oleh

Hakikat Tawassul

-Tasawuf-2 views

Tawassul di sini adalah interaksi ruhaniyah, dengan melaksanakan hubungan dialektis antara ruhani seseorang dengan ruhani orang lain, baik ruhaniah orang yang masih hidup maupun yang sudah mati.

Interaksi itu dilaksanakan dalam rangka bersama-sama menempuh jalan ibadah menuju Allah, yang dimaksud “ruhani” adalah hakikat manusia yang di sebut nismatul ‘adamiyah yang saat hidupnya di dunia di bungkus dengan jismul mahsusah atau jasad kasar yang terdiri dari daging dan tulang.

Konkritnya, ketika orang mencari hakikat dirinya dengan sebuah pertanyaan: “Ini adalah tanganku, kakiku, kepalaku, jasadku, akalku, ilmuku, imanku, ibadahku, pahalaku dan bahkan hatiku dan ruhku, pertanyaannya, lalu “aku” itu siapa?.

Maka “aku” yang di cari itulah hakikat manusia yang di sebut dengan nismatul ‘adamiyah, jadi “aku” yang menghidupi jasad kasar itulah yang kehidupannya di pancarkan untuk mencari kehidupan “aku” nya guru-guru mursyid yang di tawassuli.

Di mulai dengan kebersamaan di dunia, baik secara maknawiyah maupun hissiyah, supaya nantinya orang yang bertawassul itu bisa bersama lagi di akhirat dengan orang yang di tawassuli, bersama-sama dengan orang-orang yang di anugerahi kenikmatan dari Allah, yaitu para Nabi, para Shiddiq, para Syuhada’ dan para Shalihin.

Adapun kebersamaan secara ma’nawiyah artinya, apa yang di lakukan oleh seorang murid, baik ilmu, amal maupun akhlak mengikuti apa-apa yang di wariskan dari guru-guru mursyidnya, yaitu para Shalihin, Syuhada’, Shiddiqqin dan Nabiyyin.

Ilmu, amal dan akhlak itu di amalkan dengan mengikuti sebagaimana yang sudah di amalkan para guru mursyid tersebut, itulah yang di sebut “Rabithatul amal”.

Rasulullah Saw telah memberikan isyarat hal itu dengan sabdanya : “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.” Adapun kebersamaan secara hissiyah adalah kebersamaan di dalam rasa atau yang di maksud dengan istilah “Rabithatul Mursyid”.

Allah membeberkan potensi kebersamaan tersebut dengan firman-Nya : “Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang di anugerahi kenikmatan dari Allah, yaitu para Nabi, para Shiddiq, para Syuhada’ dan para Shalihin dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya, yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.” (Q.S. An-Nisa’ (4) : 69-70).

Maksudnya, barangsiapa berbuat taat kepada Allah dan rasul-Nya sehingga mereka berhasil mencintai Rasulullah Saw di dunia, setelah matinya, mereka akan dikumpulkan bersama beliau, baik di alam barzah maupun di akhirat sebagai teman yang baik.

Kebersamaan inilah, merupakan keutamaan dari Allah yang sangat di dambakan oleh para ahli thariqat, mereka yakin, untuk dapat di kumpulkan bersama Rasul itu, jalan satu-satunya adalah terlebih dahulu harus berhasil di kumpulkan bersama guru-guru mursyidnya.

Baca juga...  Riyadhah

Ibnu Qayyim Ra di dalam kitabnya Ar-Ruh menafsiri ayat tersebut di atas, beliau berkata :

ػَّٔهٔماظْؿَعٔقٖيُمصٔىماظّٖارِماظّٗغِقَوموَدَارِماظْؾَِّزَحِموَدَارِماَّخَّٔةٔم.م

Bahwa Ma’iyah, (Kebersamaan) ini terjadi di dalam kehidupan baik selama di dunia, di alam barzah dan di hari akhirat.

Kebersamaan pertama adalah sebab yang harus di bangun oleh para ahli thariqat di dunia, dengan itu supaya mereka mendapatkan akibat, yaitu kebersamaan yang berikutnya baik di alam barzah maupun di hari akhirat sebagai balasan amal yang sudah di kerjakan itu.

Itulah “hukum sebab akibat” sebagai sunnah (sunatullah) yang tidak akan ada perubahan lagi untuk selamanya, Allah menegaskan hal itu dengan firman-Nya : “Dan bahwasanya manusia tiada memperoleh selain apa yang sudah di usahakannya dan bahwasanya usahanya akan di perlihatkan.” (Q.S. An-Najm (53) : 39-40).

Maksudnya, di alam akhirat, orang tidak mungkin mendapatkan suatu apapun kecuali mengikuti apa yang sudah di dapatkan di alam barzah dan di alam barzah mereka tidak akan mendapatkan suatu apapun kecuali mengikuti apa yang sudah di usahakannya di dunia.

Berarti, barang siapa selama hidupnya tidak pernah bertawassul kepada Rasulullah Saw dan para penerus risalahnya, di akhirat nanti, sedikitpun mereka tidak akan mendapatkan syafa‘at darinya.

Inilah konsep dasar yang di ikuti oleh sebagian besar hamba Allah yang beriman yang harus di ketahui dan di amalkan oleh setiap individu muslim yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, apabila tidak, berarti di akhirat nanti mereka dibangkitkan dalam keadaan buta dan tersesat jalannya.

Allah telah memperingatkan hal tersebut dengan firman-Nya : “Barang siapa di dalam kehidupan dunia ini buta, maka di akhirat dia juga akan menjadi buta dan akan tersesat jalannya.” (Q.S. Al-Isra’ (17) : 72).

Adapun dalil-dalil yang di jadikan panduan dalam pelaksanaan tawassul tersebut adalah beberapa ayat dari firman Allah, di antaranya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (Q.S. Al-Ma’idah (5) : 35).

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama-sama orang-orang yang Shiddiq.” (Q.S. At-Taubah (9) : 119), seperti yang sudah diuraikan di atas, bahwa kelahiran ruhani seorang hamba atau kelahiran kedua harus di bidani oleh rahasia ibadah, yaitu “Nur Hidayah Allah”, yang di pancarkan dari rahasia pertalian hubungan silsilah guru-guru ruhaniyah (guru mursyid) : “Dan bukankah orang yang mati, kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang.” (Q.S. (6) : 122), maka segala bentuk ibadah yang dilaksanakan seorang murid, baik vertikal maupun horizontal, yang dengan itu seorang salik berharap mencapai kelahiran kedua, maka pelaksanaan ibadah itu harus dilaksanakan dengan bertawassul kepada guru-guru mursyidnya.

Baca juga...  Amalan-Amalan Dalam Thariqat Naqsyabandiyah

Maka hakikat tawassul itu adalah memancarkan ruhani kepada ruhani guru mursyid di dalam pelaksanaan mujahadah, dengan itu supaya kehidupan nismah yang menghidupi jismul mahsusah mampu berangsur-angsur melepaskan diri dari gravitasi hukum alam jismul mahsusah, menembus sekat pembatas dua alam tersebut dan terbang menuju alam jismul lathif.

Seperti keadaan orang yang sedang tidur, apabila lepasnya nismah dari gravitasi hukum alam jismul mahsusah itu di arahkan dengan pelaksanaan tawassul yang benar, maka dengan izin Allah nismah itu dapat bertemu dan berinteraksi dengan nismah guru mursyidnya yang sudah berkedudukan di alam jismul lathif tersebut.

Allah menggambarkan perjalanan ruhani itu dengan firman-Nya : “Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allahlah kemuliaan itu semuanya, kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih di naikkan-Nya.” (Q.S. Al-Fathir : 10).

Kalimah thayyibah di sini adalah berupa motivasi ibadah, apabila motivasi ibadah itu adalah urusan ruhaniah, maka berarti seorang `Abid itu sedang mengembarakan ruhaninya guna mencapai derajat kemuliaan di sisi Allah.

Adapun kendaraan yang di pergunakan untuk mengangkut ruhani orang yang sedang beribadah itu namanya amal shalih, yaitu pelaksanaan tawassul yang benar itu bukan mengadakan interaksi secara personal melalui jalan ibadah.

Akan tetapi interaksi antar karakter, sehingga hasilnya adalah pembentukan karakter bagi yang bertawassul sebagaimana karakter guru mursyid yang di tawasulinya, apabila tawassul yang di lakukan murid itu tujuannya adalah mursidnya secara personal bukannya karakter dan bentuk kebaikan pekertinya yang selalu berkesan mendalam di hatinya setiap kali pertemuan, maka hasilnya adalah penampakan visual di dalam khayal manusia yang boleh jadi hasil ciptaan setan jin pengganggu ibadah.

Rahasia ini sangat penting di ketahui oleh ahli tawassul, sebab apabila arah tawassulnya salah, maka hasilnya bukan ma’rifatullah yang sangat di dambakan orang thariqat, tapi kelebihan-kelebihan pribadi yang sifatnya istidraj yang kerapkali dapat menjebak pemiliknya untuk berbuat syirik.

Pelaksanaan thariqat yang di lakukan oleh para ahlinya, inilah perjalanan antar dua dimensi dan dua kutub yang sangat menakjubkan, perjalanan sejati yang banyak dilakukan ahli thariqat.

Baca juga...  Pengertian Maqam Dan Martabat

Melalui pengembaraannya di jalan Allah, seringkali murid thariqat itu dengan izin Allah dapat berinteraksi dengan guru-guru mursyidnya, bahkan guru mursyid yang sudah sekian lama meninggal dunia, tidak hanya untuk bertemu saja, tapi juga membuka situs mereka yang terjaga di alam lauh mahfud untuk membaca materi pengetahuan dan mengambil program yang masih tersedia di dalamnya : ”Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh.”(Q.S. Yasin : 12).

Namun demikian perjalanan ini bukanlah perjalanan yang mudah, oleh karenanya para pemula harus mendapatkan bimbingan dari guru-guru mursyidnya, apabila dalam perjalanan ruhaniyah itu seorang murid mampu mengambil ilmu yang tersimpan di situs para guru ruhaniyah tersebut, maka ilmu itulah yang disebut dengan ilmu laduni dan apabila yang diambil adalah program kehidupan alam semesta maka itulah yang dimaksud dengan karamah.

Seorang murid thariqat sejati harus mampu melakukan pengembaraan seperti ini, karena bagi ahlinya, jalan itu memang berpotensi untuk di jelajahi, bahkan manusia dan jin di tantang Allah untuk dapat melakukannya : “Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.” (Q.S. Ar-Rahman : 33).

Oleh karena itu, apabila perjalanan thariqat yang di lakukan para murid itu belum mampu menembus dua alam tersebut sehingga mereka belum pernah merasakan interaksi yang terjadi antara dua alam yang berbeda itu, berarti pelaksanaan thariqat yang di jalaninya itu masih terdapat hal yang harus di benahi.

Thariqat yang di jalani itulah amal lahir, yang akan mengantarkan pada amalan batin bagi seorang salik, adapun yang di maksud dengan amalan batin adalah interaksi ruhaniyah dengan guru-guru mursyid yang di ikutinya, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati.

Hasilnya, dua kehidupan yang ada di dalam jiwa manusia itu, baik lahir maupun batinnya akan menjadi sama-sama hidup dengan sempurna dan menjadi kehidupan yang seimbang.

Akal menjadi cerdas karena selalu mendapatkan pencerahan spiritual, baik dengan olah dzikir maupun fikirnya dan mata hati menjadi cemerlang karena ruhaniahnya selalu mendapatkan pancaran nur hidayah dari rahasia do‘a guru-guru mursyidnya.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya