oleh

Dali-dalil Warna Pakaian Wanita yang Di bolehkan

-Muslimah-1 views

Sahabat wanita dari suku Anshar memakai kain warna hitam

Setelah turun ayat perintah hijab atau jilbab, maka para wanita dari kalangan Anshar mengenakan kain atau pakaian berwarna hitam.

Abu Dawud meriwayatkan hadits dari Ummu Salamah رضي الله عنها beliau berkata :

لَمَّا نَزَلَ قَوْلُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ:  يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ خَرَجَ نِسَاءُ الْأَنْصَارِ كَأَنَّ عَلَى رُءُوسِهِنَّ الْغِرْبَانَ مِنْ الْأَكْسِيَةِ

“Tatkala turunnya firman Allah ‘Hendaklah kaum wanita menjulurkan jilbabnya‘, maka kaum wanita Anshar keluar seakan-akan di atas kepalanya ada burung gagak, sebab pakaian-pakaian mereka.”[

Berkata Abdul Muhsin Al-Abbad حفظه الله “Maksudnya, mereka memakai penutup kepala, yaitu mereka bersegera  menutupi  kepala  dan wajah mereka sehingga mereka bagaikan burung gagak dari sisi warnanya, karena  warna burung gagak adalah hitam, dan demikianlah penutup kepala mereka (berwama hitam), meskipun hijab itu tidak harus berwama hitam.”

Sahabat wanita pernah berpakaian warna hijau

عَنْ عِكْرِمَةَ أَنَّ رِفَاعَةَ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ فَتَزَوَّجَهَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الزَّبِيرِ الْقُرَظِيُّ قَالَتْ عَائِشَةُ وَعَلَيْهَا خِمَارٌ أَخْضَرُ فَشَكَتْ إِلَيْهَا

Dari Ikrimah رحمه الله berkata, “Rifa’ah telah menceraikan istrinya, lalu Abdurrahman Ibn Zabir Al-Quradhi menikahinya, lalu Aisyah رضي الله عنها berkata, ‘Wanita itu mengenakan kerudung hijau’, lalu dia mengadu kepadanya.” (H.R. Al-Bukhari: 5377).

Para sahabat wanita memakai kain yang tidak polos

Sebagaimana  dalam  sebuah hadits  dari Urwah رحمه الله beliau berkata, Aisyah رضي الله عنهما berkata :

كُنَّ نِسَاءُ الْمُؤْمِنَاتِ يَشْهَدْنَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْفَجْرِ مُتَلَفِّعَاتٍ بِمُرُوطِهِنَّ ثُمَّ يَنْقَلِبْنَ إِلَى بُيُوتِهِنَّ حِينَ يَقْضِينَ الصَّلَاةَ لَا يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ مِنْ الْغَلَسِ

“Dahulu kaum mukminah ikut serta salat Subuh dalam keadaan berselimutkan muruth mereka, kemudian mereka pulang ke rumah-rumahnya tatkala salat selesai, seorang pun dari mereka tidak dikenal karena masih gelap.” (H.R. Al-Bukhari: 578, Muslim: 1489).

Al-Mubarakfuri رحمه الله menjelaskan, “Al-muruth adalah bentuk jamak dari اَلْـمَرِطْ /Al-Mirth/, dengan mengasrah mim dan menyukun ra’, artinya kain yang bercorak (bukan polos) baik terbuat dari sutera, wol, atau lainnya; demikianlah yang dikatakan oleh Al-Hafizh (Ibnu Hajar) dan lainnya.”

Al-Qadhi Iyadh رحمه الله mengatakan,[Al-muruth adalah kain wol yang bermotif kotak.”

Aisyah رضي الله عنها pernah mengenakan jilbab warna mawar

Hal ini diungkapkan Atha’, beliau melihat Aisyah رضي الله عنها melakukan tawaf dan beliau mengatakan:

رَأَيْتُ عَلَيْهَا دِرْعا مُوَرَّدًا

“Aku melihatnya (Aisyah رضي الله عنها) mengenakan kerudung warna mawar.” (H.R. Al-Bukhari: 1513).

Baca juga...  Pernikahan Yang Di Larang
Aisyah رضي الله عنها pernah menggunakan baju merah ketika berihram

Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan hadits secara mu’allaq. Beliau mengatakan:

وَلَبِسَتْ عَئِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا الثِّيَابَ الْمُعَصْفَرَةَ وَهْيَ مُـحْرِمَةٌ وَقَالَ جَابِرٌ لَا أَرَى الْـمُعَصْفَرَ طِيْبًا وَلَمْ تَرَ عَائِشَةُ بَأْسًا بِالْـحُلِيَ وَالثَّوْبِ الأَسْوَدِ وَالـمُوَرَّدِ وَالْـخُفِّ لِلْمَرْأَةِ

“Aisyah رضي الله عنها mengenakan baju merah sedangkan beliau dalam keadaan berihram.”

Jabir berkata, ” Aku tidak menganggap baju yang dicelup dengan usfur (merah) itu termasuk wewangian yang terlarang (saat ihram), dan Aisyah رضي الله عنها menganggap tidak mengapa (saat berihram) memakai perhiasan, baju hitam, baju merah, dan boleh wanita (berihram) memakai sepatu.” (H.R. Al-Bukhari, Bab Ma Yalbasu al-Muhrim minats Tsi-yab wal Ardiyah wal Uzur, Bab No. 23).

Demikian juga dalam hadits lain dari Amr ibn Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata:

“Kami turun bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم dari suatu lembah, lalu beliau menoleh kepadaku sedangkan aku mengenakan baju yang diwarnai dengan usfur (merah), lalu Nabi صلى الله عليه وسلم berkata, ‘Baju apa yang kamu pakai ini?’ Maka aku tahu beliau tidak menyukainya, lalu aku datang menemui keluargaku sedangkan mereka sedang menyalakan tungku, lalu aku lemparkan baju itu ke tungku, kemudian besoknya aku datang kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم kemudian beliau bertanya,’ Wahai Abdullah, apa yang engkau lakukan terhadap bajumu?’ Lalu aku ceritakan kepada beliau, kemudian beliau bersabda, ‘Mengapa tidak engkau berikan baju itu kepada sebagian keluargamu, karena sesungguhnya baju (merah) itu boleh untuk kaum wanita.” (H.R. Abu Dawud: 4066, Ibnu Majah: 3603).

Para istri Nabi صلى الله عليه وسلم pernah memakai kain merah

Dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah disebutkan:

عَنْ إبْرَاهِيْمَ وَهُوَ النَّخَعِي أَنَّهُ كَانَ يَدْخُلُ مَعَ عَلْقَمَةَ والْأَسْوَدِ عَلى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَرَاهُنَّ في اللُّحُفِ الأَحْمَرِ

“Dari Ibrahim an-Nakha’i bahwasanya beliau pernah bersama Alqamah dan Al-Aswad menemui para istri-istri Nabi صلى الله عليه وسلم, maka dia melihat mereka berselimutkan kain merah.”

PAKAIAN HITAM DAN SELAIN HITAM DIBOLEHKAN BAGI WANITA

  • Al-Lajnah ad-Da’imah ditanya tentang status pakaian hitam bagi wanita dan makna perkataan Aisyah رضي الله عنها, “seolah-olah di atas kepala mereka ada burung gagak.”

Lajnah menjawab : “Boleh bagi wanita memakai pakaian warna hitam dan selain hitam, selama tidak menyerupai pakaian laki-laki. Adapun perkataan Aisyah رضي الله عنها ‘seolah-olah di atas kepala mereka ada burung gagak’ ini adalah pujian kepada mereka para wanita muslimah yang segera melaksanakan perintah hijab, dan ini mengisyaratkan bahwa pakaian mereka berwarna hitam, Wabillahit taufiq.”

Baca juga...  Pertanyaan Tentang Shalat Jama'-nya Muslimah

Asy-Syaikh Abdul Aziz ibn Baz رحمه الله saat ditanya tentang pakaian hitam bagi kaum wanita muslimah, beliau berfatwa:

“Tidak ada kewajiban bagi muslimah untuk mengharuskan diri memakai pakaian hitam. Akan tetapi, (pakaian wanita) tidak boleh menarik perhatian dan tidak menimbulkan fitnah/godaan, karena Allah berfirman :

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى

“Dan tinggallah (wahai kaum wanita) di rumah-rumahmu, dan janganlah ber-tabarruj ataubersolek seperti kaum jahiliah dahulu bersolek.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 33).

Para ulama mengatakan tabarruj (bersolek) artinya kaum wanita yang memperlihatkan keindahan dan sesuatu yang dapat menggoda (laki-laki). Maka pakaian wanita yang biasa (bukan pakaian perhiasan) adalah pakaian yang berwarna hitam atau selain hitam, seperti merah, biru, atau hijau, selagi tidak terdapat hiasan atau sesuatu yang indah yang dapat menarik perhatian (laki-laki); maka pakaian seperti itulah yang selayaknya dipakai wanita, demikian juga pakaian dalam (maksudnya pakaian yang biasa dipakai di dalam rumah) seharusnya ditutup/dilapisi dengan pakaian luar seperti jilbab (lebar) atau abaya.

BAGAIMANA DENGAN PAKAIAN PUTIH BAGI WANITA?

Hukum asalnya, warna pakaian putih adalah warna pakaian yang terbaik, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:

الْبِسُوا مِنْ ثِيَابِكُمْ الْبَيَاضِ، فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ

“Kenakanlah pakaianmu yang berwarna putih karena itu sebaik-baik pakaianmu.” (H.R. Abu Dawud 2/176).

Akan tetapi, sebagian para ulama menganggap bahwa pakaian putih dikhususkan untuk kaum laki-laki, berbeda dengan wanita, tidak dianjurkan memakai warna putih, dengan alasan wanita lebih tertutup jika mengenakan warna selain putih.[

Sementara itu, sebagian lain menganggap wanita seperti laki-laki dalam segala hukum jika tidak terdapat dalil yang membedakannya dan termasuk dalam hal ini warna pakaian, maka wanita sama dengan laki laki, karena tidak ada dalil yang mengkhususkan warna tertentu hanya untuk laki-laki, sehingga tidak terlarang wanita memakai pakaian dengan warna seperti warna pakaian laki-laki. Hanya, harus diperhatikan, jika pakaian warna putih itu identik atau menjadi simbol pakaian khusus laki-laki, atau dianggap sebagai pakaian perhiasan seperti di Nejed, atau jika wanita memakainya akan disebut menyerupai laki-laki, maka pakaian warna putih semacam ini terlarang bagi kaum wanita disebabkan menyerupai lawan jenis bukan karena warnanya yang putih.

WANITA BERIHRAM TIDAK HARUS BERPAKAIAN PUTIH

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله ditanya masalah ini lalu beliau menjawab:

Baca juga...  Tentang Shalat Jama' Setelah Suci Dari Haidh Waktu Ashar & Isya

“Ihramnya kaum wanita tidak sama dengan laki-laki, (laki-laki) berihram dengan pakaian khusus (dua kain) untuk atasan dan bawahan, sedangkan wanita memakai pakaian sesukanya dengan pakaian yang dibolehkan sebelum ihram, boleh memakai warna hitam, merah, kuning, hijau, atau yang lain yang dia mau, adapun pakaian warna putih, maka aku tidak mengetahui adanya perintah supaya berihram dengan pakaian putih.”(Majmu’ Fatawa Ibn Utsaimin 22/180)

DILARANG MENGKHUSUSKAN PAKAIAN HITAM SAAT BERKABUNG

Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله ditanya tentang wanita memakai pakaian hitam jika terjadi musibah, seperti kematian suaminya atau keluarganya, maka beliau menjawab:

“Memakai pakaian hitam ketika terjadi musibah adalah syi’ar yang batil, dan tidak ada asal-usulnya. Seseorang tatkala ditimpa musibah selayaknya melakukan apa yang disyari’atkan seperti mengucap:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

‘Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya, ya Allah limpahkanlah pahala dalam musibahku ini, dan berilah ganti yang lebih baik darinya.’

Apabila seorang yang tertimpa musibah mengucap do’a ini dengan iman dan berharap pahala maka Allah memberikan pahala atas musibahnya dan akan mengganti dengan sesuatu yang lebih baik lagi. Adapun mengenakan pakaian tertentu seperti warna hitam dan yang semisal (karena musibah) maka tidak ada asal-usulnya, dan ini termasuk perkara batil serta tercela.”[

Dalam    fatwa    lain    beliau    menambahkan, “Mengkhususkan  pakaian  tertentu  saat takziah menurut kami termasuk bid’ah, karena itu termasuk menampakkan kemurkaan terhadap takdir Allah, meskipun sebagian orang menganggap tidak mengapa; akan tetapi, jika para pendahulu (salaf) tidak melakukannya maka tidak diragukan lagi bahwa meninggalkan hal itu lebih utama karena bila seorang mengenakannya maka itu lebih dekat kepada dosa daripada kepada selamatnya dari dosa.” (Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibn Shalih al-Utsaimin 17/329)

Beliau menambahkan (17/414), “Mengenakan pakaian hitam saat berkabung termasuk bid’ah dan menampakkan kesedihan, dan ini serupa dengan (larangan meratapi mayat) seperti merobek baju dan menampar pipi yang Nabi صلى الله عليه وسلم telah berlepas diri dari pelakunya sebagaimana beliau bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ شَقَّ الْجُيُوبَ، وَلَطَمَ الْخُدُودَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

‘Bukan termasuk golongan kami orang yang (meratapi mayat dengan) merobek baju, menampar pipi, dan menyeru dengan seruan kaum jahiliah.”

Sumber : Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami’ at-Tirmidzi 1/183. Demikian juga dijelaskan dalam Ithaf al-Kiram bi Syarh ‘Umdatil Ahkam 5/1-2, Taisirul Allam Syarh ‘Umdatul Ahkam 1/101, Ihkamul Ahkam Syarh ‘Umdatul Ahkam 1/93, Ta’sisil Ahkam bi Syarh ‘Umdatul Ahkam 1/70.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya