oleh

Cara Pelaksanaan Shalat Bagi Wanita (1)

Selama ini kita sudah banyak membicarakan tentang shalat, tapi terkesan semua shalat ini kebanyakan lebih menjurus atau secara umum lebih teruntuk kepada bagaimana cara shalatnya kaum laki-laki, lalu bagaimana pula seseorang atau kaum wanita shalat? Syarat Rukunnya bagaimana pula? Apakah sama cara dan gerakannya dengan kaum laki-laki melaksanakan shalat? Untuk menjawab berbagai pertanyaan tersebut, di sini kami tuliskan pula bagaimana seseorang wanita atau kaum wanita melaksanakan shalat, yaitu :
1. Hendaknya setiap muslimah menjaga shalat pada waktunya dengan memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun dan wajib-wajib shalat. Allah berfirman : “Hendaklah kalian para wanita dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.” (Q.S. Al-Ahzab : 33). Ini adalah perintah kepada muslimah secara umum.
 

Shalat adalah rukun kedua dari Rukun Islam, shalat adalah tiang Agama Islam, siapa saja yang meninggalkan shalat, maka ia telah keluar dari Islam karena laki-laki dan perempuan yang meninggalkan shalat bukanlah muslim lagi.
 

2. Adapun menunda pengerjaan shalat hingga keluar waktunya tanpa ada uzur syar’i, termasuk dalam menyia-nyiakan shalat. Allah berfirman, “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti yang jelek yang mensia-siakan shalatnya dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan  beramal shalih, maka mereka itu akan masuk syurga dan tidak di aniaya atau tidak di rugikan sedikitpun.” (Q.S. Maryam : 59-60). 
Yang di maksud menyia-nyiakan shalat adalah mengerjakan hingga keluar waktunya, sehingga ancaman yang di berikan adalah kelak ia akan mendapatkan ghayya (kerugian), makna lain dari ghayya adalah nama lembah di Jahannam.
 

3. Tidak di syari’atkan azan dan iqamah bagi wanita, karena azan di syari’atkan mengeraskan suara, padahal wanita tidak di perkenankan mengeraskan suara, dalam Kitab Al-Mughni (2:68), Ibnu Qudamah Ra menyatakan, “Sepengetahuan kami, masalah ini tidak ada beda pendapat.” Imam Ibnu Qudamah Ra mengatakan, “Tidak sah adzan kecuali dari seorang muslim yang berakal dan laki-laki, adapun orang kafir dan gila tidaklah sah mengumandangkan azan karena mereka bukanlah orang yang di perintahkan beribadah. Adzan dari wanita juga tidak di perkenankan karena wanita tidak di syari’atkan untuk adzan, sama seperti orang gila tadi tidak di perkenankan pula untuk adzan, begitu pula seseorang yang mengalami kerancuan jenis kelamin (ambiguous genitalia atau bahasa Arabnya ‘khuntsa’), tidak boleh mengumandangkan adzan karena tidak bisa di hukumi sebagai laki-laki, ini semua juga menjadi pendapat dalam madzhab Asy-Syaf’i, kami tidak mengetahui khilaf dalam hal ini. (Kitab Al-Mughni, 2 : 68).
 

4. Setiap tubuh wanita adalah aurat dalam shalat kecuali wajahnya, untuk telapak tangan dan kakinya ada perbedaan pendapat di antara para ulama, ini berlaku jika memang tidak ada laki-laki non mahram yang melihatnya shalat, jika ada laki-laki non-mahram yang melihatnya shalat, maka wajib menutup wajahnya, sebagaimana wanita wajib menutup wajahnya dari pandangan laki-laki di luar shalat. Intinya dalam shalat hendaklah wanita menutup kepala, pundak, leher dan tubuh lainnya sampai kakinya juga di tutup, dari Aisyah Ra, Nabi Saw bersabda : “Tidaklah di terima oleh Allah shalat seorang wanita yang sudah mengalami haidh kecuali dengan khimar (menutupi kepala dan lehernya).” (H.R. Abu Dawud dan At-Tirmidzi). Dari Ummu Salamah Ra, ia berkata bahwa ia bertanya pada Nabi Saw, “Apakah wanita boleh shalat dengan mengenakan gamis dan kerudungnya saja, lalu tidak memakai izar (sarung di bawahnya)?” Nabi Saw menyatakan, “Boleh jika memang gamisnya lebar memanjang hingga menutupi punggung telapak kakinya.” (H.R. Abu Dawud).
 

Hadits di atas menunjukkan, bahwa wajib bagi wanita saat shalat menutup kepala dan lehernya sebagaimana dapat di simpulkan dari hadits ‘Aisyah, hendaklah pula wanita menutupi anggota tubuh lainnya hingga punggung telapak kakinya sebagaimana kesimpulan dari hadits Ummu Salamah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan dalam Majmu’ah Al-Fatawa (22:113-114), “Apabila wanita shalat sendirian, maka ia di perintahkan untuk menutup kepalanya, namun kalau ia berada di rumah dalam keadaan tidak shalat, ia boleh membuka kerudungnya. Seorang wanita menutup auratnya dalam shalat karena menjalankan perintah Allah, karenanya tidak boleh seseorang melakukan thawaf keliling Ka’bah dalam keadaan telanjang walaupun ia melakukannya sendirian di
malam hari, begitu pula seseorang tidak boleh shalat dalam keadaan telanjang, walaupun ia shalat sendirian, maka dapat di ketahui, bahwasanya menutup aurat dalam
shalat berbeda dengan menutup aurat di luar shalat, yang satu punya bahasan sendiri berbeda dengan lainnya.”
 

5. Wanita hendaklah menghimpitkan anggota badannya ketika ruku’ dan sujud, tidak membuka atau merenggangkannya karena hal ini lebih menutupi aurat wanita. Imam Nawawi menyatakan dalam Kitab Al-Majmu’ (3 : 455), 

“Imam Asy-Syafi’i dalam Al-Mukhtashar menyatakan bahwa tidak ada bedanya antara laki-laki dan perempuan dalam cara mengerjakan shalat, kecuali wanita di sunnahkan untuk merapatkan anggota tubuhnya dengan lainnya atau menghimpitkan antara perut dan pahanya saat sujud, ini juga di lakukan ketika ruku’ dan di lakukan pada setiap shalat.”

6. Shalat wanita secara berjama’ah dengan di imami sesama wanita, tentang hukum hal ini para ulama berbeda pendapat, ada yang melarang dan ada yang membolehkannya, kebanyakan ulama menyatakan hal itu tidak terlarang, karena Nabi Saw
pernah memerintahkan pada Ummu Waraqah untuk mengimami orang-orang yang ada di rumahnya, wanita masih di bolehkan mengeraskan suara jika tidak ada laki-laki non-mahram yang mendengarnya.

Baca juga...  Shalat Istisqa'

7. Boleh bagi wanita keluar dari rumah untuk mengerjakan shalat berjama’ah di masjid bersama jama’ah pria, namun shalat wanita di rumahnya lebih baik karena di rumah itu lebih tertutup. Dari Ibnu Umar, Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah kalian menghalangi istri-istri kalian untuk ke masjid, namun shalat di rumah mereka itu lebih baik bagi mereka.” (H.R. Abu Daud, No. 567, Imam Ahmad, 2 : 76). Al-Hafzh Abu Tahir mengatakan bahwa hadits ini shahih, juga ada hadits lainnya yang menunjukkan shalat di rumah bagi wanita itu lebih utama, yaitu dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu’anhu, Nabi Saw bersabda, “Shalat seorang wanita di kamar khusus untuknya lebih afdhal daripada shalatnya di ruang tengah rumahnya, shalat wanita di kamar kecilnya (kamar kecil khusus) adalah lebih utama dari shalatnya di kamarnya.” (H.R. Abu Daud). Dari Ummu Salamah Ra, Rasulullah Saw bersabda : “Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah di bagian dalam rumah mereka.” (H.R. Imam Ahmad).

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru