oleh

Gunjing Atau Ghibah

Konon katanya, ngerumpi atau menggosip adalah merupakan tradisi kaum wanita, meski bukan juga suatu jaminan, bahwa kaum laki-laki selamat dari kebiasaan ini, mungkin saja tidak berlaku pendapat sedemikian, seperti yang biasa terlihat setiap hari pada warung-warung kopi, secara mayoritas tema pembicaraan tak lebih dari gosip, gunjing atau ghibah. 

Sekilas memang terasa mengasyikkan, hingga jarang kita temui majelis-majelis yang bersi dari kegiatan gunjing-menggunjing alias ngerumpi alias gosip (muhota bahasa melayu pasir pengaraian), banyak dari kita menganggap remeh dan sepele masalah ini, berawal dari anggapan itulah, syaitan dapat dengan mudah menyeret kita dalam maksiat.
 
Syubhat-syubhat yang dihembuskannya, membuat kita merasa aman dari dosa, pada saat asyik membicarakan aib dan kekurangan saudara kita, pepatah mengatakan, lidah tak bertulang tapi bisa lebih tajam dari sebilah pedang. Bagaimana tidak? Lidah yang tidak terjaga bisa menyulap perasaan cinta menjadi kebencian, persaudaraan menjadi dendam kesumat, mencerai-beraikan persatuan dan melahirkan sikap saling bermusuhan. 

Lebih dari itu, lidah yang tidak terpelihara dapat menyeret pemiliknya ke dalam Jahannam pada hari kiamat kelak, bila demikian besar bahaya perbuatan ghibah (ngerumpi) ini, lalu mengapa kaum muslimin masih sangat sering melakukannya? Bahkan, mereka yang telah berpredikat sebagai ‘orang ngaji’ sekalipun, ternyata tanpa mereka sadari sering tergelincir ke dalam perbuatan ini.

Selain dari faktor lemahnya iman seseorang, bisa jadi hal itu terjadi karena mereka kurang memahami, hingga mereka menganggap sah-sah saja perbuatan ghibah yang dilakukan itu.

Pengertian Ghibah

Diriwayatkan dari Mathlab bin Abdullah radiyallahu’anhu, dia berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Ghibah, adalah engkau menyebut-nyebut orang lain yang tidak ada di sisimu dengan sesuatu yang ada padanya. Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Ghibah, adalah engkau menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak ia sukai.
 
Dari kedua hadits di atas jelaslah, bahwa yang dimaksud dengan ghibah ialah engkau menyebut-nyebut orang lain dengan apa yang tidak ia sukai, apapun motivasinya. Baik karena kesal dan amarah, untuk menyesuaikan dengan diri dengan kawan, ingin mengangkat diri sendiri dengan menjelek-jelekkan orang lain, iri dengki, untuk membuat orang lain tertawa, apalagi hanya sekedar untuk mengisi waktu luang belaka, bila apa yang engkau katakan adalah benar adanya, itulah ghibah dan jika tidak, maka sesungguhnya engkau telah berdusta atasnya.

Baca juga...  Manusia Memasuki Atau Merusak Habitat Jin Dengan Cara Yang Tidak Benar

Ghibah Termasuk Dosa Besar

Allah berfirman yang artinya : “Dan janganlah sebagian sekalian menggunjing sebagian yang lain, sukakah salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya yang telah mati? (Q.S Al-Hujurat : 12). Di dalam tafsirnya, Al-Qurthubi berkata : “Merupakan ijma’ ulama, bahwasannya ghibah itu termasuk dosa besar dan wajib bertaubat kepada Allah darinya.”.

Dikuatkan lagi oleh sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam : “Ghibah itu memiliki tujuh puluh dua pintu. Tingkatan ghibah yang paling rendah adalah seumpama seseorang yang menggauli ibunya. Dan riba yang paling keji adalah menjelek-jelekan kehormatan saudaranya.”

Ancaman Bagi Para Pelaku Ghibah

Diriwayatkan dari Anas radiyallahu’anhu, dia berkata, Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam bersabda : “Ketika aku dinaikkan ke langit dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga yang mereka gunakan untuk mencakar-cakar wajah dan dada mereka. Akupun bertanya, “Wahai Jibril, siapakah mereka itu?” Dia menjawab, “Mereka adalah orang yang memakan daging manusia (menggunjing) dan mengusik kehormatan mereka (mencemarkan nama baiknya).”
 
Janganlah terpedaya dengan anggapan, bahwa yang kita omongkan itu sebagai perkara sepele. ‘Aisyah radiyallahu’anhu menuturkan, aku pernah berkata kepada Nabi, “Cukuplah bagimu Sya yyah itu begini…begini…(dia bertubuh pendek),”, maka Rasulullah Saw bersabda, “Sungguh engkau telah mengatakan sutau perkataan yang jika aku campur dengan air laut, niscaya air laut itu akan berubah.”
 
Selain itu, ghibah merupakan salah satu penyebab siksa kubur, dalam sebuah hadits disebutkan, bahwasanya Rasulullah Saw melewati dua buah kuburan, lalu beliau menggambarkan bahwa penghuni kedua kubur tersebut sedang disiksa. Beliau menan apkan pelaplah kurma yang masih basah padanya seraya bersabda, “Sesungguhnya hal itu akan meringankan mereka, selama pelepah ini masih basah. Dan tidaklah mereka disiksa, melainkan karena menggunjing dan buang air kecil.”
 
Dalam riwayat lain, dari Jabir radiyallahu’anhu dia berkata, “Ketika kami tengah bersama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam tiba-tiba kami men ium bau busuk. Kemudian Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam bertanya : “Apakah kalian mengetahui, bau apakah ini? Beliau bersabda, “Ini adalah bau orang yang menggunjing orangorang mukmin.”

Baca juga...  Macam-macam Nazar
Orang Yang Menggunjing Dan Yang Mendengarkannya Sama-sama Berdosa

Berhati-hatilah, bahwasanya, yang diancam oleh syari’at bukan hanya orang yang menggunjing, namun termasuk juga orang yang mendengarkannya.

Hal itu dapat kita pahami dari beberapa hadits. Diantaranya ialah hadits Al-Aslami yang datang kepada Rasulullah Saw untuk bertaubat dari perbuatan zina yang telah ia lakukan, hingga kemudian ia dirajam. Kemudian Rasulullah Saw mendengar dua orang anshar sedang berbisik, dia mengatakan kepada kawannya, “Lihatlah orang ini. Allah telah menutup aibnya, namun ia membiarkan dirinya dirajam seperti dirajamnya anjing.” Orang yang berkata seperti itu hanyalah satu, sedangkan yang lainnya hanyalah mendengarkan. Namun apa hasilnya? Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam bersabda,” Makanlah oleh kalian bangkai ini!” Kemudian beliau berkata kepada mereka, “Apa yang kalian peroleh dari mengusik kehormatan orang ini, (sungguh) lebih berat daripada memakan bangkai ini.
 
Demikianlah, maka sudah selayaknya kita berpaling dari majelis-majelis syetan tersebut, sampai mereka meninggalkan pembicaraan ghibah, sebaliknya jika mampu, hendaknya kita berusaha untuk membela dan melindungi kehormatan dan saudara kita itu, Rasululllah sallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa yang melindungi kehormatan saudaranya, maka baginya tabir (penghalang) dari api neraka.

Ghibah Adalah Rintangan Beramar Ma’ruf Nahi Munkar

Ketahuilah bahwa seseorang yang gemar berbuat ghibah adalah orang yang lemah iman lagi pengecut, jika kita benar dalam menjalankan ajaran agama, ikhlas dalam mengerjakannya, tentunya kita akan bergegas pergi untuk menemui orang yang kita anggap mempunyai aib atau dosa. Kita akan mengingatkannya dan mengajaknya berbuat baik, serta men egahnya dari berbuat kemungkaran, bukan dengan menggunjing aibnya di belakang punggungnya.

Ghibah Yang Diperbolehkan

Berdasarkan dalil-dalil syar’i, ada beberapa jenis ghibah yang diperbolehkan, namun, hendaknya seseorang waspada dari tipu daya syetan yang akan membuka pintu-pintu dosa baginya. Oleh karena itu, dalam melakukan ghibah yang diperbolehkan ini, harus dibatasi serta diiringi dengan niat yang yang lurus.
 
Ghibah yang diperbolehkan dalam syari’at antara lain.

  1. Pengaduan kepada penguasa atau hakim.
  2. Meminta fatwa, misalnya seseorang bertanya kepada seorang Mufti (pemberi fatwa), “Si Fulan telah berbuat zhalim kepadaku, bagaimana caranya agar aku bisa berlepas diri darinya?”
  3. Meminta bantuan untuk merubah kemungkaran, menghilangkan cobaan (penderitaan) dari seseorang. Berdasarkan hadits Fatimah binti Qais yang datang kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam seraya mengatakan kepada beliau, bahwa Mu’awiyah dan Abu Jahm hendak menikahinya. Kemudian Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Muawiyah itu orang miskin. Adapun Abu Jahm adalah orang yang tidak pernah menaruh tongkat dari pundaknya (orang yang kejam dan kasar).”
  4. Untuk mengingatkan kaum muslimin dari orang yang suka berbuat jahat dan merugikan mereka.
  5. Menyebut orang yang melakukan kefasikan secara terang-terangan atau pelaku bid’ah dengan kebid’ahannya dan tidak menyebut selainnya.
  6. Mengenali orang yang biasa dipanggil dengan julukan tertentu bukan dengan maksud untuk mengejek atau merendahkannya, misalnya, seseorang masyhur dengan julukan si pincang, si gagu atau yang lainnya, namun meninggalkannya tentu lebih baik.
Baca juga...  Bedakan Antara Bagian Dan Kewajiban

Taubat Dari Ghibah

Ketahuilah, bahwa taubat dari ghibah itu hukumnya wajib, maka bersegeralah untuk bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepadanya. Ada beberapa syarat untuk bertaubat dari ghibah, yaitu :

  1. Hendaknya orang yang menggunjing itu mencabut omongannya (gunjingannya).
  2. Hendaknya ia menyesali perbuatannya.
  3. Hendaknya ia bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan itu selama-lamanya.
  4. Hendaknya ia meminta maaf kepada orang yang digunjingnya, dan meminta kepada orang tersebut agar memohonkan ampun baginya. 

Mudah-mudahan Allah subhanahuwata’ala memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang mampu menjaga lisan, dari segala perkara yang tidak di ridhai-Nya, orang yang berakal dan wara’, maka kewara’annya akan menyibukkannya dari mencari aib orang lain sebagaimana orang sakit rasa sakitnya akan menyibukkannya dari menyakiti manusia.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya