oleh

Belajar Berdzikir Dari Sekarang

-Tasawuf-1 views

Hati yang senantiasa di isi dengan dzikrullah akan membawa kita kepada akhir kehidupan yang baik (Khusnul Khatimah), untuk meraihnya, kita harus berusaha dari sekarang, caranya adalah dengan mencari ruh suci yang akan mengajarkan dan menanamkan dzikrullah dengan kokoh dalam hati sanubari kita, inilah yang di sebut mentalqinkan kalimah thayyibah.

Talqin kalimat thayyibah ini semestinya di lakukan sejak dini, bukan pada saat ajal hampir datang menghampiri (pada saat sekarat), sebenarnya dzikrullah berisi pernyataan perjanjian (bai’at) kita dengan Allah dan mengamalkannya adalah suatu hal yang sangat di perlukan hal ini senada dengan hadits Nabi Saw berikut ini : ”Barangsiapa mati sedang di pundaknya tidak ada ikutan bai’at, maka matilah ia sebagaimana sifat kematian orang jahiliyah.” (H.R. Imam Muslim).
 

Bai’at yang di maksud adalah talqin dzikir kalimat Laa Ilaaha Illallah, itu satu-satunya cara yang akan membuat manusia beriman setiap saat mengingat nama Rabbnya yang Maha Suci, seseorang yang menerima kalimat thayyibah, berarti juga menerima Islam secara totalitas, firman Allah dalam Surat Ibrahim ayat 24-25 : ”Tidaklah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang di langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah mernbuat perumpamaan-perumpamaan itn untuk manusia supaya mereka itu selalu ingat.” (Q.S. Ibrahim : 24-25).
 

Orang yang telah ditalqin dzikir dengan kalimat ini harus menjadi figur yang berrnanfaat untuk manusia dalam naungan ridho Allah, kalimat ini merupakan esensi kehidupan setiap muslim dalam dimensi taqwa, bertanggung jawab terhadap diri, keluarga, masyarakat, lingkungan dan Tuhannya. 

Esensi kalimat thayyibah sudah semestinya menjadi jiwa serta amal secara konsekwen dan konsisten, apa yang telah di ikrarkan semestinya juga di aplikasikan dalam perbuatan sehingga terwujud pribadi yang indah dalam kata dan indah pula perbuatannya, seorang yang telah mengucap kalimah thayyibah namun segenap tingkah laku dan perbuatannya masih bertolak belakang dengan syari’at maka ia jelas-jelas belum mengerti dan tidak memahami apa yang telah ia ikrarkan, kondisi ini sangat mungkin terjadi pada orang nifaq, yaitu orang yang memiliki sifat-sifat munafik, padahal siksa bagi orang munafik sungguh dahsyat. 

Allah berfirman : ”Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya, Allah mernbuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka itu selalu ingat.” (Q.S. Ibrahim : 24-25).
 

Orang yang telah di talqin dzikir dengan kalimat ini harus menjadi figur yang berrnanfaat untuk manusia dalam naungan ridha Allah, kalimat ini merupakan esensi kehidupan setiap muslim dalam dimensi taqwa, bertanggung jawab terhadap diri, keluarga, masyarakat, lingkungan dan Tuhannya. 

Esensi kalimat thayyibah sudah semestinya menjadi jiwa serta amal secara konsekwen dan konsisten, apa yang telah di ikrarkan semestinya juga di aplikasikan dalam perbuatan sehingga terwujud pribadi yang indah dalam kata dan indah pula perbuatannya, seorang yang telah mengucap kalimah thayyibah namun segenap tingkah laku dan perbuatannya masih bertolak belakang dengan syariat maka ia jelas-jelas belum mengerti dan tidak memahami apa yang telah ia ikrarkan, kondisi ini sangat mungkin terjadi pada orang mfaq, yaitu orang yang memiliki sifat-sifat munafik, padahal siksa bagi orang munafik sungguh dahsyat, Allah berfirman : ”Sesungguhnya orang-orang munafik itu (di tempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (Q.S. An-Nisa : 145).
 

Umumnya pribadi yang munafik sering melakukan tipu daya, shalatnya bermalas-malasan, kerap memamerkan amal baiknya, tidak memiliki kepribadian dan sedikit sekali mengingat Allah, perbuatan yang hanya mengharapkan ridha Allah, seperti yang telah Allah firmankan dalam Surat Al-Bayyinah ayat 15 : ”Padahal mereka tidak di suruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan demikian itulah agama yang lurus.” (Q.S. Al-Bayyinah : 15).
 

Itulah sebabnya, setiap awal dzikir kita hendaknya membaca lafadz “Illahi anta muqshudi wa ridhaka mathlubi ‘atini mahabbataka wama ma’rifataka”, yang berarti seluruh yang kita lakukan sepenuhnya hanya untuk Allah semata, di luar itu tidak ada yang kita simpan dalam hati, itulah di antara perbekalan yang mesti kita perbanyak agar dapat selamat dari beratnya sakaratul maut.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya