oleh

Hamil Karena Zina

Bagaimana jika hamil karena zina?

Zina merupakan perbuatan keji dan termasuk dosa besar. (Q.S. Al-Isra’ : 32). Seorang yang berzina akan berkurang kesempurnaan imannya. (H.R. Bukhari Juz 2 : 2343 dan Muslim Juz 1 : 57).

Zina juga di pandang sebagai sesuatu yang buruk oleh kalangan binatang, di riwayatkan dari ‘Amru bin Maimun Ra, ia berkata :

“Aku pernah melihat pada masa jahiliyah sekelompok kera berkumpul mengerumuni (sepasang) kera yang telah berzina, maka kera-kera tersebut merajamnya dan aku pun ikut merajamnya bersama kera-kera tersebut.” (H.R. Bukhari Juz 3 : 3636).

Karena demikian buruknya perzinaan, maka kita memohon kepada Allah agar Allah menghindarkan kita, keluarga kita dan seluruh kaum muslimin dari perbuatan zina.

Hukum Menikahkan Wanita Yang Hamil Karena Zina

Menikahkan wanita yang hamil karena zina terbagi menjadi dua kondisi, antara lain :

A. Yang akan menikahi wanita tersebut adalah laki-laki yang menzinainya, jika yang akan menikahi wanita tersebut adalah laki-laki yang menzinainya, maka keduanya boleh di nikahkan, meskipun wanita tersebut dalam keadaan hamil.

Dengan syarat; keduanya telah bertaubat (Ini adalah madzhab Imam Ahmad, pendapat Qatadah, Ishaq, Abu ‘Ubaid dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah).

Dengan taubat nashuha dan syarat taubat adalah ikhlas karena Allah, menyesali perbuatan, meninggalkan dosa tersebut, berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya, taubat di lakukan sebelum ruh sampai ke tenggorokan dan sebelum matahari terbit dari barat dan keduanya rela untuk di nikahkan dan ini merupakan ijma’ sahabat dan pendapat para ahli fatwa dari kalangan tabi’in, di antaranya adalah : Abu Bakar, ’Umar, Ibnu ’Umar, Ibnu ’Abbas, Ibnu Mas’ud, Jabir bin ’Abdillah, Sa’id bin Jubair, Sa’id bin Musayyab dan Az-Zuhri.

Baca juga...  Pembahasan Sifat-Sifat Orang Munafik

Dan setelah akad nikah keduanya boleh langsung jima’, ini adalah pendapat Imam Asy-Syafi’i dan Imam Abu Hanifah, adapun tentang anak hasil zina, maka anak itu di nasabkan kepada ibunya, bukan kepada bapak biologisnya atau kepada laki-laki yang menzinai ibunya dan ini merupakan kesepakatan madzhab yang empat.

B. Yang akan menikahi wanita tersebut bukanlah laki-laki yang menzinainya, jika yang akan menikahi wanita tersebut bukan laki-laki yang menzinainya, maka keduanya tidak boleh di nikahkan kecuali setelah wanita tersebut melahirkan dan ini adalah pendapat Imam Ahmad dan Imam Malik.

Dan anak hasil zina tersebut di nasabkan kepada ibunya, bukan kepada bapak biologisnya (laki-laki yang menzinai ibunya), juga bukan di nasabkan kepada bapak yang menikahi ibunya.

Konsekuensi Anak Hasil Zina

Madzhab yang empat telah bersepakat, bahwa anak hasil zina tidak memiliki nasab dari pihak laki-laki, ia di nasabkan kepada ibunya, bukan kepada bapak biologisnya, karena anak hasil zina tidak di nasabkan kepada bapak biologisnya, maka :

– Anak tersebut tidak berbapak.
– Anak tersebut tidak saling mewarisi dengan bapak biologisnya.
– Jika anak tersebut wanita, maka wali (nikah)nya adalah sulthan, karena ia tidak memiliki wali. (H.R. Ahmad, At-Tirmidzi Juz 3 : 1102, Abu Dawud : 2083 dan Ibnu Majah : 1879).

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya