oleh

Bedah Plastik dan Operasi Kelamin Menurut Islam

-Health-1 views

Bedah Plastik dan Operasi Kelamin Menurut Hukum Islam

a. Penerapan bedah plastik tidak boleh semata-mata di terima konsep barat yang lebih memfokuskan ke arah fisik, mutlak di pertimbangkan nuansa holistik mengenal keluhan psikososial seseorang dan bedah plastik tidak boleh bertentangan dengan norma-norma etika, hukum dan agama, karena tujuan bedah plastik bukan saja memperbaiki fisik tetapi lebih penting memperbaiki kenyamanan psikososial.

b. Wajah menjadi penting sebagai sarana hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas), dalam kaitan hubungan sesama manusia, maka bentuk penampilan, keserasian dan kecantikan wajah sebagai sesuatu yang fitrah dan kodrati, untuk umat Islam sudah cukup sempurna pegangan dari ajaran agama yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadist yang dapat di terapkan di zaman modern kini, saat era globalisasi, akhirnya marilah kita hadapkan wajah kita bukan ke Barat atau ke Timur kalau ingin mencari kebajikan, seperti di ungkapkan dari Q.S. Al-Baqarah : 177, yang artinya : “Bukanlah kebajikan itu menghadapkan wajahmu ke Barat dan ke Timur.”

Untuk itu, arah wajah kita sebagai orang beriman dan bertaqwa sudah jelas seperti telah tersirat dalam Ar-Rum : 43, yang artinya : “Luruskanlah wajahmu ke arah agama yang hanif, agama fitrah dari Allah yang sesuai bagimu dengan fitrah manusia”. Jadi wajah kita luruskan ke arah kiblat, arah ajaran agama yang benar, sesuai dengan fitrah Allah dan sesuai pula dengan fitrah dan kodrat kita sebagai manusia, ciptaan Allah yang paling indah.

c. Berdasarkan Nash-Nash Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa pergantian kelamin bagi manusia yang normal, haram hukumnya, kecuali bagi manusia tidak normal atau khunsa, di bolehkan memilih salah satu kelamin yang dominan.

Baca juga...  Imunisasi Yang Benar Menurut Islam

d. Untuk penyempurnaan kelamin hukumnya boleh, supaya jelas kedudukan baik dalam harta warisan, maupun dalam hal-hal yang pokok lainnya
Islam dan kesehatan jiwa manusia tidak dapat di pisahkan, seorang pasien yang mengalami gangguan jiwa, memang harus segera berobat kepada dokter yang tepat (ahli jiwa) untuk mendapatkan terapi penyembuhan, namun harus di sadari juga, bahwa yang paling mampu untuk membantunya sewaktu mendapat beban dan musibah adalah Allah, maka hendaknya tidak lupa memohon kepada Allah agar di berikan kekuatan untuk menghadapi cobaan
seberat apapun.
 

Allah mengingatkan, yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah/2 : 153).

Tujuan syariat Islam (maqashid syari’ah) adalah untuk mewujudkan kemaslahatan manusia, kemaslahatan itu dapat di wujudkan apabila lima unsur pokok dapat di wujudkan dan di pelihara, kelima unsur pokok itu adalah agama, jiwa, keturunan, akal dan harta.

Jadi menjaga kesehatan (akal) adalah salah satu dari maqashid syari’ah. Oleh karena itu, kesehatan (akal) harus di lindungi dari berbagai zat yang di dapat merusak dan menghilangkan akal manusia, misalnya penyalahgunaan narkoba di larang agama karena dapat merusak kesehatan (akal) manusia.

Hukum Islam berlaku fleksibel dalam menyikapi kemajuan teknologi dalam bidang kesehatan, namun demikian, tetap ada batasan dan larangan dalam penggunaan kemajuan teknologi kesehatan tersebut, misalnya transfusi darah di bolehkan untuk menyelamatkan jiwa seseorang yang memerlukan darah.

Kebolehan transfusi darah adalah di dasarkan kepada hajat dalam keadaan darurat, karena tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan jiwa orang itu, kecuali dengan jalan transfusi, demikian juga transplantasi organ binatang pada organ tubuh manusia, dalam kondisi yang sangat darurat maka transplantasi dapat di lakukan dengan catatan bahwa organ tubuh itu mestilah organ bagian dalam yang pada dasarnya memang sudah merupakan benda najis, sama halnya dengan organ dalam tubuh manusia, akan tetapi kemajuan teknologi di bidang kesehatan seperti kloning manusia adalah di larang dalam hukum Islam karena dalam Al-Qur’an di antaranya surah At-Tin : 4, secara tegas menyatakan, yang artinya : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya