap para pemimpin dan melaksanakan perintah-perintah mereka (Maksudnya adalah simbol ketaatan kepada pemimpin, di-mana seorang makmum senantiasa mengikuti gerakan imam di dalam shalat dan tidak sekalipun menyelisihinya) serta ungkapan rasa cinta dan penghargaan (terhadap sesama Muslim) semata karena Allah Subhaanahu Wata’ala yang telah berpadu di dalam hati.

Bagaimana pendapatmu, andaikata ada seseorang menyodorkan kepadamu sebuah permen, membantu mengangkat barang-barangmu, menunjukkan jalan, membantumu mendorong mobilmu yang mogok atau mengambilkan sesuatu yang jatuh darimu? Bukankah kamu akan mengatakan, ‘Terima kasih,’ menghormatinya, menghargai perbuatannya dan berharap dapat membalas kebaikannya dengan sebaik mungkin?

Benar, aku juga manusia sepertimu, senantiasa mengingat dan tidak mengingkari jasa baik (seseorang kepadaku), serta berterima kasih atas hadiah yang (aku terima), semakin besar jasa baik yang aku dapatkan, semakin besar pula rasa terima kasihku.

Siapakah yang sanggup memberikan nikmat seperti Allah Subhaanahu Wata’ala? Yang menganugerahkan akal dan panca indera, melimpahkan rizqi yang baik untuk ciptaan-Nya, menganugerahkan kesehatan dan keselamatan, memberi petunjuk kepada agama yang benar, memberi anak dan keluarga dan menempatkan di ladang kebaikan di tengah para sahabat yang mulia dan tetangga yang baik?

Baca juga...  Pertanyaan Tentang Hadist Shalat Fajar & Shalat Awal Waktu

Tidak, sekali-kali tidak ada di dalam kehidupan ini yang berbuat baik kepadaku seperti kebaikan Allah Subhaanahu Wata’ala, tidakkah seharusnya harus mensyukuri semua nikmat-nikmat itu, karena selama ini pun kita juga berterima kasih kepada selain-Nya yang memberikan kebaikan yang jauh lebih sedikit dari itu kepada kita?

Tidak diragukan lagi, anda pasti setuju dan mendukung tentang rasa syukur kepada-Nya, bahkan memaksa bila berbuat kurang optimal dalam melakukannya, sebab anda tidak menginginkan menjadi manusia yang tidak pandai membalas budi dan mengingkari kebaikan.

Sesungguhnya, rasa syukur secara umum selaras dengan nilai sebuah hadiah dan kedudukan pemberi hadiah, rasa terima kasih kepada orang yang menyodorkan sebuah permen kepada kita, tidaklah sama dengan rasa terima kasih kita kepada orang yang menyodorkan kepada sekaleng permen.

Ucapan kepada anak kecil yang mengambilkan pena yang terjatuh tidak sama dengan ucapan kepada seorang pembesar yang mengambilkannya untukku. Sifat yang di cintai Allah Subhaanahu Wata’ala dari kita dalam mensyukuri-Nya atas segala nikmat-Nya adalah dengan cara meletakkan dahi di atas tanah, sebagai pengakuan atas Rububiyah-Nya (keberadaan-Nya sebagai Sang Pencipta), penyucian atas Uluhiyah-Nya (keberadaan-Nya sebagai satu-satunya sesembahan yang haq) dan pengakuan atas Ihsan (kebaikan)-Nya.

Sesungguhnya manusia menundukkan diri di hadapan thaghut-thaghut yang menjadi berhala mereka, padahal realitanya tidak memiliki jasa baik apapun terhadap mereka, bahkan thaghut-thaghut itu ia menyesatkan mereka dari kebenaran dan petunjuk.

Kebanyakan mereka membungkuk di hadapan para pemimpin mereka sebagai penghormatan dan pengagungan, padahal bisa jadi mereka itu adalah makhluk Allah Subhaanahu Wata’ala yang paling buruk. Lalu kenapa kita tidak merundukkan badan kepada Allah Subhaanahu Wata’ala, Pemilik kekuasaan, Pencipta alam semesta, Rabb langit dan bumi, Yang memberikan manfaat dan menimpakan mudharat, Yang memberi dan mencegah, Yang menghidupkan dan mematikan dan Yang mengadakan perhitungan terhadap hal yang sekecil dan sebesar apapun?

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya