oleh

Cara Mengenali Diri

-Tasawuf-1 views

Cara Mengenali Diri Sendiri

Buah dari ibadah yang di lakukan itu, baik ibadah yang vertikal maupun yang horizontal, yaitu manakala telah terbit di dalam hati seseorang pengenalan akan dirinya sendiri, itu bisa terjadi, karena dengan ibadah itu berarti manusia telah mampu meredam seluruh kemauan basyariyahnya.

Kenali indera yang lima

Tanda-tandanya, yakni apabila dengan itu seorang hamba telah mampu mengenali lima inderanya, maka selanjutnya dia juga akan mampu mengenali indera ke-enamnya, lalu apabila manusia telah mengenali indera ke-enamnya, maka tentunya mereka akan dapat menggerakkan dan mengendalikan indera ke-enam tersebut.

Di saat yang demikian, berarti mata hati (bashirah) manusia akan menjadi cemerlang dan mampu tembus pandang, selanjutnya manusia akan mampu memanfaatkan seluruh kemanfaatan yang telah di sediakan Allah Ta‘ala, Dzat Yang Maha Pencipta untuk dirinya, baik yang tersedia di dalam jiwanya maupun yang tersedia di alam semesta.

Sebab, kelima indera tersebut, di samping fungsinya merupakan sarana penunjang kehidupan manusia, namun juga, sejatinya adalah bagian dari hijab-hijab manusia terhadap Tuhannya yang harus mampu di singkap, karena hijab yang terbesar adalah hidup itu sendiri.

Padahal, manusia tidak akan sampai (wushul) dan mengenal (ma‘rifat) kepada Tuhannya selama ia masih tenggelam di balik kepekatan hijab-hijab basyariyah tersebut, untuk menyingkap hijab-hijab basyariyah tersebut, jalannya, orang itu harus melakukan meditasi secara islami, dengan menjalankan dzikir dan wirid-wirid thariqat yang terbimbing oleh guru-guru ahlinya.

Konkritnya, manakala manusia ingin menghidupkan indera ke-enamnya, tidak ada jalan lain kecuali hanya dengan terlebih dahulu mampu meredam atau bahkan mematikan kelima indera tersebut, seperti apabila manusia mampu meredam kemauan nafsu syahwatnya.

Maka secara otomatis kekuatan akalnya akan menjadi hidup dan bila gerak akalnya mampu di redam pula, maka kekuatan fikirnya akan hidup dan apabila fikirnya di redam, maka hatinya akan hidup dan apabila hatinya di redam maka ruhnya akan hidup.

Selanjutnya, apabila manusia telah mampu mengelola kehidupan ruhnya, maka secara otomatis kekuatan sirr-nya akan hidup, tinggal kekuatan sirr ini kemudian di kendalikan oleh dorongan kekuatan apa? Oleh kekuatan Jin atau oleh kekuatan Malaikat atau oleh kekuatan dari rahasia-rahasia kehendak dan urusan Allah.

Masing-masing tiga kekuatan tersebut sejatinya adalah sangat berbeda, baik tingkat kualitas maupun kuantitasnya, namun karena kebanyakan manusia kurang mampu mengenalinya dengan benar, maka ketiganya di kiranya sama.

Oleh karena itu, di sabdakan dalam sebuah hadits Nabi Saw : “Barang siapa mengenal dirinya maka sungguh ia akan mengenal Tuhannya”. Adalah Nabi Khidhir As, di dalam kisah perjalanannya dengan Nabi Musa As berkata : “Dan bukanlah aku mengerjakan semua itu dari kemauanku”. (Q.S. Al-Kahfi.18/82).

Yang demikian itu jelas menunjukkan bahwa yang mendorong pekerjaan tersebut adalah kemauan dan urusan Allah melalui komando wahyu-Nya.

Baca juga...  Makna Riyadah Dan Mujahadah Dalam Thariqat An-Naqsyabandi

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya