oleh

Dua Macam Istighfar

Istighfar ada dua macam, yaitu : Istighfar yang berdiri sendiri dan istighfar yang di kaitkan dengan taubat.

Istighfar yang berdiri sendiri seperti perkatan Nabi Nuh Alaihis-Salam atau perkataan Shalih Alaihis-Salam kepada kaumnya atau seperti firman Allah, “Dan mohonlah ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Baqarah : 199).

Istighfar yang di kaitkan dengan taubat adalah seperti firman Allah, “Hendaklah kalian meminta ampun kepada Rabb kalian dan bertaubat kepada-Nya, jika kalian mengerjakan yang demikian, niscaya Dia akan memberi keniktnatan yang baik (terus-menerus) kepada kalian sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.” (Q.S. Hud : 3).

Istighfar yang berdiri sendiri seperti taubat dan bahkan istighfar itu sendiri adalah taubat, yang berarti menghapus dosa, menghilangkan pengaruhnya dan mengenyahkan kejahatannya, tidak seperti yang di kira sebagian orang, bahwa artinya adalah menutupi aib.

Toh Allah menutupi aib orang yang di beri-Nya ampunan atau yang tidak di beri-Nya ampunan.

Penutupan aib hanya sekedar kelaziman dari maknanya atau sebagian di antaranya. Istighfar inilah yang mencegah turunnya adzab, sebagaimana firman-Nya, “Dan tidaklah Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (Q.S. Al-Anfal : 33).

Allah tidak akan mengadzab orang yang meminta ampunan, sedangkan orang yang masih tetap berbuat dosa, namun dia juga meminta ampun kepada Allah, maka hal ini tidak bisa di sebut istighfar yang murni.

Karena itu, istighfarnya tidak mampu mencegah adzab, istighfar mencakup taubat dan taubat mencakup istighfar, masing-masing masuk dalam pengertian yang lain.

Jika keduanya di sertakan, maka makna istighfar adalah menjaga dari kejahatan yang lampau, sedangkan makna taubat adalah kembali dan mencari penjagaan dari sesuatu yang di takutinya di masa mendatang, berupa keburukan-keburukan amalnya.

Baca juga...  Bahaya Zina

Ada dua macam dosa, yaitu dosa yang telah lampau dan dosa yang di khawatirkan akan terjadi di masa mendatang.

Istighfar dari dosa yang telah lampau berarti mencari perlindungan dari kejahatannya dan taubat dari dosa yang di khawatirkan akan terjadi berarti bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.

Orang yang berdosa di ibaratkan orang yang melewati suatu jalan, padahal jalan ini akan membawanya kepada kehancuran dan tidak menghantarkannya ke tujuan, maka dia di perintahkan untuk menghentikan langkah kakinya, meninggalkan jalan itu dan kembali ke jalan yang membawanya kepada keselamatan dan menghantarkannya ke tujuan.

Dari sinilah bisa di ketahui secara jelas masalah taubatan nashuha dan hakikatnya, seperti firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (Q.S. At-Tahrim : 8).

An-Nashuh dalam taubat dan ibadah artinya membersihkannya dari kebohongan, kekurangan dan kerusakan serta mengerjakannya sesempurna mungkin.

An-Nashuh kebalikan dari tipuan. Orang-orang salaf saling berbeda dalam mendefinisikannya. Umar bin Al-Khaththab dan Ubay bin Ka’b Radhiyallahu Anhuma berkata, “At-Taubatun-nashuh artinya taubat dari suatu dosa dan pelakunya tidak mengulanginya lagi, sebagaimana air susu yang tidak bisa kembali ke kantong kelenjarnya.”

Al-Hasan Al-Bashry berkata, “Artinya, seorang hamba menyesali apa yang di lakukannya di masa lampau dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.”

Al-Kalby berkata, “Artinya, seorang hamba harus memohon ampun dengan lidahnya, menyesal dengan hatinya dan menahan diri dengan anggota tubuhnya.”

Sa’id bin Al-Musayyab berkata, “Artinya, kalian harus jujur terhadap diri sendiri.”

Muhammad bin Ka’b Al-Qarzhy berkata, “Artinya, seorang hamba harus menghimpun empat perkara: Istighfar dengan lidah, membebaskan diri dengan anggota badan, tekad untuk tidak mengulang lagi dengan hati dan menjauhi teman-teman yang masih melakukannya.”

Baca juga...  Antara Orang Taat Yang Tidak Pernah Durhaka Dan Orang Durhaka Yang Melakukan Taubatan Nashuha

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru