Dalam rangka mensikapi dan mengantisipasi ancaman tersebut dan secara khusus di hubungkan dengan pelaksanaan ruqyah, maka timbul beberapa pertanyaan, yaitu :

1. Mengapa justru orang yang rajin beribadah kepada Allah yang mendapatkan perhatian serius dari syetan jin dalam melancarkan tipu dayanya sehingga yang paling sering kesurupan jin juga mereka, bukan orang-orang yang sedang berbuat maksiat …?

2. Bukankah yang di baca dalam pelaksanaan ruqyah itu adalah ayat-ayat yang telah di jaga kesuciannya oleh Allah dengan suatu pernyataan firman-Nya : “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Q.S. Al-Hijr : 15/9).

3. Mengapa para pelaku “ruqyah” tersebut dapat kesurupan syetan jin hingga hilang ingatan….?

Sekarang kita bahas dan kupas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Pertanyaan pertama: Mengapa orang yang beribadah kepada Allah yang mendapatkan perhatian serius dari syetan jin dalam rangka melancarkan tipu dayanya sehingga yang paling sering kesurupan jin justru mereka, bukan orang-orang yang sedang berbuat maksiat …?

Berikut kita bahas atau jawab :

Karena orang yang sedang beribadah adalah orang-orang yang sudah menempuh jalan yang lurus atau jalan menuju syurga, maka merekalah musuh-musuh utama syetan jin.

Caranya, setan jin tidak menghalangi orang yang sedang ibadah meninggalkan ibadahnya, karena hal tersebut pekerjaan yang sangat berat bagi syetan jin serta banyak menguras energi, tetapi setan jin melakukannya dengan tipu daya supaya manusia dengan kemauan sendiri manusia meninggalkan ibadahnya.

Tujuan ibadah itulah yang menjadi sasaran utama, supaya tujuan itu berbelok arah, ibadah yang di lakukan itu tidak menghantarkan manusia menuju syurga tetapi menuju jalan kehancuran manusia, baik di dunia maupun di akhirat nanti dengan siksa neraka.

Konkritnya, tanpa terasa dengan ibadah itu manusia di giring syetan hanya untuk memperturutkan nafsu syahwat belaka, sehingga dengan ibadah itu sesungguhnya manusia secara hakiki telah berbuat maksiat kepada Allah.

Ibadah itu di laksanakan bukan sebagai perwujudan rasa syukur atas kenikmatan yang sudah di miliki, tetapi malah di jadikan sarana untuk meminta dan menuntut harapan yang di ingini nafsu sahwatnya.

Itulah tugas utama syetan jin selama hidupnya di dunia, mereka sebagai tentara-tentara Iblis yang setia, sangat terlatih di dalam menjalankan tugasnya itu. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan syetan yang terkutuk.

Hikmahnya (karena apa saja yang di ciptakan Allah untuk hamba-Nya yang beriman pasti akan membawa hikmah yang baik) : Secara qudrati (akibat kesalahan yang di sengaja dengan cara membangkang) Iblis dan syetan tercipta menjadi bagian yang jelek (negatif) bagi kehidupan.

Disisi lain, hamba-hamba Allah yang shaleh menjadi bagian yang baik (positif), secara sunnah memang alam ini di ciptakan secara berpasang-pasangan. Yang demikian itu, supaya di dalamnya ada keseimbangan dalam kehidupan serta terciptanya sistem seleksi secara alami.

Hal itu bertujuan agar setiap kebaikan dan kebajikan dapat teruji dan yang sudah baik akan tampak tingkat kualitas kebaikannya serta mendapat kesempatan untuk meningkatkan derajat itu di sisi Allah Rabbul ‘Alamin.

Oleh sebab itu, seseorang yang melaksanakan amal kebajikan dan ibadah hendaklah sangat berhati-hati, mereka harus mengantisipasi dorongan hawa nafsu serta segala taktik dan tipu daya syetan yang mengancam sejak dini, supaya ibadah itu tidak di jadikan sarana oleh syetan untuk menghancurkan manusia melalui hawa nafsunya sendiri.

Sungguh jalan-jalan ibadah itulah yang menjadi perhatian utama setan jin sedangkan hawa nafsu manusia adalah kendaraan syetan yang paling utama untuk mempardaya manusia karena : “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang di beri rahmat oleh Tuhanku.” (Q.S. Yusuf Ayat 53).

Dalam rangka membelokkan dan mengaburkan arah tujuan ibadah, jalan ibadah itu di hadang dan di datangi syetan jin, mereka datang dari empat penjuru : “Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka.” (Q.S. 7/16-17).

Yang demikian itu, supaya ibadah itu menjadi bukan ibadah lagi, menjadi jauh dari norma-norma ibadah yang hakiki. Ibadah itu akhirnya hanya menjadi alat bantu untuk berbuat riya‘ dan ajang perbuatan pamer bahkan berbangga-banggaan sesama manusia.

Tujuan ibadah itu supaya tidak sematamata mencari ridha Allah dan syurga, tetapi mencari kesaktian dan popularitas duniawi. Dengan ibadah itu mereka jadikan sekaligus sebagai ladang penghasilan dan kesempatan berdagang.

Menjadi sarana untuk mengatur strategi politik dan kepentingan organisasi, supaya ibadah itu tidak menjadi tuntunan tetapi menjadi tontonan yang laku di perjualbelikan di televisi.

Bukan persoalan tersebut yang menjadi tujuan pokok penulisan, tetapi meluruskan pelaksanaan “ruqyah” sedang marak itu, supaya yang di katakan pengobatan islami itu tidak mengakibatkan banyak orang menjadi korban.

Supaya yang mereka katakan ruqyah syar‟iyah itu tidak menjadi penyebab timbulnya berbagai penyakit dan malapetaka yang menimpa banyak orang, baik jasmani maupun ruhani, ketika pelaksanaan ibadah (yang di tekuni secara khusus) tanpa mendapatkan bimbingan yang benar dari seorang guru ahlinya, kerapkali ibadah-ibadah khusus itu justru menjadi sebab orang menjadi gila.

Kalau bukan gila dalam arti hilang ingatan dan kesadaran sebagaimana yang telah di contohkan di dalam kejadian-kejadian di atas, ada lagi gila yang lebih bahaya dari itu, yaitu gila dalam arti lupa diri atau yang disebut gila kemuliaan dan kehormatan.

Gila pangkat dan gila dunia bahkan gila di puji orang, berangkat dari situ, supaya syetan jin dapat dengan mudah meracuni pola fikir serta merusak
aqidah orang beriman, mencetak manusia menjadi sombong dan takabbur sehingga mereka merasa benar sendiri.

Merasa dirinya yang paling benar dan paling mulia, hanya amalannya yang
paling benar menurut syari‘at agama dan yang paling bersih dan murni dari perbuatan syirik dan bid‘ah, tidak seperti orang berharap mendapatkan perlindungan kepada jimat-jimat dan orang-orang datang ke kuburan-kuburan untuk minta berkah kepada kuburan yang jelas-jelas perbuatan syirik.

Makanya, sasaran pertama dan utama syetan jin dalam melancarkan serangan kepada manusia setiap kali ada kesempatan dan peluang yang terbuka adalah kesadaran manusia itu, yaitu merusak manusia melalui kesadarannya, melalui pilihan hidupnya sendiri.

Sebabnya, “Dan bahwasanya manusia tiada memperoleh selain apa yang telah di usahakannya.” (Q.S. An-Najm/39, terlebih lagi jika syetan jin itu dapat menguasai manusia secara total melalui wilayah kesadaran tersebut.

Oleh karena itu, ketika orang-orang yang sedang takut dan khawatir itu di ”ruqyah” secara massal, gejala yang tampak adalah kesadaran manusia itu menjadi hilang. Orang yang asalnya sadar dan sehat wal afiat menjadi tidak sadar dan kesurupan syetan jin sampai muntah-muntah dan kencing di masjid.

Dengan alasan itu penulis menyimpulkan bahwa perbuatan itu adalah identik dengan perbuatan syetan jin, tanda-tanda yang kasat mata saja, akibat di ruqyah itu orang menjadi kerasukan syetan jin.

Dengan tanda-tanda tersebut merupakan gejala paling nyata bahwa setan jin telah bersyirik ria dengan manusia melalui perbuatan tersebut, syetan jin sudah menjadi satu dengan mereka baik lahir maupun batinnya dengan tujuan merusak manusia, baik secara lahir maupun batin pula melalui wilayah kesadarannya.

Pertanyaan kedua : Bukankah yang di baca dalam pelaksanaan “ruqyah” itu adalah ayat-ayat yang telah di jaga kesuciannya oleh Allah dengan suatu pernyataan firman-Nya : “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Q.S. Al-Hijr : 15/9).

Jawabannya mari kita bahas :

Al-Qur‘an Al-Karim memang di jaga oleh Allah, penjagaan itu di lakukan sepanjang kehidupan ini masih ada baik secara lahir maupun batin, secara lahir oleh hamba-hamba Allah yang shaleh yang di dalam dadanya telah menjadi tempat simpanan atau perbendaharaan Al-Qur‘an yang terjaga, yaitu para hafidz dan hafidzah yang mulia yang selalu dengan tekun menjaga hafalannya dengan ikhlas semata-mata melaksanakan bentuk pengabdian yang hakiki kepada Allah.

Secara bathin melalui sistem penjagaan yang di rahasiakan-Nya, bukan hanya Al-Qur‘an yang harus di jaga oleh pembacanya, tetapi orang-orang yang membaca itu, sungguh seharusnya mereka menjaga diri sendiri sejak dini dari niat yang salah dan dari hal-hal yang negatif.

Mereka harus menjaga diri dari dorongan nafsu syahwat dan hawa nafsu syaithaniyah yang dapat menjerumuskan manusia dalam perbuatan jelek yang dapat menjadi penyebab kehancurannya sendiri.

Manakala yang mendasari bacaan Al-Qur‘an itu hanya dorongan nafsu syahwat saja atau bahkan dorongan hawa nafsu syaithaniyah, maka penggunaan Al-Qur‘an itu tidak hanya dapat membantu makhluk jin untuk menguasai kesadaran manusia.

Perbuatan tersebut dapat menghancurkan langit dan bumi serta isinya, Allah telah menegaskan dengan firman-Nya : “Andaikata kebenaran (Al-Qur‟an) itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (Q.S. Al-Mu’minun : 23/71).

Oleh sebab itu, hilangnya kesadaran manusia akibat di ruqyah itu barangkali hanyalah sebab awal supaya melalui bekas luka yang ada di wilayah kesadaran tersebut setan jin dapat meremot atau memancarkan perintah rahasia mereka kepada manusia dengan sesuka hati.

Dengan perintah jarak jauh itu supaya manusia terlena di dalam kehidupan duniawi, menjadikan manusia lupa diri, hidupnya hanya untuk menumpuk harta kekayaan meski dengan menghalalkan segala cara.

Menjarah sana sini dengan menyalahgunakan kepercayaan dan jabatan, ingin menjadi yang paling unggul sehingga ibadah dijadikan sarana dan alat bantu untuk memperturutkan hawa nafsu, jalan kehidupan menjadi carut marut.

Orang tidak dapat membedakan mana yang tontonan dan mana yang tuntunan, akhirnya, manusia tinggal menunggu kepastiannya, ketika peringatan dan musibah tidak dihiraukan, kehancuran total bisa jadi menjadi pilihan dan kita berlindung dari tipudaya syetan yang terkutuk.

Pertanyaan ketiga : Mengapa para pelaku atau orang yang sedang di ruqyah dapat hilang ingatan bahkan menjadi lebih seram daripada para pemain kuda lumping yang sedang kesurupan….?

Jawaban nya adalah : karena aktifitas kehidupan makhluk jin itu sudah sangat dekat dengan aktifitas kehidupan manusia dalam segala hal terutama di dalam urusan harta benda dan anakanak.

Mereka selalu berusaha atau bersekutu dengan perbuatan manusia, bahkan jalan darah manusia menjadi jalan-jalan mereka menuju hati manusia, lubang-lubang anggota tubuh manusia dijadikan tempat istirahat dan tempat tidur mereka.

Mereka bermalam di tempat-tempat itu di saat manusia yang menjadi tanggungan dan target operasinya sedang tidur. Rasulullah Saw mengabarkan hal itu dengan sabdanya :

حَّٔؼٌُ مأَبٔل مػَُّؼَِّةَ مرَضٔلَماظؾّفُ مسَـِفُ م: مأَنٖماظـٖؾٔلٖمصَؾّك ماظؾّفُ مسَؾَقِفٔم
وَدَؾّؿَمضَولَمإِذَامادِؿَقِؼَظَمأَحَُّطُؿِمعٔـِمعَـَوعٔفٔمصَؾْقَلِؿَـِـِّٔمثَؾَوثَمعَّٖاتٕمصَنِنٖم
اظشٖقِطَونَمؼَؾٔقًُمسَؾَكمخَقَوذٔقؿٔفٔم*مم م

“Di riwayatkan dari Abu Hurairah Ra, ia berkata : Nabi Saw telah bersabda : Apabila seseorang dari kamu bangun dari tidur, maka hendaklah dia memasukkan air ke dalam hidung dan menghembusnya keluar sebanyak tiga kali, karena sesungguhnya syetan bermalam di dalam lubang hidungnya di saat manusia tidur.”

Dalam riwayat lain Rasulullah Saw bersabda :

حَّٔؼٌُمصَػٔقٖيَمبٔـًِٔمحُقَلّمرَضٔلَماظؾّفُمسَـِفَومضَوظًَِم:مطَونَماظـٖؾٔلٗمصَؾّكم
اظؾّفُمسَؾَقِفٔموَدَؾّؿَمعُعِؿَؽٔػًومصَلَتَقِؿُفُمأَزُورُهُمظَقِؾًومصَقَّٖثِؿُفُمثُؿٖمضُؿًُِمظٔلَغِؼَؾٔىَم
صَؼَومَ معَعٔلَ مظٔقَؼْؾٔؾَـٔل موَطَونَ معَلِؽَـُفَو مصٔل مدَارِ مأُدَوعَيَ مابِـِ مزَؼِّٕ مصَؿَّٖم
رَجُؾَونِ معٔـَ ماظْلَغِصَورِ مصَؾَؿٖو مرَأَؼَو ماظـٖؾٔلٖ مصَؾّك ماظؾّفُمسَؾَقِفٔموَدَؾّؿَ مأَدَِّسَوم
صَؼَولَ ماظـٖؾٔلٗ مصَؾّك ماظؾّفُ مسَؾَقِفٔموَدَؾّؿَ مسَؾَك مرِدِؾٔؽُؿَو مإِغٖفَو مصَػٔقٖيُ مبٔـًُِم
حُقَلّمصَؼَوظَومدُؾِقَونَماظؾّفٔمؼَومرَدُقلَماظؾّفٔمضَولَمإِنٖماظشٖقِطَونَمؼَفِِّيمعٔـَم
اظْنِغِلَونِمعَفَِّىماظّٖمِموَإِغٚلمخَشٔقًُمأَنِمؼَؼّْٔفَمصٔلمضُؾُقبٔؽُؿَومذَّ٘امأَوِم
ضَولَمذَقِؽّوم*مم م

“Di riwayatkan dari Sofiah binti Huyai Ra, ia berkata : Pada suatu malam ketika Nabi Saw sedang beriktikaf aku datang menghampiri baginda, setelah puas berbincang-bincang dengan baginda, akupun berdiri untuk pulang.

Rasulullah Saw ikut berdiri untuk mengantarku, tempat tinggal Sofiah adalah di rumah Usamah bin Zaid, tiba-tiba datang dua orang Ansar, ketika mereka melihat Nabi Saw mereka mempercepatkan langkahnya.

Lalu Nabi Saw bersabda : Perlahankanlah langkahmu, sesungguhnya ini adalah Sofiah binti Huyai, kedua orang ansar itu berkata Maha suci Allah, wahai Rasulullah. Lalu Rasulullah Saw bersabda : “Sesungguhnya syetan itu berjalan pada aliran darah manusia, sebenarnya aku khawatir ada tuduhan buruk atau yang tidak baik dalam hati kamu berdua.”

Itulah sekelompok syetan jin yang mendapat tugas dari pimpinan mereka untuk menjaga manusia, dengan kebebasan mereka keluar masuk di dalam tubuh manusia itu, kapan saja mereka siap membidik manusia yang sedang lengah dengan tipu daya maupun jeratnya.

Ketika manusia beribadah dengan hati lalai karena ibadah itu hanya di dasari dorongan emosional dan rasional belaka, mereka bertawajjuh atau menghadirkan syetan jin sebagaimana contoh pelaksanaan “ruqyah” yang sedang marak akhir-akhir ini.

Terlebih ketika tujuan ibadah itu telah terkontaminasi dengan kepentingan duniawi, bagaikan mendapatkan fasilitas yang luas, jin penjaga manusia itu segera berebut menguasai kesadaran manusia untuk mendapat pujian dari pimpinan mereka, padahal di dalam kesempatan yang lain, perbuatan itu bagi mereka sulit untuk di kerjakan.

Dalam pelaksanaan ruqyah, jin itu lebih terfasilitasi untuk melaksanakannya, sebagai bukti, jin sedemikian mudah menguasai manusia melalui kesadarannya seketika itu juga.

Saat para pembaca mantra atau jampi-jampi itu sedang membacakan ayat-ayat suci Al-Qur‘an Al-Karim dengan irama yang syahdu, jin penjaga manusia itu segera menyergap para pendengar yang tidak mengerti dan lalai itu.

Mereka menjadikan mangsanya bergelimpangan bagaikan orang kena sihir dan hipnotis, selanjutnya orang-orang yang sedang mencari kesembuhan itu malah tidak sadarkan diri, bahkan sebagian mereka ada yang terkencing-kencing di dalam masjid yang selama ini mereka sucikan.

Artinya, di samping para pelaku “ruqyah” itu membuat sakit para pengikutnya sendiri, mereka juga membuat najis tempat yang selama ini mereka hormati dengan air kencingnya sendiri.

Hal itu menunjukkan, bahwa ancaman Iblis di hadapan Allah sudah di buktikan, pertempuran untuk sementara telah mereka menangkan.

Bacaan Al-Qur‘an yang di baca para Ustadz dengan irama syahdu di hadapan orang yang di ruqyah itu akhirnya malah berfungsi sama seperti bacaan mantra yang di baca para pimpinan kuda lumping di depan rombongan yang mau beraksi.

Dalam arti, bacaan itu sama-sama menjadi penyebab orang kesurupan jin, bedanya, para pemain kuda lumping itu sudah terlatih dalam permainannya sehingga dampak negatif dari perbuatan tersebut tidak sampai berakibat fatal, sedangkan orang yang meruqyah dan yang di ruqyah, mereka sama-sama tidak mengerti bahwa perbuatan yang mereka lakukan itu dapat membahayakan jiwanya.

Dalam ketidak mengertian itu, apabila ternyata perbuatan tersebut menimbulkan dampak negatif, maka dampak negatif pelaksanaan ruqyah itu akan lebih membahayakan para pelakunya daripada dampak negatif pelaksanaan kuda lumping.

اظشٖقِطَونَمؼَؾٔقًُمسَؾَكمخَقَوذٔقؿٔفٔم*مم م

“Di riwayatkan dari Abu Hurairah Ra, ia berkata : Nabi Saw telah bersabda : “Apabila seseorang dari kamu bangun dari tidur, maka hendaklah dia memasukkan air ke dalam hidung dan menghembusnya keluar sebanyak tiga kali, karena sesungguhnya setan bermalam di dalam lubang hidungnya di saat manusia tidur.”

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: