oleh

Dua Samudera Yang Berbeda

-Tauhid-5 views

Ibnu Abbas Ra di dalam menafsirkan ayat tersebut di atas (Q.S. Az-Zumar/39 : 42) berkata :

ؼَول: ًبَؾَغَـَك ًأَنِ ًأََرْوَاحَ ًاَّحْقَكءَ ًوَاَّؿْقَاتَ ًتَؾْمَؼَك ًػَك ًاؾْؿَـَومًًِ
ػَقَمَيَوءَؾُقْنَ ًبَقْـَفُؿَْ ػَقُؿْيَؽُ ًآُ ًأَرْوَاحَ ًاؾْؿَقْتكَ ًوَقُرْدَؾُ ًأَرْوَاحًَ
اَّحْقَكءًَإِؾَكًأَجْيَودَفَو .

“Telah sampai kepadaku bahwa sesungguhnya ruh orang hidup dapat bertemu dan berkomunikasi dengan ruh orang yang sudah mati di dalam mimpinya, kemudian ruh orang mati ditahan oleh Allah, sedang ruh orang yang sedang tidur dilepaskan kembali kepada jasadnya.” (Ibnul Qayyim, Kitab Ar-Ruh : 19).

Ibnu Abi Khaitam Ra berkata di dalam penafsirannya atas firman Allah : “Wallaatii Lam Tamut fii Manaamihaa‖ (dan ruh yang belum mati didalam tidurnya). Beliau berkata: “Allah memegang ruh orang yang mati dalam tidurnya, maka ruh orang yang hidup bertemu dengan ruh orang yang telah mati, mereka saling berkomunikasi dan saling mengenal. Kemudian ruh orang hidup dikembalikan ke jasadnya di dunia untuk meneruskan sisa hidupnya yang sudah ditentukan dan ruh orang yang sudah mati dikembalikan kepada jasadnya yang di tanah.” (Ibnul Qayyim, Kitab Ar-Ruh : 19).

Dimensi alam jasmani dan alam ruhani adalah ibarat dua samudra yang dibatasi daratan sehingga masing-masing dimensi tersebut tidak dapat bertemu, akan tetapi dengan izin dan kehendak Allah suatu saat terkadang keduanya dibiarkan bertemu.

Keadaan dua dimensi itu seperti contoh alam mimpi dan alam jaga. Sesungguhnya alam mimpi itu adalah bagian dari alam barzah yang dapat dimasuki manusia saat hidupnya di dunia. Buktinya, seandainya orang yang bermimpi itu tersesat di alam mimpinya sehingga ia tidak dapat kembali lagi ke alam jaga, maka bisa dibayangkan apa yang diperbuat oleh orang lain terhadap jasad yang telah ditinggalkan oleh kehidupan yang tersesat tersebut.

Tentunya jasad itu segera diantar oleh para kerabat ke liang lahat Allah menyatakan dua alam itu dengan firman-Nya : “Dia (Allah) membiarkan dua lautan mengalir yang kemudian saling bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dapat dilampaui.” (Q.S. Ar-Rahman/55 : 19-20).

Jika ada orang bertanya : Yang seperti diuraikan di atas adalah interaksi ruhaniah disaat manusia sedang tidur, lalu bagaimana gambarannya apabila kejadian itu terjadi di alam jaga? Jawabnya: “Sudah diuraikan di atas bahwa alam manusia mencakup dua dimensi, baik dimensi jasmani (lahir) dan dimensi ruhani (batin).

Dimensi jasmani disebut Basyariah, sedangkan yang ruhani disebut Nubuwah atau Risalah bagi seorang Nabi/Rasul dan disebut Walayah (bagi orang beriman yang bukan Nabi bukan Rasul).

Allah berfirman : “Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka Kitab, Hikmah dan Nubuwah (Kenabian).” (Q.S. Al-An‘am 6 : 89). Di ayat yang lain Allah telah berfirman : “Katakan bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwa Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa.” (Q.S. Fushilat : 41; 6).

Yang dimaksud basyariah (basyarum mitslukum (Q.S.41/6) adalah : “Ruh kehidupan‘ yang menghidupi jasad kasar‘ manusia secara manusiawi, baik yang terbit dari kemauan (iradah) maupun kemampuan (qudrah) yang sesuai pembawaan fitrah manusia sejak lahir.

Basyariyah itu mencakup segala aspek kecerdasan manusia termasuk juga intelektual, spiritual dan emosional, dengan kemauan dan kemampuan itu manusia menjalankan kehidupannya di dunia untuk menggapai segala cita-cita dan harapan hidup di masa mendatang.

Adapun yang dimaksud Nubuwah atau walayah adalah apa yang dimaksud dengan ayat di atas; ّ يُىحَى إِلَي Yuuhaa ilaiyya (diwahyukan kepadaku). Yaitu wahyu atau ilham atau inspirasi yang masuk dalam hati manusia yang datangnya dari urusan ketuhanan, bukan yang terbit dari kemauan dan kemampuan manusiawi.

Dengan walayah itu supaya basyariyah manusia terbimbing untuk mengikuti hidayah Tuhannya, sehingga jalan hidup seorang hamba dapat berjalan mengikuti ketetapan hidup‘ yang sudah di tetapkan Allah sejak zaman azali. Rasulullah Saw menyatakan hal itu dengan sabdanya : “Allah mendidikku dan Allah memperbaiki pendidikanNya kepadaku” (atau dengan kalimat yang searti).

Baca juga...  Mengamalkan Tauhid Dengan Sebenarnya, Menyebabkan Masuk Syurga Tanpa Hisab

Sebagaimana juga yang dinyatakan Allah melalui firman-Nya : “Allah adalah Walinya orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada Cahaya.” (Q.S. Al-Baqarah : 2/257).

Dan firman-Nya pula : “Dan tidaklah yang diucapkan itu menuruti hawa nafsu, ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Q.S. An-Najm : 53/3-4).

Juga firman Allah : “Sesungguhnya Waliku ialah Allah yang telah menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) dan Dia memberikan Walayah kepada orang-orang yang shaleh.” (Q.S. Al-A‘raaf : 7/196).

Dengan adanya walayah dalam diri seseorang, berarti orang tersebut mendapatkan dua sumber ruh kehidupan‘, pertama dari seluruh aspek kecerdasannya sendiri dan kedua dari rahasia tarbiyah (pemeliharaan) Allah secara berkesinambungan.

Jadi, dengan walayah tersebut berarti manusia mendapatkan tingkat derajat atau Maqam di sisi Allah yang tidak gampang dimiliki orang pada umumnya, meskipun maqam itu secara lahir adalah buah ibadah dan perjuangan yang didasari hati yang ikhlas.

Maqam itu semata-mata diturunkan Allah kepada seorang yang dipilih sejak zaman azali, dengan maqam itu seorang hamba berpotensi mendapatkan fasilitas (syafa‘at), baik secara ilmiah maupun amaliah yang hakekatnya adalah rahasia pengaturan Allah yang berupa penjagaan, pertolongan maupun pemeliharaan terhadap seorang hamba yang dicintai-Nya yang sumber asalnya didapatkan dari warisan para Nabi dan para Rasul.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw :
اؾعؾؿكءًورثيًاّـلقكء
“Ulama’ adalah pewaris para Nabi”. Secara lahir, basyariyah dan walayah kelihatannya seakan-akan tidak berbeda, keduanya merupakan sumber kehidupan yang memancar dari jiwa manusia yang sama, namun secara batin hakikatnya berbeda.

Kehidupan basyariyah terbit dari kemauan manusia sedangkan walayah dipancarkan dari urusan rahasia ketuhanan, oleh karenanya, untuk menghidupkan kehendak walayah tersebut, terlebih dahulu manusia harus mampu meredam kehidupan basyariyahnya sendiri, baik secara vertikal
maupun horizontal.

Secara vertikal dengan melaksanakan shalat dan dzikir sedangkan secara horizontal dengan melaksanakan sabar dan syukur, yang demikian itu dilakukan untuk tujuan semata-mata untuk menggapai ridha Allah. Itulah hakikat ibadah yang juga disebut mujahadah di jalan Allah atau dengan istilah lain disebut meditasi Islami.

Ketika dengan mujahadah dan riyadhah yang dilakukan itu seorang hamba berhasil menghidupkan kehendak walayah walaupun sedetik atau lebih singkat lagi, maka ia telah memasuki suatu kondisi seperti alam orang mati atau alam orang tidur.

Sebagaimana yang dimaksud dengan ayat di atas : “Allahu Yatawaffal an-fusa Hiina Mautihaa.” (Q.S. 39 : Ayat 42). Dalam keadaan seperti itu, berarti orang tersebut berpeluang memasuki sebuah potensi terjadinya interaksi ruhaniah, baik terhadap orang yang masih hidup maupun orang mati.

Amaliah lahir yang dikerjakan seorang salik dalam rangka melaksanakan Mujahadah dan Riyadhah tersebut disebut Dzikir, ketika dzikir itu dilaksanakan dengan benar dan mampu melewati titik kulminasi antara dua alam yang ada dalam jiwa manusia, maka dzikir itu akan membuahkan suatu proses pemahaman yang disebut Fikir, lalu buah Fikir itu disebut dengan Ibroh (kesimpulan).

Yang dimaksud dengan Dzikir, Fikir dan Ibrah tersebut sesungguhnya adalah tingkat-tingkat pencapaian (maqamat) 7 yang harus dicapai oleh seorang hamba di dalam melaksanakan mujahadah atau riyadhah di jalan Allah.

Dalam pelaksanaan pengembaraan ruhaniyah, setiap terjadi perpindahan dari satu tingkat kepada tingkat yang berikutnya, dengan izin Allah seorang salik terkadang dapat memasuki titik klimaks perjalanan ruhani, itulah batas alam lahir dan alam batin yang ada dalam jiwa manusia, meskipun titik 7 Maqaamat (stasiun), yaitu tingkatan yang harus diusahakan oleh seorang sufi dalam rangka menuju ma‟rifatullah (mengenal Allah) yang bersifat permanen atau tetap.

Klimaks itu dialami hanya dalam waktu yang sangat singkat, yang keadaannya seperti antara sadar dan tidak sadar padahal sadar, saat-saat seperti itulah, kondisi yang sangat ditunggu-tunggu oleh para salik.

Baca juga...  Inabah Kepada Allah

Karena setelah masa klimaks itu terlewati dan kesempurnaan kesadaran berangsur-angsur pulih kembali, segala sesuatu yang datangnya dari urusan ketuhanan dapat terjadi dengan tanpa terduga, ketika pengosongan itu terkondisi dengan sempurna maka yang masuk kemudian diharapkan sesuatu yang datangnya dari urusan ketuhanan.

Dalam keadaan seperti itu, seorang salik dapat merasakan kenikmatan ruhani yang luar biasa yang tidak dapat digambarkan oleh suatu katapun, kenikmatan ruhaniyah tersebut akan membekas seumur hidup. Demikian itu karena hati sang pengembara telah mendapatkan Futuh (terbukannya matahati) dari Tuhannya.

Hati yang rindu itu telah menemukan buah ibadah yang dipetik di dunia yang selanjutkan akan mampu dijadikan standar ukuran bagi hidupnya, dengan pengalaman spiritual itu, menjadikan mereka tidak lagi mudah tergoda oleh tipu daya setan yang selalu menghadang jalan ibadah.

Seperti itulah proses masuknya ilmu rasa dalam hati seorang hamba, pemahaman hati yang mampu menancapkan kenikmatan azaliah yang diturunkan didunia fana yang terkadang mampu menjadikan hati seorang hamba mabuk cinta kepada Tuhannya sehingga mendorongnya untuk berbuat lebih mengutamakan urusan akherat daripada urusan dunia.

Pengalaman spiritual yang mampu menjadikan hati seorang hamba yakin terhadap Allah, Rasul-Nya dan hari akhirat, ilmu batin yang menjadikan manusia mampu menindaklanjuti dan mengaplikasikan seluruh potensi aspek kecerdasan secara lahir yang sudah dimilikinya.

Ilmu yang menjadikan manusia pandai berbuat untuk menata diri sendiri bukan hanya pandai berbicara untuk menata urusan orang lain, keadaan yang dipaparkan di atas digambarkan Allah dengan beberapa ayat di bawah ini.

Allah berfirman-Nya : “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran dan urusan Kami hanyalah satu, bagai satu kedipan mata.” (Q.S. Al-Qamar/54 : 49-50). Di dalam Al-Qur’an Surat yang lain Allah telah menggambarkannya dengan lebih terperinci sebagaimana firman-Nya : “Ketika Sidraah diliputi oleh yang meliputi penglihatan tidak berpaling dan tidak melampaui, sesungguhnya dia telah melihat sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Tuhannya yang paling besar.” (Q.S. An-Najm/53 : 16-18).

Lafad As-Sidrah dalam ayat di atas, menurut pendapat sebagian ulama ahli tafsir adalah Asy-Syajarah, yang berarti pohon, yaitu pohon yang tumbuh di dalam hati sanubari seorang hamba, sebagaimana termaktub dalam Q.S. Ibrahim : 24.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan, Kalimat yang baik seperti Pohon yang baik…..”. (Q.S. Ibrahim : 14/24). Adapun secara khusus, yang dimaksud lafadz “Sidrah” diayat ini adalah Sidratul Muntaha.

Sebagaimana firman Allah :
عَـْدًَدَدْرَةًَاؾْؿُـْمَفك
“Di Sidratil muntaha.” (Q.S. 53 : 14). Sidratul Muntaha adalah terminal terakhir yang mampu dicapai oleh indera (alat perasa) makhluk, meskipun itu juga harus dengan bimbingan Wahyu, artinya setelah seorang hamba mampu melewati terminal tersebut, berarti selanjutnya ia akan memasuki dimensi yang berbeda.

Dia memasuki dimensi alam ruhaniah, di mana seorang hamba berpotensi untuk berinteraksi dengan ruhani para guru-guru ruhaniah yang telah meninggal dunia, keadaan itu, seperti orang yang berhasil membuka situs di alam mayapada (internet), kemudian ia melihat data maupun progam yang telah tersedia di sana.

Ketika ia berhasil memindahkan (download) apa-apa yang dilihatnya dalam situs tersebut ke dalam file yang ada di dalam hard disk computernya, maka proses perpindahan data dan progam dari situs ke dalam file tersebut adalah gambaran proses masuknya “Ilmu Laduni” dalam hati seorang murid yang dihasilnya melalui proses interaksi antara seorang murid dengan guru mursyidnya yang sudah mati.

Bukannya ruh orang mati dapat hadir di alam dunia, ketika seorang salik berhasil melaksanakan interaksi ruhaniyah dengan ruhani guru mursyidnya, namun itu terjadi dengan izin Allah.

Baca juga...  Menggapai Khusnul Khatimah

Ruhani orang yang masih hidup berpotensi menembus dimensi alam barzah serta dapat memindahkan apa-apa yang sudah disimpan di sana, yang dipindahkan itu adalah atsar (tapak tilas ibadah) yang sudah dilakukan oleh para pendahulunya.

Atsar tersebut, walaupun pemiliknya sudah meninggal dunia akan tetap terjaga sampai hari kiamat di Lauh Mahfudz, sebagai sebuah diary yang nantinya dapat dibaca kembali oleh pemiliknya kelak di hari kiamat.

Bagaikan situs-situs yang bertebaran di mayapada, maka seorang hamba yang mampu mengakses salah satunya dengan pelaksanaan tawasul kepada pemiliknya, dia akan dapat memanfaatkan data maupun fasilitas yang tersimpan di dalamnya.

Allah mengisyaratkan hal itu dengan firman-Nya : “Sesungguhnya Kami
menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfudh).” (Q.S. Yaasin : 12).

Jadi, buah yang bisa dipetik dari hasil sebuah proses interaksi ruhaniah antara murid dan gurunya adalah “ilmu laduni” yang diwariskan oleh pemilik sebelumnya yaitu guru Mursyid yang ditawasuli, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat.

Buah yang dipetik itu adalah bentuk transfer pemahaman hati, bukan ilmu pengetahuan secara aqliah dan juga bukan penampakan secara hayaliah, inilah buah thariqat yang paling utama, maka jadilah kadang-kadang ilmu yang dimiliki para murid selalu sama jenis dan sifatnya dengan ilmu yang dimiliki para guru Mursyidnya.

Manakala buah yang didapatkan dari interaksi antara dua dimensi yang berbeda itu adalah penampakan-penampakan dalam bentuk gambar yang masih mengandung keraguan dan tanda tanya besar dalam hati, maka yang demikian itu bukanlah buah interaksi ruhaniah yang dicari.

Akan tetapi merupakan hasil rekayasa sihir yang dimunculkan oleh setan jin di dalam hayal manusia yang tujuannya untuk menyesatkan perjalanan ibadah, hal itu bisa terjadi, karena pelaksanaan Tawasul itu tidak terbimbing oleh guru ahlinya.

Inilah yang dimaksud dalam sebuah ungkapan “Barang siapa beramal tanpa guru maka gurunya adalah syetan.” Adapun yang dimaksud “Al-Muntaha”, (tujuan terakhir) adalah berjumpa dengan Allah.

Maksudnya, dengan ibadah yang dilakukan itu hendaknya seorang hamba tidak mengharapkan syurga dan takut neraka, akan tetapi bagaimana hatinya dapat wushul atau sampai dengan Tuhannya, sehingga dengan itu ia dapat merasakan manisnya ibadah dan mendapatkan ridloNya baik di dunia maupun disyurga.

Allah menyatakan dengan firman-Nya : “Dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu).” (Q.S. An-Najm : 53/42). Walhasil, yang dimaksudkan Sidrah bukanlah tempat atau masa, akan tetapi keadaan atau kondisi yang ada di dalam jiwa seorang hamba yang sedang rindu dan mencapai titik klimaks dalam pengembaraan untuk mencari titik pertemuan dengan Tuhannya, kondisi tersebut tidak akan dapat dicapai kecuali oleh hati seorang hamba yang dikehendaki-Nya.

Jika orang mengira yang dimaksud “Sidratul Muntaha” adalah suatu tempat, maka ia akan terpeleset kepada ‘salah tafsir‘ yang teramat jauh, hal itu karena Allah tidak membutuhkan tempat tinggal. Jadi, yang dimaksud Sidratul Muntaha adalah suatu keadaan yang terjadi dalam jiwa seorang hamba.

Keadaan tersebut tidak dapat digambarkan oleh siapapun dan dengan suatu apapun, baik ucapan maupun perasaan, hanya seorang hamba yang
pernah merasakannya yang mampu mengetahui hakikatnya, kita hanya mampu berusaha memahami dari apa yang sudah ditamsilkan Allah melalui firman-Nya, di saat Allah mengabadikan peristiwa tersebut dalam Al-Qur‘an Al-Karim, peristiwa sejarah yang pernah dialami oleh Nabi Musa As di gunung Thur.

Allah berfirman yang artinya : “Ketika keadaan itu ditimpakan kepada gunung, gunung tersebut menjadi hancur berantakan.” (Q.S. Al-A’raf : 143).

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya