oleh

Asuransi Dalam Islam

Apa itu Asuransi?

Seiring dengan perkembangan zaman, muncullah asuransi untuk memberikan jaminan terhadap musibah yang menimpa seseorang, sistem asuransi adalah seseorang membayar angsuran atau premi kepada suatu perusahaan atau lembaga perbulan atau pertahun, agar ia mendapat jaminan dari perusahaan tersebut atas musibah yang di alaminya terhadap sesuatu yang di asuransikan. (Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah fil-Masa’ilil Ashriyyah min Fatawa Ulama’il Baladil Haram).

Jenis-jenis Asuransi

Asuransi terbagi menjadi dua, antara lain :

1. Asuransi Komersial (At-Ta’min At-Tijari)
Asuransi komersial adalah suatu serikat atau lembaga yang bertugas untuk mengambil pembayaran angsuran atau premi dari seseorang dengan kompensasi, jika terjadi suatu musibah pada orang tersebut, maka lembaga tersebut akan membayar kepadanya uang sebagai ganti yang besarnya sesuai dengan kesepakatan.

2. Asuransi Ta’wun (At-Ta’min At-Ta’awuni)
Asuransi ta’awun adalah kerjasama sejumlah orang yang memiliki kesamaan resiko bahaya tertentu untuk mengganti kerugian (ketika musibah) menimpa salah seorang dari mereka dengan cara mengumpulkan
sejumlah uang sebagai ganti rugi. (Al-’Uqudul Maliyah Al-Murakkabah, 289). Di dalam asuransi komersial terdapat beberapa penyimpangan, di antaranya sebagaimana terdapat dalam Kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah fil Masa’ilil Ashriyyah min Fatawa Ulama’il Baladil Haram, yaitu :

Penyimpangan Asuransi Komersial

1. Mengandung Unsur Perjudian (Maisir)
Asuransi komersial mengandung unsur perjudian karena seorang yang membayar premi dalam keadaan yakin, namun ia tidak tahu apakah ia akan mendapatkan ganti dari uang tersebut atau tidak ia tidak tahu apakah akan terjadi musibah kepadanya atau tidak. (Q.S. Al-Ma’idah : 90).

Semua transaksi yang menjadikan seseorang berada dalam lingkaran antara mendapatkan keuntungan (Al-ghunm) atau mendapat kerugian (Al-ghurm), maka ia adalah perjudian, keterangan ini seperti yang terdapat dalam Kitab Majmu’ Durus wa Fatawa Al-Haram Al-Makkiy, 3/192).

Baca juga...  Salam (Pesanan/Tentang Jual Beli)

2. Mengandung Unsur Manipulasi (Gharar)
Asuransi komersial mengandung unsur manipulasi, karena pada saat akad masing-masing dari kedua belah pihak, sebab pihak asuransi dan nasabah tidak mengetahui jumlah uang yang harus di setorkan dan jumlah klaim yang akan di terima, ini di antara bentuk manipulasi yang di larang oleh Rasulullah Saw. (H.R. Muslim Juz 3 : 1513).

3. Mengandung Unsur Riba
Asuransi komersial mengandung unsur riba fadhl, yakni riba karena adanya kelebihan dan riba nasi’ah, yaitu riba karena penundaan secara bersamaan, jika pihak asuransi membayar kepada nasabahnya atau kepada ahli warisnya uang klaim yang di sepakati dalam jumlah lebih besar dari nominal premi yang di setorkan kepada asuransi tersebut, maka itu adalah riba fadhl. Adapun jika pihak asuransi membayar klaim sebesar premi yang telah di setorkan kepada pihak asuransi namun ada penundaan, maka itu adalah riba nasi’ah. Tidak di ragukan kedua riba tersebut adalah haram menurut dalil dan ijma’ atau kesepakatan ulama’ berdasarkan pada Q.S. Al-Baqarah : 275).

4. Mengandung Unsur Memakan Harta Orang Lain
Dengan cara yang batil asuransi komersial mengandung unsur memakan harta orang lain dengan cara yang batil, karena pihak asuransi mengambil harta dari para nasabah dan menahannya serta tidak mengembalikannya kepada nasabah seperti semula, kecuali hanya sedikit dan memakan harta orang lain tanpa alasan yang syar’i adalah termasuk sesuatu yang di haramkan berdasarkan Q.S. An-Nisa’: 29. Dan asuransi bukanlah bentuk perniagaan, maka di larang mengambil keuntungan di dalamnya.

5. Mengandung Unsur Kurang Bertawakkal Kepada Allah
Asuransi komersial dapat mengurangi unsur tawakkal kepada Allah, ketika seorang nasabah tertimpa musibah, maka seolah-olah ia menggantungkan urusannya kepada pihak asuransi, bukan kepada Allah, hal ini berdasarkan keterangan yang terdapat dalam Kitab Majmu’ Durus wa Fatawa Al-Haram Al-Makkiy, 3/192. Padahal ketika seorang muslim bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya, sesuai dengan Kalam Allah yang terdapat dalam Q.S. Ath-Thalaq : 3.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru