oleh

Beberapa Tingkatan Taqwa

-Tasawuf-0 views

Tingkatan Taqwa

1. Taqwa umum. Taqwa umum adalah takut kepada Allah dengan menjauhi perbuatan syrik atau menyekutukan Allah.

2. Taqwa khusus. Taqwa khusus adalah takut kepada Allah dengan menahan dan mengendalikan nafsu syahwat dalam segala urusan kehidupan.

3. Taqwa khususnya khusus. Taqwa khususnya khusus adalah taqwanya para auliya.

Mereka (para auliya) meninggalkan iradah (kemauan) di dalam menghadapi segala sesuatu dan menyerahkannya serta menunggu apa-apa yang dikehendaki (komando) Allah untuk dirinya, di samping yang demikian itu, mereka tidak mengosongkan diri dari wirid-wirid atau ibadah tambahan, mereka tidak bergantung kepada sebab-sebab dan akibat.

Taqwa ini dalam ajaran tasawuf merupakan tingkatan spiritualitas yang bertujuan untuk mencapai tauhid murni (shafa’ al-tauhid) dalam arti yang komprehensif. Tingkatan ini tidak akan tercapai kecuali seorang salik telah melintasi berbagai tingkatan spiritualitas yang disimbolisasikan dengan istilah Maqamat dan Ahwal yang memuat ajaran dan pengalaman tasawuf, di mana keduanya tidak dapat dipisahkan dengan proses tauhid.

Sebab kedua ajaran tersebut merupakan internalisasi dari persaksian la ilaha Illa Allah yang menuntut dua hal bagi para sufi, Nafi atau pentauhidan al-maqshud wa al-mahbub wa alma’bud hanya kepada Allah dan Itsbat dengan menginternalisasikan Allah sebagai satu-satunya al-maqshud wa almahbub wa alma’bud.

Tidak condong kepada selain Allah, serta tidak tetap kepada satu hal keadaan (ahwal) atau maqam, di samping itu juga mereka tetap melaksanakan segala perintah Allah dari urusan-urusan yang diwajibkan menurut syari‘at.

Taqwanya para Ambiya’, di mana mereka tidak melewati hal gaib di dalam hal yang gaib, semuanya dari Allah dan untuk Allah, Allah yang memerintah dan melarang, Allah yang mencocokkan dan mengajar, Allah yang berkata-kata dan berbisik-bisik, Allah yang menguatkan dan yang memberi petunjuk, Allah yang menampakkan dan yang memperlihatkan.

Baca juga...  Beberapa Tingkatan Taqwa

Secara teoritik, Maqamat dan ahwal dapat dibedakan, bahwa Maqamat itu merupakan terminal spiritualitas yang bisa dicapai melalui diusahakan, sedangkan ahwal adalah sinyal-sinyal Ilahiah yang diterima sang sufi dari Allah, meski ahwal adalah hak istimewa (previllege) Allah yang diterima sang sufi namun itu tidak bisa lepas dari usahanya dalam meniti maqamat ibarat cermin yang memantulkan cahaya.

Maqamat secara general dapat diklasifikasikan menjadi dua; pertama, bersifat negasi (La/Nafi) sebagai internalisasi La Ilaha, seperti taubat, wara’ dan zuhud, kedua bersifat afermasi (itsbat) sebagai proses internalisasi pengakuan adanya satu tuhan, semisal qanaah, ridla, taslim, tafwidl dan sebagainya.

Dalam tingkat kesadaran yang demikian seorang sufi telah melintasi tingkatan spiritualitas tertentu menuju tingkatan spiritualitas yang lebih tinggi, hingga dikatakan Al-Ghazali, seorang yang demikian ini telah melintas dari wilayah akal menuju wilayah suprarasional (thur wara’ al-aql).

Dari segi fungsinya, Maqamat yang bersifat negasi bertujuan membina al-nafs al-ammarah bi al-su’ untuk menjadi al-nafs al-muthmainnah, sedangkan Maqamat yang bersifat afermasi bertujuan meningkatkan kualitas spiritual (aspek Lahut al_Hallaj) untuk menerima iluminasi Allah.

Masuknya ilmu atau pemahaman di dalam bilik akal ketika terjadi pengosongan, sedikit-pun tidak masuk dari manusia, akan tetapi semuanya masuk dari malaikat, kecuali hal-hal yang lahir dari urusan-urusan yang terang dan umum berkaitan dengan kebanyakan urusan orang-orang beriman, dalam hal ini mereka sama dengan manusia lain, akan tetapi selain itu mereka tidak sama.

Secara kongkrit gambaran tentang takwanya para Anbiya tersebut tidak mungkin dapat dibicarakan lewat tulisan, namun hanya bersifat membantu, karena bahasa kata tak mampu menampung luasnya pemahaman hati. Allah berfirman terhadap hal keadaan mereka: “Dan tidaklah yang diucapkan itu menuruti hawa nafsunya, ucapan itu tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya, yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas dan menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi, kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi, lalu ia menyampaikan kepada hamba-Nya, apa yang telah Allah wahyukan, hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.” (QS. An-Najm : 53/3-
11).

Baca juga...  Pengertian Ilmu Laduni

Apa-apa yang diucapkan dan diperbuat oleh para Nabi dari bentuk pelaksanaan ketaqwaan mereka kepada Tuhannya, sedikitpun itu tidak ada yang terbit dari kemauan hawa nafsu mereka, melainkan wahyu Allah yang telah diturunkan-Nya melalui malaikat Jibril As langsung di dalam hati mereka.

Wahyu tersebut tidak masuk di dalam akal dan fikir, lebih-lebih kepada nafsu syahwat, oleh karena hati tidak bohong terhadap apa yang dilihat, maka hanya dengan wahyu yang dilihat hati itu, mereka diam dan bergerak.

Allah telah menyatakan demikian itu dengan firman-Nya: Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku.” (QS. Al-A‘raaf : 203). Apa yang disebutkan oleh para Ulama‘ ahlinya tentang hakikat taqwa tersebut di atas, sesungguhnya itu adalah karakter yang menjiwai segala perilaku hidup manusia, dengan karakter itu manusia akan mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Tuhannya.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru