oleh

Doktrin Tasawuf

-Tasawuf-6 views

Manusia di lahirkan dengan kemampuan untuk mengenal Tuhan, kemampuan ini ada sebagai sebuah potensi yang sama pada seluruh manusia karena adanya “ruh” Tuhan pada dirinya.

Potensi inilah yang di sebut oleh Islam dengan fitrah, oleh karena merupakan pembawaan secara intrinsik, maka kecenderungan berketuhanan ini tidak bisa di elakkan oleh siapapun.

Kecenderungan kepada Tuhan sebagai Realitas Mutlak dan Absolut ini, di ekspresikan oleh sebagian orang dengan melakukan perbuatan dalam bentuk ibadah formal seperti do’a, shalat, puasa, haji dan ibadah syari’ah lainnya.

Ekspresi ini lebih di kenal dengan fiqh, sementara sebagian yang lain melaksanakan lebih dari sekedar ibadah formal, yakni menghampiri Tuhan sedekat-dekatnya bahkan bersatu dengan-Nya.

Ekspresi yang kedua inilah yang kemudian di sebut dengan tasawuf (mistisisme / mistyc), dengan demikian terlihat bahwa objek kajian tasawuf lebih mengarah pada kajian yang bersifat batin (esoteris), sedangkan fiqh lebih menekankan pada aspek-aspek luar (eksoteris).

Keunikan tasawuf yang bersifat esoteris ini menyebabkan ia lebih bersifat universal, luas, lentur dan inklusif.

Esoterisme tasawuf terlihat nyata karena perbincangan yang muncul di dalamnya senantiasa mengarah pada aspek ruhani yakni penyucian jiwa (tazkiyah an-nafs) untuk selanjutnya melakukan perjalanan menuju Tuhan.

Pengalaman kerohanian ini biasanya di ukur dengan rasa (dzawq) yang tentu saja sangat bersifat personal karena setiap individu merasakan pengalaman yang di pastikan tidak akan pernah sama dengan yang lain.

Pengalaman ini juga meniscayakan keragaman yang tak mungkin di satukan sebab hal ini terkait erat dengan kondisi kejiwaan seseorang, tingkat pemahaman, keyakinan, penghayatan dan perolehannya dari pemberian (mauhibah, jamaknya mawahib) Tuhan yang di tuju.

Mauhibah Tuhan kepada seseorang yang meniti jalan tasawuf biasanya di pahami dengan penyingkapan atau terbukanya tirai-tirai alam ghaib (kasyf al-hijab) yang sangat banyak jumlahnya.

Baca juga...  Hakikat Asma Allah

Penyingkapan ini akan mencapai titik puncaknya suatu saat, di mana seseorang akan merasakan tajalli-nya Tuhan Yang Maha Indah dan Sempurna.

Pengalaman dalam merasakan tajalli-nya Tuhan ini, merupakan sesuatu yang sulit di ungkapkan oleh bahasa biasa (sehari-hari), alih-alih menyampaikan perasaan ini kepada orang lain, seorang sufi terkadang lebih memilih menutup mulutnya rapat-rapat, berdiam diri dan merahasiakannya dari orang lain.

Hal ini biasanya di lakukan untuk terus menjaga kesucian diri, menangkal munculnya sifat-sifat kedirian (nafs) dalam bentuk ‘ujub, riya, sum’ah dan takabbur.

Di samping itu, “gerakan tutup mulut” ini juga di sebabkan karena adanya kekhawatiran jika apa yang mereka rasakan akan di salah pahami serta di salah maknakan oleh orang lain.

Namun demikian, pengungkapan dari penyingkapan tajalli Tuhan tersebut ternyata juga merupakan sesuatu yang di perlukan terlebih untuk pendidikan dan pembelajaran bagi yang lain.

Hanya saja, umumnya pengungkapan ini menggunakan media tersendiri seperti seni, baik seni tari maupun bahasa sastra, dalam menyampaikan pengalaman yang tak terkatakan itu.

Dalam sejarah, ternyata banyak sufi yang menyampaikan pengalaman kerohanian dan pengajaran (lebih tepatnya pemikiran sufistik) mereka kepada orang lain dalam bahasa sastra yakni puisi, syair dan sejenisnya, penyampaian dengan metode ini tampaknya karena ada jembatan penghubung antara tasawuf itu sendiri dengan seni yakni rasa (dzawq).

Rabi’ah Al-Adawiyah misalnya, di kenal dengan syair mahabbah-nya yang cukup masyhur, ada juga Shana’i Al-Ghaznawi, seorang pujangga sufi Persia pertama yang sangat produktif dalam memaparkan doktrin-doktrin tasawufnya melalui media syair sejak paruh pertama abad ke-6 H.

Enam puluh tahun setelah Shana’i, ada Fariduddin Al-‘Aththar (w.626 H), penyair yang juga sangat produktif, karya-karyanya berbentuk prosa dan puisi.

Baca juga...  Pengertian Maqam Dan Martabat

Ia menulis risalah Tadzkirah al-Auliya’, yang berisi riwayat hidup dan karaktek para sufi. Kitabnya Mantiq atThayr juga merupakan maha karya dalam bidang tasawuf.

Ibn Faridh Al-Mishri (w.632 H) merupakan sufi yang sajak-sajak tasawufnya sangat menakjubkan, ia terkenal dengan Diwan (himpunan sajak puitis)nya.

Seorang penyair sufi Iran yang juga terkemuka adalah Jalaluddin Muhammad Ar-Rumi (w.672 H) yang terkenal dengan Matsnawi-nya, karyanya ini merupakan samudera ‘irfani yang sarat dengan visi spiritual dan sosial yang unik dan istimewa.

Selain mereka juga ada Nizami, seorang sufi penyair persia yang cukup terkenal, salah satu syair dari lima naratif (khamsah) yang di gubahnya berjudul Makhazan al-Asrar (Khazanah Rahasia-Rahasia).

Di Indonesia, ada Hamzah Fansuri yang di kenal dengan berbagai syair-syairnya termasuk syair perahu dan sufi lain yang juga cukup terkenal adalah Syaikh Abdul Wahab Rokan Al-Khalidi An-Naqsyabandi Al-Syazali (1230-1345 H/1811-1926M) yang lebih akrab di sebut dengan nama “Tuan Guru Babussalam” (Besilam).

Kepiawaiannya dalam tulis menulis termasuk syair-syairnya, di akui oleh Martin van Bruinessen yang menyebutkan, bahwa Syaikh Abdul Wahab pastilah merupakan salah seorang tokoh Naqsyabandiyah yang paling produktif di antara para penulis di kalangan Thariqat Naqsyabandiyah yang pernah ada.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya