oleh

Apakah Shalat itu Mengekang Kebebasan?

“Apakah shalat itu mengekang kebebasan mutlak seseorang dan melarang mereka menjalankan kebebasannya?”

Jawaban : Shalat bukan sebagai pengekang kebebasan pribadi dan bukan pula penghalang seseorang menjalankan kebebasannya, sesungguhnya orang-orang yang hidup di tengah komunitas manusia secara keseluruhan sepakat bahwa mereka bukanlah binatang yang hidup di muka bumi, layaknya kehidupan para binatang di hutan-hutan, tapi mereka memiliki kebebasan dan kebebasan itu bersifat mutlak dalam hal keyakinan, ucapan maupun perbuatan, namun terikat oleh peraturan umum dan undang-undang yang berlaku dan andaikata bukan karena ikatan ini, tentu umat manusia tidak akan teratur dan tidak akan lahir sebuah bangsa, serta sudah barang tentu pula, urusan-urusan tidak akan berjalan lancar dalam proses saling bertukar manfaat di antara sesama individu, bahkan sudah tentu pula tidak akan berlangsung ras manusia.

Sesungguhnya kaum Hippies yang melakukan setiap apa yang terbersit dalam pikiran mereka dan hidup di jalan-jalan layaknya kehidupan anjing-anjing liar tidak mampu menyelisihi kebijakan-kebijakan penguasa atau undang-undang yang berlaku, bahkan saudara-saudara mereka, binatang-binatang di hutan memiliki peraturan yang mereka jalani.

Andaikata di tanyakan pada salah seorang ilmuan biologi, pasti ia akan menjelaskan kepadamu kebenaran apa yang di katakan ini, barangkali contoh paling dekat yang bisa di berikan adalah apa yang di saksikan dengan mata kepala sendiri tentang kerjasama para anggota sekelompok lebah dan juga bagaimana sekelompok semut saling membantu di dalam menyeret sisa-sisa makanan yang ia temukan.

Kita, wahai kaum muslimin, bebas dalam melakukan urusan-urusan pribadi, makan dan berpuasa, tidur atau jaga, menetap atau pergi, menjual atau membeli, namun kebebasan ini di ikat oleh aturan Ilahi dan di batasi dengan batasan-batasan syari’at.

Baca juga...  Menshalatkan Jenazah

Termasuk kebebasan kita, lari dari pekerjaan agar dapat duduk beberapa menit di masjid guna memulihkan kembali vitalitas dan kekuatan, kemudian keluar dari situ dalam kondisi telah di bekali dengan paket pertolongan ilahi terbaru, lalu melaksanakan kembali pekerjaan dan kiprah selanjutnya.

Adalah termasuk kebebasan, menaati aturan Ilahi yang telah mempersiapkan bagi kita semua faktor-faktor kebahagiaan dan kesenangan di dunia dan akhirat adalah termasuk kebebasan juga, mengatakan apa yang kita mau, melakukan apa yang kita suka, menulis apa yang berkenan bagi kita dan berbisnis dalam hal yang di minati, asalkan tidak melampaui batasan-batasan yang telah di tentukan bagi kita, sebab bila kita melampauinya, berarti kita telah melanggar hak-hak orang lain dan batasan-batasan mereka dan ini termasuk hal yang di haramkan Islam dan di ancam pula oleh peraturan-peraturan manusia (Undang-undang).

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya