oleh

Asuransi yang Di Perbolehkan Dalam Islam

-Muamalah-1 views

Asuransi yang di perbolehkan

Soal asuransi ini, dari keterangan-keterangan pada artikel sebelumnya, sebaiknya baca dulu : Asuransi Dalam Islam dan Perbedaan Asuransi Komersial dan Asuransi Ta’awun, maka dapat di ketahui bahwa asuransi komersial merupakan bentuk asuransi yang di larang.

Dan para ulama’ telah mengeluarkan fatwa tentang haramnya asuransi tersebut, pihak yang pertama orang yang mengeluarkan atas keharamannya adalah ulama-ulama besar Saudi Arabia lalu di ikuti beberapa perkumpulan ulama-ulama fiqih, seperti :

  • Majma’il Fiqh bi Rabithatil ‘Alamil Islami.
  • Majma’il Fiqhil Islami yang merupakan bagian dari Al-Munadzdzamul Mu’tamaratil Islami.

Sedangkan asuransi yang di perbolehkan oleh para ulama’ adalah Asuransi Ta’awun seperti yang terdapat dalam Kitab Bayan minal Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-Ilmiyah wal Ifta Haulat Ta’min At-Tijari wat Ta’min At-Ta’awuni.

Berdasarkan beberapa dalil, di antara adalah firman Allah : “Dan saling tolong-menolonglah kalian dalam hal kebaikan dan taqwa dan jangan kalian saling tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran dan bertaqwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksa-Nya.” (Q.S. Al-Ma’idah : 2).

Solusi dari Jeratan Asuransi Komersial

Jika seorang muslim telah terikat dengan sebuah akad dengan asuransi komersial, maka hendaknya ia berupaya untuk keluar dari asuransi tersebut karena telah jelas keharamannya. (Q.S. Al-Ahzab : 36).

Namun jika hal tersebut tidak memungkinkan, maka hendaknya ia hanya mengambil ganti rugi sebesar nominal premi yang telah di bayarkan kepada asuransi tersebut.

Sebagaimana Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah, yaitu : “Jika potongan gaji (seorang karyawan) di masukkan dalam investasi dan menghasilkan penambahan nominal dari total nilai gaji yang ada, maka tidak boleh (haram).

Karena termasuk memakan harta orang lain dengan cara kebatilan. (Q.S. An-Nisa’: 29), maka tidak ada hak bagi karyawan tersebut, kecuali nominal gajinya yang dipotong selama kerja. (Q.S. Al-Baqarah : 279).

Namun jika nominal tambahan itu telah di terima oleh karyawan tersebut dalam keadaan tidak mengetahui hukum sebelumnya, maka boleh di manfaatkan. (Q.S. Al-Baqarah : 275).

Jika ia mengambilnya atas dasar ilmu (yaitu mengetahui) tentang keharamannya, (maka) ia wajib bertaubat dan menshadaqahkan “tambahan” tadi.

Baca juga...  Pengertian Hajr Dalam Islam

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya