oleh

Di Sunnahkan Berobat Dengan Cara Bekam

-Health-1 views

Dalam ajaran Agama Islam, utamanya adalah bila ada yang sakit, maka terlebih dahulu di sunahkan berobat dengan cara bekam, tetapi semua itu di lakukan pada saat di butuhkan saja, orang yang sedang berihram juga boleh melakukan bekam, kalau pembekaman itu mengharuskan sebagian rambut di cukur, juga tidak apa-apa.
Adapun pendapat yang mengatakan, bahwa bila sampai mencukur sebagian rambut harus membayar fidyah, itu perlu di tinjau kembali, tidak tepat bila di katakan wajib membayar fidyah bila orang berpuasa melakukan bekam.

Di dalam Shahih Bukhari menegaskan , “Bahwa Rasulullah Saw melakukan bekam padahal ia sedang berpuasa.” (H.R. Imam Bukhari), akan tetapi, apakah ia berbuka puasa dengan hal tersebut? Terdapat riwayat shahih dari Rasulullah Saw dan tidak ada dalil yang membantahnya dan hadis shahih yang membantahnya adalah hadis bekam ketika beliau sedang berpuasa.

Akan tetapi, hal itu tidak menunjukkan tidak adanya batal puasa, kecuali setelah adanya empat perkara : pertama, puasa itu bukanlah puasa fardhu dan yang kedua, orang tersebut adalah seorang mumin (tidak sedang dalam perjalanan), ketiga, orang tersebut tidak sedang menderita penyakit yang sedang membutuhkan bekam, keempat, hadis ini lebih akhir dari hadis, “Orang yang membekam dan yang di bekam sama-sama batal puasanya.” (H.R. Ibnu Majah)
Ketika empat hal ini telah terpenuhi, maka memungkinkan pengambilan dalil dengan tindakan Rasulullah Saw untuk tetap berpuasa meskipun sedang di bekam, jika tidak, bisa saja puasa yang sedang beliau lakukan adalah puasa sunah sehingga bisa di batalkan karena bekam dan sejenisnya, bila juga puasa itu puasa Ramadhan, tetapi saat ia sedang dalam perjalanan atau tidak sedang dalam perjalanan, tetapi terdesak kebutuhan untuk melakukan bekam sebagaimana terdesaknya kebutuhan orang sakit untuk berbuka, akan tetapi, hukum bekam di sini di jadikan hukum asal.

Baca juga...  Terapi Dalam Literatur Tasawuf Dan Definisi Tasawuf

Rasulullah Saw bersabda : “Orang yang di bekam dan yang membekam batal puasanya”, itu adalah hukum yang datang di belakangnya, akhirnya, menjadi jelaslah standar hukumnya, namun sayang, keempat hal tersebut tidak terjadi satupun apalagi keempat-empatnya, dalam hal ini, yang lebih aman lakukan bekam ketika telah berbuka puasa, baik itu puasa Ramadhan ataupun puasa sunnah, ini yang lebih aman dan tidak ada perselisihan lagi.

Di dalamnya terdapat dalil atas upah para dokter maupun tenaga medis lainnya, tanpa terlebih dahulu melakukan transaksi pengupahan, bahkan, memberi upah selayaknya sesuai dengan kepastiannya atau dengan harga yang di sepakati, hadis ini juga mengandung hokum di perbolehkannya menjadi tukang bekam sebagai mata pencaharian, meskipun tidak baik bagi orang yang merdeka memakan upahnya dari pekerjaan itu, tetapi hukumnya tidak haram, karena Nabi Saw memberi upah kepada tukang bekam, dan tidak melarang tukang bekam mengambil upah tersebut, kalau di katakan upah itu tidak baik, tak ubahnya dengan sabda beliau yang mengatakan bahwa bawang merah dan bawang putih sebagai tanaman yang tidak baik, tapi hal tersebut tidak berarti harus mengharamkannya.

Hadis ini juga menunjukan bahwa seorang tuan boleh mengambil bayaran dari budaknya atas sesuatu yang di tentukan setiap hari sesuai dengan kemampuannya, begitupula bagi budak di perbolehkan menggunakan kelebihan dari yang ia bayarkan itu, seandainya ia di larang menggunakannya, berarti seluruh penghasilannya menjadi milik tuannya, sehingga penentuan itu tidak ada gunanya, padahal apa yang melebihi upahnya secara otomatis menjadi miliknya, yang dapat di gunakan sekehendak hatinya, Wallahua’lam.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya