oleh

Hakikat Manusia Menurut Islam

Hakikat Manusia Menurut Islam

Manusia adalah merupakan materi atau benda (madah) sesungguhnya merupakan pemikiran, manusia terdiri dari jasmani dan ruhani juga merupakan pemikiran, namun, pemikiran yang pertama, yaitu manusia adalah materi merupakan pemikiran yang haqiqi (nyata), karena realitasnya dapat di buktikan, sedangkan pemikiran yang kedua, yaitu manusia terdiri dari jasmani dan ruhani merupakan pemikiran yang allahaqiqiyyah (tidak nyata).

Sebab realitasnya tidak dapat di buktikan, pemikiran yang pertama dapat membentuk pemahaman (mafhum), sedangkan yang kedua tidak dapat membentuk mafhum, sebab, realitas pemikiran yang pertama dapat di temukan, sehingga makna pemikirannya bisa di fahami dan di bayangkan, namun, pemikiran yang kedua maknanya tidak dapat di fahami, karena realitasnya tidak ada.

Demikian halnya dengan realitas sebuah pemikiran, apakah pemikiran tersebut benar-benar nyata atau hanya imajinasi belaka sangat di tentukan oleh sesuai dan tidaknya dengan realitas yang ada, ketika pemikiran tersebut tidak sesuai dengan realitasnya, maka pemikiran tersebut merupakan pemikiran yang haqiqi (nyata) dan sebaliknya ketika pemikiran tersebut tidak sesuai dengan realitasnya, maka pemikiran tersebut merupakan pemikiran yang khada’ (manipulatif) atau khayaliyyah (utopis).

Jika manusia di nyatakan sebagai materi atau benda, maka pernyataan tersebut jelas bukan manipulatif apalagi utopis, sebab kenyataannya memang demikian, manusia di nyatakan sebagai materi atau benda, ketika terbukti bahwa diri manusia memang berbentuk benda yang bisa di raba dan di indera secara langsung, demikian halnya dengan gerakan tubuh manusia juga dapat di indera dan di raba.

Gerakan tubuh manusia juga mencerminkan adanya ruh (nyawa) dalam tubuh manusia, sehingga dapat di fahami, bahwa manusia mempunyai nyawa, hanya saja substansi ruh (nyawa) tersebut hanya bisa di fahami sebatas itu saja, tidak lebih dari itu, sebab ketika ruh manusia telah di cabut dari tubuhnya, tubuh tersebut tidak akan bergerak sama sekali, pada saat itu yang ada hanyalah tubuh yang berbentuk materi, jasad atau benda mati, karena itu, tumbuh-tumbuhan tidak bisa di sebut biotik, sebaliknya hewan di sebut makhluk hidup (biotik), sekalipun tidak sama dengan manusia, alasannya karena hewan mempunyai nyawa dan melalui gerakannya ciri-ciri kehidupan tersebut nampak, inilah yang di jelaskan oleh Allah dengan firman-Nya, yaitu : 

]وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا
أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً[

“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh, katakanlah: ‘Ruh itu merupakan urusan Tuhanku dan kalian tidak akan di beri pengetahuan tentangnya, melainkan hanya sedikit.” (Q.S. Al-Isra’ : 85).

Baca juga...  Ragam Kesaksian

Dengan demikian, manusia hanya bisa memahami bahwa dirinya mempunyai ruh terbatas pada tanda-tanda yang dia ketahui secara fisik, melalui ada dan tidaknya gerakan tubuh, dengan kata lain, manusia mempunyai ruh, karena dia masih kelihatan bergerak.

Inilah yang dapat di fahami dan inilah yang dapat membentuk mafhum, tapi, lebih dari itu, yaitu ketika manusia mempunyai tubuh yang merupakan materi dan ruh (nyawa) yang tidak nampak, maka manusia kemudian di nyatakan terdiri dari jasmani dan ruhani, tentu kesimpulan ini terlalu simplikatif dan merupakan pemikiran manipulatif atau bahkan utopis, karena ketika yang di maksud dengan ruh adalah bagian yang tidak nampak, bagaimana mungkin manusia dapat membuktikan realitas ruh tersebut dalam dirinya, sehingga bisa menjadi mafhum?

Karena yang nampak dari eksistensi ruh tersebut adalah gerakan tubuh manusia, sedangkan gerakan tubuh ini tidak lebih dari sekedar materi, maka manusia sejatinya merupakan materi.

Mengenai ruhani yang di nyatakan oleh kebanyakan orang sebagai bagian dari manusia, sebenarnya bersumber dari pandangan filsafat Yunani Kuno, yang mengatakan bahwa ruh merupakan bagian dari manusia, ruh di anggap sebagai limpahan Dzat Allah, jika ruh ini mendominasi materi, maka kepribadian manusia akan tinggi, sehingga tingkah laku (suluk)-nya akan mendekati kesempurnaan Ilahiyah, tapi jika materi tersebut mendominasi ruh, tingkah laku (suluk)-nya akan menjadi rendah.

Ruh yang di nyatakan seperti ini sesungguhnya bukan bagian dari diri manusia, ruh yang di maksud ini juga bukan nyawa, karena nyawa tidak dapat mempengaruhi tinggi dan rendahnya tingkah laku manusia, bukti lain adalah hewan, hewan mempunyai ruh (nyawa), tetapi hewan tidak mempunyai ruhani yang bisa mempengaruhi tingkah lakunya.

Baca juga...  Tawassul Sebagai Saksi

Dengan demikian, ruh yang di artikan sebagai ruhani sesungguhnya bukan merupakan bagian dari manusia, melainkan realitas yang berada di luar diri manusia, yang kemudian di peroleh manusia karena pemanfaatan potensi akal, yang di berikan oleh Allah kepadanya, ketika akal di gunakan untuk memahami hubungan manusia dengan Allah sebagai Sang Pencipta dirinya, alam dan kehidupan yang ada di sekitarnya, maka ruhani itu muncul.

Jadi, ruhani yang di maksud di sini sesungguhnya merupakan pengaruh dari kesadaran manusia mengenai hubungan antara dirinya dengan Allah, ketika kesadaran tersebut naik, maka kualitas tingkah lakunya akan meningkat, tentu ini tidak di peroleh dengan mudah begitu saja, melainkan harus disertai usaha dari manusia, usaha untuk melahirkan kesadaran mengenai hubungan antara dirinya, alam dan kehidupan dengan Allah, Allah selalu mengingatkan melalui firman-Nya, yaitu : 

]وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلاَ تُبْصِرُونَ[
“Dan di dalam dirimu (terdapat tanda-tanda kebesaran Allah), tidakkah kamu memikirkan?” (Q.S. Adz-Dzariyat : 21). 


]إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ ِلأُولِي اْلأَلْبَابالَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ[
“Sesungguhnya tentang penciptaan langit dan bumi, serta perubahan siang dan malam itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mempunyai akal, yaitu orang-orang yang senantiasa mengingat Allah ketika berdiri, duduk dan terbaring serta berfikir mengenai penciptaan langit dan bumi (seraya menyatakan) : ‘Tuhanku, tidakkah sia-sia Engkau ciptakan semua ini. Maha Suci Engkau, maka selamatkanlah kami dari adzab neraka.” (Q.S. Ali Imran :190).

Dengan demikian, kedudukan manusia sebagai makhluk yang di muliakan oleh Allah karena potensi yang di berikan kepadanya benar-benar akan terealisir, ketika akalnya di gunakan untuk meningkatkan kualitas hidupnya, dengan demikian, peradaban yang di hasilkannya juga akan menjadi peradaban yang tinggi sesuai dengan fitrah mereka.

Baca juga...  Firar dan Riyadhah

Di sinilah letak perbedaan yang mendasar antara manusia dengan hewan,, jika hewan adalah wujud materi yang tidak di beri akal, maka taraf kehidupan dan kualitas tingkah lakunya tetap rendah seperti itu, pada waktu yang bersamaan, hewan juga tidak pernah berperadaban dan tetap menjadi makhluk yang hina.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru