oleh

Beberapa Mandi Yang Di Sunnahkan Rasulullah Saw

Mandi-mandi yang di sunnahkan oleh Rasululllah Saw adalah sebagai berikut :

1. Mandi hari Jum’at
Sesuai dengan hadits Abu Sa’id Al-Khudri Ra, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda : “Mandi hari Jum’at adalah wajib bagi setiap orang yang mimpi (baligh).” (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim). Dan hadits Aisyah Ra dia memarfu’kannya : “Mandi pada hari Jum’at wajib bagi setiap orang yang mimpi (baligh) dan bersiwak dan memakai minyak wangi jika dia mendapatkannya.” 
(H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim), namun ada khilaf apakah hukum mandi Jum’at itu wajib atau sunnah.

2. Mandi untuk berihram.
Sesuai dengan hadits Zaid bin Tsabit Ra, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak berpakaian untuk berihlal dan beliau mandi. (H.R. At-Tirmidzi).
 

3. Mandi ketika masuk Makkah.
Karena Ibnu Umar Radhiyallahu‘anhu tidaklah dia masuk Makkah
kecuali dia bermalam di Dzi Tuwa hingga subuh dan dia mandi dan dia menyebutkan bahwasanya hal itu (apa yang telah di lakukannya) dari Nabi Shallallahu‘alaihi wa Sallam.
(H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

4. Mandi setiap kali akan bersenggama.
Sesuai dengan hadits Abu Rafi’ Radhiyallahu‘anhu : Bahwasanya Nabi Shallallahu‘alaihi wa Sallam mengelilingi istri-istrinya pada suatu hari dan dia mandi di sisi istri yang ini dan di sisi istri yang ini. Berkata Abu Rafi’ Radhiyallahu‘anhu : Lalu aku berkata : ”Ya Rasulullah, tidakkah engkau menjadikannya. 
(H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim) sekali mandi saja?”, Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa Sallam berkata : “Ini lebih bersih dan lebih baik.”  (H.R. Abu Dawud, An-Nasa’i dan At-tabrani). Untuk masalah mengulangi jimak, maka ada tiga tingkatan, yaitu :

  • Dia mandi sebelum dia mengulanginya, ini adalah tingkatan yang paling sempurna.
  • Dia hanya berwudlu’ sebelum dia mengulangi jima’nya, tingkatan ini adalah di bawah tingkatan yang pertama.
  • Dia mengulangi jima’ tanpa mandi dan tanpa wudlu’, ini adalah tingkatan yang peling rendah, namun hal ini boleh.

5. Mandi setelah memandikan mayat.
Sesuai dengan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, dia memarfu’kannya : ”Barangsiapa yang memandikan mayat maka mandilah.” dan sesuai dengan hadits Aisyah Ra, dia berkata : ”Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa Sallam mandi karena empat perkara : karena janabah, karena hari jum’at, karena berbekam dan karena memandikan mayat.” (H.R. Abu Dawud). Dan yang menunjukan bahwa hal ini tidaklah wajib adalah hadits Asma’ binti ‘Umais (istri Abu Bakar Radhiyallahu‘anhu), dia memandikan Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu ketika Abu Bakr Radhiyallahu‘anhu wafat, lalu dia keluar dan bertanya kepada para muhajirin yang bertemu dengannya. Lalu dia berkata : ”Sesungguhnya saya berpuasa dan hari ini adalah hari yang dingin sekali, apakah aku harus mandi (setelah memandikan Abu Bakr Radhiyallahu‘anhu)?, lalu mereka berkata : ”Tidak.” Syaikh Bin Baz menjelaskan bahwasanya hal ini menunjukan bahwasanya mandi karena memandikan mayat adalah hal yang ma’lum (yang diketahui) oleh para shahabat, tetapi hal ini adalah sunnah.
 

6. Mandi karena mengubur orang musyrik.
Sesuai hadits Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu‘anhu, bahwasanya beliau mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata : ”Sesungguhnya Abu Thalib telah mati”, lalu beliau berkata : ”Pergilah engkau lalu kuburkanlah dia!”. Ali Radhiyallahu‘anhu berkata : ”Sesungguhnya dia mati dalam keadaan musyrik”. Beliau berkata : ”Pergilah dan kuburlah dia”. (Ali Radhiyallahu‘anhu berkata) : ”Ketika aku telah menguburnya aku kembali ke Nabi Shallallahu‘alaihi wa Sallam, lalu beliau berkata kepadaku : ”Mandilah.”
 

7. Mandi bagi orang yang beristihadlah ketika akan setiap akan shalat atau ketika menggabungkan dua shalat.
Sesuai dengan hadits ‘Aisyah bahwasanya Ummu Habibah mengalami istihadlah di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahnya untuk mandi setiap shalat dan hadits Hamnah binti Jahsin bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata kepadanya : ”Aku akan memerintahkan engkau dengan dua perkara, mana diantara keduanya yang engkau laksanakan maka telah mencukupi engkau, kalau engkau mampu untuk melaksanakan keduanya maka engkaulah yang lebih mengetahui.” Dan dalam riwayat yang lain Nabi Shallallahu‘alaihi wa Sallam berkata kepadanya : ”Dan jika engkau mampu untuk mengakhirkan shalat Dzuhur dan engkau menyegerakan shalat Ashar lalu engkau mandi dan engkau menggabungkan antara dua shalat Dzuhur dan Ashar dan engkau mengakhirkan Magrib dan menyegerakan Isya’ lalu engkau mandi dan engkau menggabungkan dua shalat, maka lakukanlah! Dan engkau karena mandi bersama shalat subuh maka lakukanlah dan berpuasalah jika engkau mampu untuk itu.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata : ”Ini adalah perkara dari dua perkara yang paling aku sukai.” (H.R. Abu Gawud).
 

8. Mandi setelah pingsan.
Sesuai dengan hadits ‘Aisyah, beliau berkata : Nabi Shallallahu‘alaihi wa Sallam dalam keadaan sakit yang berat, lalu berkata : ”Apakah manusia telah shalat?”, kami berkata : ”Belum, mereka sedang menunggu engkau.” beliau berkata : “Letakkan untukku air di mikhdlab.”. Aisyah berkata : Maka kami lakukan (permintaan beliau untuk mengambil air), lalu beliau mandi, lalu beliau bangkit, maka beliau pingsan. Kemudian beliau sadar lalu berkata : “Apakah manusia telah shalat?”, kami berkata : ”Belum, mereka sedang menunggu engkau ya Rasulullah”. Beliau berkata : ”Letakkan untukku air di mikhdlab” maka dia duduk dan mandi…..” (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim). Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa Sallam melakukan hal itu tiga kali dan dia dalam keadaan berat dengan sakitnya, maka hal ini menunjukan akan sunnahnya mandi karena pingsan.
 

9. Mandi karena berbekam.
Sesuai dengan hadits Aisyah Ra, berkata : Adalah Rasulullah mandi karena empat hal, karena janabah, karena hari jum’at, karena berbekam dan karena memandikan mayat. (H.R. Abu Dawud).
 

10. Mandi ketika masuk Islam.
 

11. Mandi ketika dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha).
Berkata para ulama tidak ada hadits yang shahih dari Nabi Shallallahu‘alaihi wa Sallam dalam masalah ini, berkata Syaikh Al-Albani : ”Dan yang paling baik yang di jadikan hujjah akan sunnahnya mandi ketika dua hari raya adalah apa yang di riwayatkan oleh Al-Baihaqi dari jalan As-Syafi’i dari Zadan, dia berkata : ”Seorang laki-laki bertanya kepada Ali Radhiyallahu‘anhu tentang mandi, maka Ali Radhiyallahu‘anhu berkata : ”Mandilah setiap hari jika engkau kehendaki!”, lalu laki-laki itu berkata : ”Bukan, (tapi) mandi yang benar-benar mandi”, Ali Radhiyallahu‘anhu berkata : ”(Mandi) pada hari Jum’at, pada hari ‘Arafah, pada hari An-Nahr (Idlul Adlha’) dan pada hari ‘Idul Fitri.” Dan dari Sa’id ibnil Musayyib, bahwasanya beliau berkata : “Sunnah hari raya ‘Idul Fitri ada tiga, berjalan ke musholla (tanah lapang), makan sebelum keluar (ke mushalla) dan mandi.”. Dan telah tsabit bahwasanya Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu‘anhu mandi pada hari ‘Idul Fitri sebelum beliau berangkat ke mushalla.
 

12. Mandi ketika hari ‘Arafah.
Maksudnya hari ‘Arafah ketika melaksanakan ibadah haji dan ini salah satu rukunnya.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya