oleh

Berdagang Tapi Jangan Lalaikan Ibadah

-Muamalah-1 views

Tidak ada keraguan bahwa perdagangan dan jual beli adalah dua hal yang di butuhkan dan di perlukan, hal ini karena Allah telah memerintahkan kita untuk mencari rezeki dan untuk makan dan minum bagi diri kita menurut cara yang secara umum di benarkan dan secara khusus, Dia berfirman mengenai perdagangan (yakni jual beli) : “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Q.S. Al-Baqarah : 275).

Dan Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, apabila di seru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui, apabila telah di tunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak banyak supaya kamu beruntung.” (Q.S. Al-Jumu’ah : 9-10).

Dan Allah berfirman, memuji mereka yang mengumpulkan antara mencari rezeki dan melakukan ibadah : “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah di perintahkan untuk di muliakan dan di sebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak di lalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat.” (Q.S. An-Nuur : 36 -37).

Dalam ayat ini, Allah menyatakan bahwa dari sifat-sifat seorang muslim adalah berjual beli yakni mereka berdagang, namun ketika waktu shalat tiba, mereka meninggalkan dagangan mereka dan bersegera mendirikan shalat. “Laki-laki yang tidak di lalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah,” (Q.S. An-Nuur : 37).

Allah telah memerintahkan kita untuk mencari rezeki bersamaan dengan perintah untuk beribadah kepadanya, sebagaimana Dia berfirman : “Maka mintalah rezeki itu di sisi Allah dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya, hanya kepada-Nya lah kamu akan di kembalikan..” (QS Al-Ankabuut : 17).

Jadi melakukan bisnis dengan berjual beli atau jenis pekerjaan lain yang di bolehkan untuk memperoleh rezeki adalah sesuatu yang di perintahkan menurut agama karena besarnya manfaat yang dapat di petik darinya bagi pribadi dan masyarakat.

Jual beli itu sendiri adalah terpuji dan penting, sepanjang tidak melalaikan ibadah seseorang atau menyebabkan dia menunda pelaksanaan shalat berjama’ah di masjid.

Nabi Saw bersabda : “Pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para Nabi, syuhada dan orang-orang shaleh.”

Ini berarti seorang pedagang yang membeli dan menjual dan dia jujur maka dia akan bersama kelompok orang-orang tersebut pada hari kiamat.

Ini adalah kedudukan yang tinggi, yang menunjukkan kemuliaan memiliki pekerjaan seperti itu dan Nabi Saw suatu kali pernah di tanya tentang manakah jenis pekerjaan yang paling murni? Maka beliau menjawab : “Perdagangan yang di berkahi (di terima oleh Allah) dan pekerjaan yang di lakukan seseorang dengan tangannya.” (H.R. At-Thabrani).

Nabi Saw juga bersabda : “Kedua penjual dan pembeli berada dalam kebaikan selama mereka tidak berpisah satu sama lain, maka jika keduanya jujur dan saling memberikan keterangan dengan jelas, semoga jual belinya di berkahi. Namun, jika keduanya dusta dan ada yang saling di sembunyikan, hilanglah berkah jual beli keduanya.

Maka, bersikap jujur dalam dan dalam berdagang adalah cara yang terbaik untuk memperoleh rezeki, sebaliknya melakukan bisnis dengan kebohongan, kecurangan dan tipu muslihat, maka ini merupakan cara memperoleh rezeki yang paling buruk.

Nabi Saw pernah melewati sekelompok Muslim yang sedang berjual beli di pasar Madinah. Maka Nabi Saw bersabda : “Wahai para pedagang!” Maka mereka mendongak menunggu apa yang akan beliau katakan, dan beliau berkata : “Sesungguhnya para pedagang akan di bangkitkan sebagai pelaku kejahatan yang berdosa (fujaar) kecuali mereka yang takut kepada Allah, yang benar dan jujur.” (H.R. At-Tirmidzi) dan berkata hadits ini hasan shahih).

Nabi Saw sendiri terlibat dalam perdagangan di awal hidupnya, ketika beliau mengelola harta Khadijah. Ini sebelum kedatangan kenabiannya dan beliau berjual beli dan mendapatkan keuntungan. “Kedua penjual dan pembeli berada dalam kebaikan selama mereka tidak berpisah satu sama lain, maka jika keduanya jujur dan saling memberikan keterangan dengan jelas, semoga jual belinya di berkahi. Namun, jika keduanya dusta dan ada yang saling di sembunyikan, hilanglah berkah jual beli keduanya.”

Demikian pula para sahabat Rasulullah Saw, mereka membeli dan menjual dan berdagang dan dapat di temui orang kaya di antara mereka yang menggunakan kekayaannya untuk mendukung jihad di jalan Allah, seperti Utsman bin Affan Ra yang memberikan perbekalan kepada orang-orang miskin dalam pasukan.

Dan demikian pula Abdur Rahman bin Auf Ra yang menginfakkan hartanya kepada kaum Muslimin pada saat di butuhkan dan pada saat Jihad.

Demikian pula Abu Bakar As-Siddiq Ra, dia berjual beli dan mengorbankan hartanya untuk mendukung Islam dan kaum Muslimin, sejak dia berada di Makkah sebelum hijrah, demikian pula setelah hijrah.

Dia memberikan sebagian besar hartanya karena Allah, karena itu, mencari sumber-sumber rezeki sesuai dengan jalan yang di perbolehkan yang terbaik adalah jual beli memiliki banyak kebaikan di dalamnya.

Namun demikian, jual beli ini harus di laksanakan sesuai dengan petunjuk syariat, sehingga seorang Muslim dapat menghindari terjerumus ke dalam jenis jual beli yang di larang dan memperoleh penghasilan yang haram.

Nabi Saw telah melarang kita dari beberapa jenis usaha tertentu karena di dalamnya mengandung dosa dan apa yang di dalamnya terdapat bahaya bagi manusia dan mengambil harta secara tidak adil.

Baca juga...  Jual Beli Yang Di Larang

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya