Dan di katakan bahwa takwa itu ada beberapa tingkatan, yaitu :
1. Taqwa Umum, yaitu taqwa dengan meninggalkan perbuatan syirik kepada Allah.
2. Taqwa khusus, yaitu taqwa dengan menahan dan mengendalikan hawa nafsu dalam segala perbuatan dan urusan.
3. Taqwa khususnya khusus dari taqwanya para Aulia, yaitu taqwa dengan meninggalkan iradah hadits (kemauan basyariah) dalam menghadapi segala sesuatu dan menyerahkannya kepada iradah azaliah serta menunggu apa-apa yang di kehendaki (komando) Allah Ta‘ala terhadap apa-apa yang akan dan harus di lakukan, dengan sikap seperti itu, para wali itu juga tidak mengosongkan wirid-wirid atau ibadah tambahan, mereka tidak bergantung dengan sebab-sebab, tidak condong kepada selain Allah dan tidak tetap di dalam satu hal keadaan atau maqam.

Di samping itu, para Wali itu juga tetap melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya sebagaimana yang di wajibkan menurut syari‘at secara umum.

Yang di maksud Wali adalah seorang hamba yang di cintai Allah Ta‘ala, sehingga ia mendapatkan penjagaan dari-Nya,penjagaan itu yang pertama adalah penjagaan dari pengakuan diri pribadi, baik nafsu syahwat maupun kemampuan basyariah, sehingga apapun yang akan dan sedang di kerjakan oleh para Wali itu benar-benar bersih dari pengakuan basyariyah secara manusiawi.

Oleh karena itu, maka para Wali itu mampu mengendalikan diri sendiri, bahkan mampu membatasi gerak iradah haditsnya untuk di leburkan menjadi satu dengan iradah Allah yang azaliah, di samping itu, sebagai manusia biasa mereka harus tetap tunduk untuk menjalani segala perintah dan menjauhi segala larangan Allah Ta‘ala, bahkan mereka sangat takut kepada Tuhannya sehingga sedikitpun tidak berani memutuskan dan berbuat sesuatu kecuali mereka benar-benar telah yakin bahwa apa yang akan di putuskan dan yang akan di kerjakan tersebut tidak bertentangan dengan apa yang sudah di tetapkan Allah Ta‘ala.

Di dalam kaitan yang demikian itu, dengan sorot mata hati yang cemerlang, kadang-kadang mereka di perlihatkan rahasia di balik pekerjaan yang akan di kerjakan, yaitu apabila pekerjaan itu harus di kerjakan juga, pekerjaan itu akan menimbulkan fitnah.

Namun, meskipun demikian sesuai yang di yakini hatinya pekerjaan itu adalah satu-satunya pilihan yang harus di kerjakan, maka pekerjaan itu tetap saja di kerjakan, sebab mereka juga tahu bahwa di balik fitnah itu ketika akibat fitnah itu telah berlalu—mutiara hikmah yang utama dapat di petik di baliknya.

Itulah bagian tarbiyah azaliah yang harus di jalani dengan penuh konsekwensi, apabila di hindari, berarti mereka menghindari kesempatan yang di bentangkan bagi peningkatan derajatnya di sisi Allah Ta‘ala.

Adalah kekuatan mistikisme (suluk) secara islami yang di hasilkan oleh meditasi secara islami pula, sehingga seorang hamba mampu menyatukan iradahnya yang hadits dengan iradah Allah yang azaliah. Itu merupakan hasil pengembaraan ruhaniyah yang prima, perpaduan antara dzikir dan fikir secara komulatif yang di terapkan dalam bentuk pengabdian yang hakiki, baik secara vertikal maupun horizontal, sehingga seorang manusia biasa mendapatkan kemampuan untuk tembus pandang.

Mata hatinya mampu menembus alam malakut yang sejatinya di tutupi tabir ghaib yang penuh dengan rahasia. Taqwanya para Anbiya tidak melewati bagi mereka akan hal yang ghaib di dalam hal yang ghaib, semuanya dari Allah dan untuk Allah.

Allah yang memerintah dan Allah yang melarang,
Allah yang mencocokkan dan yang mengajar,
Allah yang berkata-kata dan yang berbisik-bisik,
Allah yang menguatkan dan yang memberi petunjuk,

Allah yang menampakkan dan Allah yang memperlihatkan, masuknya ilmu atau pemahaman di dalam bilik akal ketika terjadi pengosongan, sedikitpun tidak masuk dari manusia, akan tetapi masuk dari malaikat, kecuali hal-hal yang lahir dari urusan-urusan yang terang dan umum yang berkaitan dengan kebanyakan urusan orang-orang beriman.

Dalam hal ini mereka sama dengan manusia yang lain, akan tetapi selain itu mereka tidak sama, secara konkrit gambaran-gambaran tersebut tidak mungkin dapat di uraikan lewat tulisan, karena tidak semua bahasa tulisan dapat menampung keluasan pemahaman hati, hanya saja yang dapat membantu ialah, apa yang di maksud dari firman Allah Ta‘ala berikut ini : “Dan tidaklah yang di ucapkan itu menuruti kemauan hawa nafsunya, ucapan itu tidak lain adalah wahyu yang di wahyukan kepadanya.”

Yang di ajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas dan menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi, kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi.

Lalu ia menyampaikan kepada hamba-Nya, apa yang telah Allah wahyukan, hatinya tidak mendustakan apa yang telah di lihatnya, keadaan para Nabi, baik yang di ucapkan maupun yang di kerjakan, semua itu bukan sesuatu yang keluar dari dorongan nafsu mereka, melainkan atas dasar wahyu yang di turunkan.

Itu semua sebagai komando dari Allah Ta‘ala yang harus mereka ikuti, komando itu di kirim oleh Malaikat Jibril yang perkasa di bisikkan langsung kedalam hati mereka.

Malaikat yang mempunyai akal yang cerdas dan menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedangkan dia berada di ufuk yang tinggi, kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi.

Seperti itulah proses turunnya Ilmu Laduniyah Rabbaniyah, secara ruhaniyah melalui hati (ruh) seorang hamba pilihan, di turunkan dari langit yang ada di ufuk jagat raya ke dalam langit yang ada di ufuk dada manusia, bukan melalui daya khayal manusia yang dapat di susupi tipu daya syetan Jin yang menyesatkan.

Dengan komando itulah, para Nabi Saw memulai dan mengakhiri segala pekerjaan yang harus di kerjakan : “Aku tidak mengikuti kecuali apa yang di wahyukan kepadaku, sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat).” (Q.S. Yunus/15).

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: