oleh

Dua Sifat dan Ilmu yang Berbeda

Dua Sifat yang Berbeda

Sifat Ilmu Laduni pada contoh yang pertama, yaitu Ilmu Laduni yang di datangkan kepada Nabi Muhammad Saw, ilmu tersebut adalah Ilmu Laduni yang di berikan Allah Ta‘ala tidak melalui (wasilah) manusia, tapi melalui Malaikat Jibril As.

Ilmu tersebut di turunkan dengan wahyu secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun masa terutusnya beliau sebagai Rasul. Adapun sifat Ilmu Laduni pada contoh kejadian kedua, yaitu Ilmu Laduni yang di cari Nabi Musa As dari Nabi Khidhir As.

Ilmu itu adalah Ilmu Laduni yang di datangkan melalui (wasilah) manusia, hal itu sebagai buah perjalanannya (thariqat) bersama bimbingan guru mursyid yang sejati.

Dengan demikian itu menunjukkan, meski yang di maksud Ilmu Laduni adalah ilmu yang di datangkan dari Allah Ta‘ala, tapi ilmu itu tidak di datangkan kepada seorang hamba kecuali melalui perantara (wasilah), yaitu dari seorang hamba Allah (guru mursyid.

Carilah guru mursyid yang di kenal keshalihannya

Apabila guru itu seorang manusia, guru tersebut harus di kenal dengan jelas oleh penerimanya, seperti contoh Nabi dari malaikat Jibril dan perjalanan Nabi Musa As dengan Nabi Khidhir As.

Guru-guru tersebut adalah seorang hamba Allah yang mulia yang terlebih dahulu telah mendapatkan Ilmu Laduni dari-Nya, oleh karena itu, apabila ada kelebihan-kelebihan yang diberikan kepada manusia yang datangnya tidak melalui proses.

Sebagaimana yang di contohkan Al-Qur‘an Al-Karim tersebut di atas, berarti kemampuan itu, meski berbentuk ilmu pengetahuan adalah bukan Ilmu Laduni, akan tetapi boleh jadi hanya kelebihan-kelebihan yang sifatnya sementara (istidraj) yang datangnya dari syetan.

Hati-hati dengan Istidraj

Istidraj tersebut, ketika masa tangguhnya telah berakhir akan hilang sama sekali dengan tanpa membawa kemanfaatan sedikitpun, bahkan akan menarik pemiliknya kepada kehancuran baik di dunia maupun di akhirat.

Baca juga...  Tentang Muhasabah

“Orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami berikan istidraj, dengan cara yang tidak mereka ketahui dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (Q.S. Al-A‘raaf/182-183).

Jika demikian keadaannya maka sekarang timbul pertanyaan : “Apakah melaksanakan thariqat di dalam agama Islam bagi umat Islam, merupakan suatu keharusan atau kebutuhan? Jawabannya adalah :

1. Bagi orang yang membutuhkan untuk mengikuti thariqat, karena mereka sudah mengenal tapi belum dapat merasakan hasilnya, maka pelaksanaan thariqat itu merupakan suatu keharusan.

2. Bagi orang yang sudah menyadari akan keharusan untuk berthariqat, karena mereka sudah dapat merasakan hasilnya maka pelaksanaan thariqat itu adalah kebutuhan.

3. Bagi yang belum kenal sama sekali tentang ilmu thariqat, maka mereka wajib mengenalinya sebagai bentuk kewajiban bagi setiap pribadi muslim untuk menuntut ilmu pengetahuan.

Maksud berthariqat

Adapun yang di maksud Thariqat itu bisa berarti hanya sekedar pengamalan ilmu dan iman, seperti melaksanakan shalat dhuha supaya rizqinya menjadi lapang atau membaca surat Waqi‘ah yang di yakini dapat mendatangkan rizqi.

Bisa juga berarti melaksanakan thariqat secara kelompok (jama‘ah), seperti Thariqat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah atau kelompok thariqat yang lainnya, orang mengerti dan percaya (iman) bahwa shalat dhuha dapat melapangkan rizqi, kemudian mereka menjalankannya dengan dawam (istiqamah), dengan harapan (tujuan) supaya rizqinya mendapatkan kelapangan dari Allah Ta‘ala.

Pelaksanaan amal tersebut, namanya thariqat (jalan), yang demikian itu, supaya amal tersebut dapat menghasilkan kemanfaatan yang optimal sebagaimana yang di harapkan, oleh karena itu bagi orang yang sudah membutuhkan hasil yang di harapkan dari pelaksanaan shalat dhuha tersebut.

Pelaksanaan shalat dhuha itu menjadi keharusan baginya, sebab tanpa pelaksanaan amal tersebut, tidak mungkin seseorang mendapatkan apa-apa yang di harapkan dari Allah Ta‘ala.

Baca juga...  Macam-Macam Tasawuf Falsafi

Demikian pula orang yang melaksanakan thariqat secara berkelompok, ketika mereka membutuhkan dari hasil thariqat yang di jalani tersebut, yakni cemerlangnya matahati supaya dapat bermusyahadah kepada Allah Ta‘ala, supaya dapat berma‘rifat dan mencintai-Nya.

Pelaksanaan thariqat baginya adalah keharusan, mereka harus melaksanakan thariqat itu supaya apa-apa yang di cita-citakan dapat terwujud, adapun orang yang sadar akan keharusannya untuk melaksanakan thariqat, karena mereka mengetahui bahwa satu-satunya jalan untuk meningkatkan syari‘at yang di miliki.

Supaya dapat mencapai hakikat yang di harapkan menghasilkan keyakinan dari apa-apa yang sudah di imani dalam hatinya hanyalah dengan jalan berthariqat, maka berthariqat adalah merupakan kebutuhan yang mutlak baginya, oleh karena itu, hanya orang-orang yang tidak mengerti tentang thariqat saja, yang tidak mengerti bahwa untuk mencapai segala harapan hidupnya harus dengan jalan amal.

Seperti sebuah pepatah mengatakan, tidak kenal maka tidak sayang, kadang-kadang malah mereka menolak berthariqat, mereka menolak sesuatu yang seharusnya penting untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri, ironisnya mereka bahkan menganggap bahwa orang-orang yang melaksanakan thariqat adalah kelompok yang telah berbuat bid‘ah dan syirik, akibatnya, orang yang demikian itu hidupnya selalu dalam keraguan.

Sedikitpun mereka tidak mempunyai keyakinan, baik dalam bicaranya, amal perbuatannya dan juga prinsip-prinsip hidupnya, sebagian dari mereka bisanya hanya menyalahkan perilaku orang lain tanpa tahu bahwa jalan hidupnya sendiri sesungguhnya salah.

Apakah orang dapat mencapai kepada yang di harapkan tanpa harus berusaha? padahal semua orang memaklumi bahwa setiap usaha pasti ada jalannya, maka yang di maksud, jalan usaha itulah yang di namakan thariqat.

Berthariqat jangan tinggalkan atau lalaikan syari’at

Rasulullah Saw bersabda dalam satu haditsnya : Syari‘at itu adalah ucapanku, thariqat itu adalah perbuatanku dan hakikat itu adalah keadaan hatiku, oleh karena itu, syari‘at, thariqat dan hakikat seharusnya menjadi suatu kesatuan yang tidak dapat di pisahkan dalam hidup manusia.

Baca juga...  Firar dan Riyadhah

Ilmu syari‘at adalah ibarat bibit tumbuhan, pelaksanaan thariqat dan mujahadah ibarat menanam bibit-bibit dan menggarap tanah, sedangkan Ilmu Laduni atau ma‘rifatullah adalah buah yang setiap saat dapat di petik dari tanaman yang sudah tumbuh subur.

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.

“Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (Q.S. Ibrahim/24-25). Walhasil, bagi orang yang mengenal dirinya sendiri, mengenal hak dan kewajibannya sebagai
seorang hamba yang harus mengabdi kepada Tuhannya.

Kenalilah kebutuhan hidup seperlunya

Mengenal kebutuhan hidupnya, mengenal tujuan hidup yang harus di tempuh dan di jalani, mengenal harus bagaimana dan untuk apa hidup dan
mati ini di ciptakan, mengenal tahapan-tahapan kehidupan yang sudah dan akan di jalani, maka pelaksanaan thariqat.

Baik sebagai pelaksanaan ilmu dan iman maupun secara kelompok adalah kewajiban dan sekaligus kebutuhan hidup yang harus di jalankan bagi setiap individu orang yang beriman, baik untuk keberhasilan hidupnya di dunia maupun di akhirat.

Orang yang demikian itu di namakan orang yang ma‘rifatullah‖, ma‘rifat (mengenal) dirinya sendiri dan mengenal urusan Tuhannya.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru