oleh

Bahaya Laksanakan Ruqyah Dengan Perasaan Sombong

Jangan Membaca Ruqyah dalam Keadaan Lalai

Firman Allah dalam Surat Al-Hajj ayat 52. “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan (nafsu syahwat), setanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang di masukkan oleh setan itu dan Allah menguatkan ayatayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Ayat di atas semakin memberi kejelasan, jangankan manusia biasa, seorang Rasul dan Nabi sekalipun, mereka tetap berpotensi terkena was-was syetan. Di dalam mereka menyampaikan tugas risalah dan nubuwah kepada umatnya, baik di saat melaksanakan dzikir, fikir dan munajat maupun pengabdian dan jihad, apabila di dalam ritual itu terdapat kesalahan yang fatal, maka syetan jin segera menyusupkan sulthon atau waswasnya ke dalam hati mereka.

Itu bisa terjadi di sebabkan terbukanya ruang kosong (melamun urusan duniawi) di dalam wilayah kesadaran manusiawi sehingga disaat-saat seperti itu kemauan nafsu syahwat (emosional) berbalik menjadi pendorong ibadah.

Hanya saja Allah memberikan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang sholeh dengan pernyataan-Nya : “Yang menghilangkan apa yang di masukkan oleh syetan itu dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya”, sehingga yang sudah di masukkan jin itu dapat dicabut kembali.

Hal itu, karena syetan jin memang sudah sangat dekat kepada manusia bahkan ada yang bertempat tinggal di dalam dadanya: “Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.” (QS.An-Nas/5).

Kepada orang yang sedang beribadah seperti itu, tipu daya syetan jin itu bukan untuk menghalanginya dari ibadah, tetapi membelokkan arah tujuannya.

Contohnya: Ketika ibadah dan mujahadah yang awalnya dapat di lakukan dengan ikhlas semata bentuk pengabdian kepada Allah, namun oleh karena amal yang utama itu tidak terbimbing secara ruhaniyah oleh guru-guru ahlinya, ketika terjadi kelengahan dalam konsentrasi sehingga saat itu emosional dominan menjadi pendorong kemauan manusia dalam beribadah, maka syetan jin dengan sendirinya terfasilitasi memasukkan was-wasnya kepada orang yang sedang ibadah itu.

Di dalam kesendirian ibadah di alam sepi, seperti orang berkholwat malam di dalam kamar pribadi misalnya, datangnya was-was syetan itu awalnya bisa jadi berbentuk suara orang berdzikir dengan berjama‘ah yang terdengar dari kejauhan.

Semakin lama suara itu semakin menusuk perasaan, keadaan tersebut sejatinya memang suasana yang di kondisikan syetan jin untuk memutuskan konsentrasi ibadah.

Oleh karena tidak banyak orang memahami rahasia di balik kejadian seperti itu, maka suara dzikir yang menusuk kesadaran itu di kira anugerah yang didatangkan Allah kepada mereka sebagai buah ibadah yang di tunggu-tunggu.

Ketika suara-suara itu semakin di ikuti perasaan, di tarik di dalam hati sambil menunggu apa yang akan terjadi, antara sadar dan tidak sadar, selanjutnya kesadaran manusia itu di tarik masuk ke dalam dimensi alam jin.

Baca juga...  Mengenal dan Membangun Diri

Itulah perangkap yang di tebarkan syetan jin kepada orang yang beribadah secara khusus itu, proses datangnya was-was syetan seperti itu jauh lebih halus dan lebih samar daripada perangkap jin yang di tebarkan di dalam proses orang di ruqyah.

Oleh karenanya, seandainya orang-orang yang sedang beribadah itu tidak mendapatkan pertolongan Allah, yaitu sistem perlindungan yang sudah di bangun untuk menangkal gangguan setan bagi hamba-hamba yang di cintai-Nya, sebagaimana yang di nyatakan di dalam ayat tersebut di atas : Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syetan itu dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Barangkali tidak ada seorang pun dari para ahli ibadah itu terhindar dari jebakan syetan jin tersebut.

Pada saat orang di ruqyah, syetan jin tidak harus bersusah payah mengkondisikan suasana seperti datangnya suara dzikir itu. Sebabnya, sejak awal, dengan konsentrasi yang di paksakan itu, manusia sendiri sejatinya yang mengkondisikan dirinya masuk ke dalam perangkap syetan jin sehingga demikian mudah orang yang di ruqyah itu kesurupan jin.

Ironisnya, orang yang sedang masuk perangkap jin itu justru malah di anggap gejala positif dari ruqyah yang sedang mereka laksanakan.

Hal itu membuktikan bahwa para pelaksana ruqyah itu sedikitpun belum berpengalaman di dalam urusan dunia jin dan jebakannya atau barangkali mereka itu adalah orang yang sudah terjebak tipu daya itu, sehingga hal yang sedemikian membahayakan itu sedikitpun tidak pernah mereka sadari.

Mereka bahkan melaksanakan ruqyah itu dengan penuh kebanggaan dan kesombongan, seakan-akan hanya mereka sendiri yang tidak melakukan perbuatan syirik dan bid‟ah di dalam melakukan ruqyah itu, sedangkan ruqyah yang di laksanakan orang lain yang caranya tidak sama dengan cara mereka dan jimat-jimat yang di kumpulkan sebelum pelaksanaan ruqyah itu mereka anggap perbuatan syirik.

Bukan wilayah syirik atau tidak syirik yang menjadi tujuan pokok penulisan ini, wilayah itu adalah wilayah hukum syari‘at yang memerlukan
kecermatan di dalam mengambil keputusan hukum.

Penulisan ini terbatas hanya urusan yang lebih sederhana dan kasat mata saja, yaitu demi keselamatan hidup anak cucu kita akibat kesalahan yang kita perbuat sendiri.

Menjaga mereka dari bahaya setan jin yang setiap saat selalu siap menerkam mangsanya, contoh lagi : was-was syetan itu tidak hanya berupa suara dzikir saja tapi juga penampakan-penampakan yang mampu memalingkan tujuan ibadah.

Godaan syetan jin jenis ini jauh lebih berbahaya daripada suara dzikir tersebut, karena yang di serang oleh penampakan itu bukan kesadaran manusia tapi hatinya.

Hal itu juga di sebabkan terjadinya kelengahan di dalam konsentrasi ibadah, terlebih lagi apabila tujuan ibadah itu ujung-ujungnya urusan duniawi, seperti ingin kaya mendadak atau menjadi orang sakti mandra guna.

Baca juga...  Tentang Orang Yang Akan Mendapatkan Warisan Ilmu Al-Qur’an

Terhadap orang seperti itu, dengan kekuatan sihirnya syetan jin mampu
memunculkan penampakan tersebut bukan melalui pandangan mata lahir maupun mata batin yang di sebut mata hati, tapi melalui indera hayaliyah manusia yang disebut “Quwwatul Hayaliyah”.

Ketika kekhusu‘an ibadah itu terputus oleh urusan duniawi yang muncul dalam ruang khayal secara manusiawi, penampakan itu kemudian datang dalam bentuk gambar yang sejatinya sudah ada di dalam hayalan manusia itu sendiri.

Oleh karenanya, apabila yang di angan-angan oleh orang yang beribadah itu ingin berjumpa dengan ruhnya Wali, maka munculnya penampakan itu
dalam ujud sosok seorang Wali.

Selanjutnya penempakan itu memperdengarkan suara di dalam dada manusia, mengaku ruh seorang Wali dan berkata : “Saat ini kamu telah menjadi orang sempurna, menjadi muridku yang utama, selanjutnya kamu harus mengikuti aku untuk meningkatkan kemuliaanmu dengan tambahan wirid dan laku yang harus kamu jalani.”

Hal tersebut kadang-kadang harus di lakukan dengan merendam diri (kum-kum) di sendang atau datang ke pantai dan gua-gua yang ada di dalam hutan. Di tempat itu terkadang mereka di tunjukkan (dalam hayalan) harta karun ghaib yang masih di selimuti bayangan.

Katanya lagi : “Saatnya nanti harta karun itu menjadi milikmu, untuk bekal perjuanganmu, untuk biaya membangun pondok pesantren dan lain-lain.”

Kejadian seperti itu seringkali di kira hal yang positif oleh orang yang ahli wirid khusus itu, padahal itu adalah tipu daya syetan yang mampu menjadikan mereka lupa diri, menjadi orang gila kehormatan dan kemuliaan.

Itulah jebakan syetan jin yang mematikan, dengan jebakan itu supaya manusia menjadi sombong dan takabbur, merasa punya linuwih, merasa lebih mulia daripada orang lain, yang kemudian arah ibadah menjadi bergeser dan berubah.

Ibadah yang asalnya mencari ridha-Nya dan syurga menjadi mencari kehormatan dan harta benda serta linuwih duniawi. Allah memberikan
sinyalemen dengan firman-Nya : “Dan syetan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam.” (Q.S. Al-Ankabut : 29/38).

Pencarian harta karun ghaib itu kemudian menjadi trend, menjadi tujuan utama dari mujahadah yang di lakukan oleh sebagian kalangan, baik dengan sendiri-sendiri maupun berjama‘ah.

Harta-harta karun ghaib tersebut kemudian di carinya dengan bersungguh-sungguh melebihi pencariannya kepada keridhaan Allah seperti tujuan awal ibadah, sehingga yang di sembah sekarang bukan Allah, tapi syetan-syetan yang telah menguasai jalan pikiran dan kesadarannya.

Allah telah memberikan peringatan dengan firman-Nya : “Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syetan? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi
kamu.” (Q.S. Yaasin : 36/60).

Baca juga...  Macam-Macam Sabar

Para pelaksana mujahadah tersebut bisa di kategorikan sebagai orang yang sombong, orang yang masuk perangkap syetan jin yang mematikan, parmeternya, manakala setelah menjalankan ibadah itu mereka melihat orang lain lebih hina daripada dirinya.

Mereka merasa mempunyai derajat lebih tinggi daripada orang-orang lain, apabila perasaan tersebut di lahirkan dengan ucapan maupun perbuatan maka orang tersebut telah menjadi orang takabbur.

Apabila jalan ibadah itu benar dan jalan yang lurus sehingga dengan ibadahnya seorang hamba dapat wusul kepada Tuhannya. Hamba tersebut bukannya merasa mulia, tetapi justru merasa lebih hina daripada orang lain.

Menjadi semakin mengenali kedho‘ifan dan kelemahan basyariyahnya, mengenali aib-aibnya, mengenali keterbatasan kemampuannya, semakin kelihatan dosa-dosanya, sehingga dapat meningkatkan semangat untuk melaksanakan taubatan nasuha.

Itulah tanda-tanda seorang hamba yang mengenali Tuhannya atau berma‘rifat kepada Allah, di hadapan siapa saja, mereka selalu merasa hina tapi orang lain melihatnya sebagai orang yang mulia, yang demikian itu karena Nur Kemuliaan Allah telah memancar melalui perbuatan dan akhlakul karimahnya.

Terlebih apabila ibadah dan dzikir itu telah membuahkan rasa syukur, hatinya gembira karena telah mendapatkan petunjuk dan bimbingan dari tuhannya, berarti jalan ibadah yang di tempuh itu sudah benar.

Yang demikian itu telah di isyaratkan Allah dengan firman-Nya : “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat-Ku).” (Q.S. Al-Baqarah : 2/152).

Dengan uraian di atas urusannya menjadi semakin jelas. Apabila pelaksanaan “ruqyah” tersebut masuk di dalam kategori pelaksanaan ibadah kepada Allah, maka seharusnya hasilnya tidak hanya menjadikan manusia asalnya tidak sadar menjadi sadar saja, akan tetapi lebih tinggi lagi dari itu, yaitu menjadikan para pelakunya mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya.

Kalau hasil “ruqyah” tersebut ternyata malah sebaliknya, bahkan menjadikan orang sadar menjadi lupa ingatan, menjadi gila walau sebentar, apalagi dengan mengotori mesjid yang suci lagi mulia dengan muntahan dan air kencing yang najis, berarti pelaksanaan ruqyah itu jelas bukan termasuk amal ibadah.

Padahal amaliyah tersebut dengan membaca ayat-ayat suci Al-Qur‘an Al-Karim, maka hal itu di khawatirkan justru merupakan perbuatan pelecehan terhadap ayat-ayat suci Al-Qur‘an Al-Karim. Kita berlindung kepada Allah dari kesalahan fatal yang tidak di sengaja.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya