oleh

Haji Sebagai Upaya Pembentukan Kepribadian Muslim

Haji Sebagai Upaya Latihan Paripurna Pembentukan Kepribadian Muslim

Ibadah haji dikatakan merupakan kesempurnaan Islam dan secara syar’i dikatakan wajib sekali seumur hidup. Ini mengandung makna bahwa jika latihan ini dilakukan secara benar, sekali saja, bekas pengalaman yang didapat akan mampu membimbing manusia seumur hidupnya.

Mengapa? Sebab latihan ini melibatkan empat latihan secara serentak dilakukan bersama-sama dalam satu ritual ibadah haji, dengan setting situasi dan kondisi mendekati alam hakiki dimana apa yang menjadi janji Allah diwujudkan secara nyata. Misalnya janji Allah atas balasan bagi orang yang menolong orang lain, Allah akan memberi pengalaman balasan langsung, bahkan atas perilaku sebelumnya di tanah air, Allah bukakan sedikit akan hakikat dan balasannya. Hijab belenggu nafsu dan syetan diangkat oleh Allah dan dikondisikan masuk pada kehidupan hakiki.

Intinya latihan paripurna secara sengaja diciptakan oleh Allah untuk memberi pengalaman kepada manusia masuk dalam alam hakiki, sesuai dengan fitrah manusia dan aturan Allah. Siapa yang patuh akan memperoleh imbalan dengan kepatuhan dan amalnya, siapa yang melanggar akan mendapat imbalan sesuai dengan pelanggarannya baik pada ruh, jiwa, perilaku, hubungannya dengan Allah, sesama manusia, sesama makhluk dan seterusnya.

Pengalaman ini akan membekas, dan bisa membimbing manusia dalam menjalani hidup selanjutnya, inilah yang disebut haji mabrur, jika seseorang tidak sanggup masuk dalam pengkondisian latihan paripurna ini ibarat peserta yang tidak lulus seleksi, gugur sebelum dilatih, maka seperti berperan sebagai peninjau latihan, ikut hingar bingarnya tetapi tidak merasakan suka dukanya sehingga nyaris tidak ada pengalaman religius yang membekas, pantas kiranya jika sesudahnya perilakunya tidak berubah bahkan menjadi menjauh dari ruh Illahiyah, inilah haji mardud (yang tertolak).

Baca juga...  Al-Lahazat (Pandangan Mata)

Proses dan suasana latihan tersebut digambarkan Allah dalam Al-Qur’an sebagai berikut : “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niat dalam bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. (Q.S. Al-Baqarah (2) : 197).

Haji perupakan pusat pelatihan segalanya bagi muslim, dengan haji, seseorang dikondisikan untuk selalu mengingat Allah, berdoa, melepaskan pakaian kebesarannya dengan kerendahan hati, menguatkan persaudaraan. Di dalam haji kaum muslimin dilatih mengendalikan syahwat dan hawa nafsunya, ketika ihram tidak diperkenankan menggauli wanita, bertengkar, mencela, berdebat, mengucapkan hal-hal yang membangkitkan syahwat, tidak melakukan halhal yang menimbulkan kefasikan, dan wajib meninggalkan dosa-dosa kecil apalagi dosa besar, hingga kaum muslimin bisa meluruskan perilakunya.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru