oleh

Hukum Asal Benda Yang Boleh Di manfaatkan dan Lagi Suci

-Muamalah-1 views

HUKUM ASAL BENDA YANG BOLEH DI MANFAATKAN DAN LAGI SUCI

Hukum asal benda-benda adalah boleh di manfaatkan dan suci, kaidah ini menjelaskan bahwa hukum asal seluruh benda yang ada di sekitar kita dengan segala macam dan jenisnya adalah halal untuk di manfaatkan, tidak ada yang haram kecuali ada dalil yang menunjukkan keharamannya, juga, hukum asal benda-benda tersebut adalah suci, tidak najis, sehingga bisa di sentuh ataupun di kenakan.

Ini termasuk patokan penting dalam syari’at Islam dan memiliki implementasi yang sangat luas, terkhusus dalam penemuan-penemuan baru, baik berupa makanan, minuman, pakaian dan semisalnya, maka hukum asal dari semua itu adalah halal, boleh di manfaatkan, selama tidak nampak bahayanya sehingga menjadikannya haram.
Oleh karena itulah Syaikul-Islam Ibnu Taimiyah mengatakan berkaitan dengan kaidah ini, “Ini adalah kalimat yang luas maknanya, perkataan yang umum, perkara utama yang banyak manfaatnya, serta Iuas barakahnya.

Di jadikan rujukan oleh para pembawa syari‘ah dalam perkara yang tidak terhitung, baik berupa amalan dan kejadian-kejadian di antara manusia.”

DALIL DASARNYA
Kaidah ini di tunjukkan oleh dalil-dalil, baik dari Al-Qur’an, As-Sunnah, maupun Ijma’.  Dalil dari Al-Qur’an, di antaranya firman Allah : “Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” (Q.S. Al-Baqarah : 29). Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di ketika menafsirkan ayat ini mengatakan, “Dalam ayat yang agung ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa hukum asal semua benda adalah mubah dan suci, karena ayat ini di sebutkan dalam konteks pemberian karunia dari Allah kepada para hamba-Nya.”
Demikian pula firman Allah : “Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang di sebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang di haramkan-Nya atasmu.” (Q.S. Al-An‘am : 119).

Baca juga...  Macam-Macam Riba

Sisi pendalilan dari ayat ini dapat di lihat dari dua sisi,

Pertama, Allah mencela orang-orang yang tidak mau memakan daging hewan yang disembelih atas nama Allah sebelum hewan tersebut dinyatakan secara khusus sebagai hewan yang halal, seandainya bukan karena hukum asal segala benda itu halal, tentu mereka tidak mendapatkan celaan itu.

Kedua, dalam ayat ini disebutkan bahwa Allah telah menjelaskan apa-apa yang diharamkan, ini menunjukkan, apa-apa yang tidak dijelaskan keharamannya maka itu bukan perkara yang haram dan apa-apa yang tidak haram, berarti itu halal, karena tidak ada macam yang lain, kecuali benda itu halal atau haram.

Adapun dalil dari As-Sunnah di antaranya sabda Nabi Saw, dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, yaitu  dari Sa‘d bin Abi Waqqash Ra, bahwasannya Nabi Saw bersabda : “Sesungguhnya orang Muslim yang paling besar kesalahannya adalah orang yang mempertanyakan sesuatu yang semula tidak haram, kemudian diharamkan karena sebab pertanyaannya itu.”
Hadits ini menunjukkan bahwa pengharaman adakalanya terjadi karena sebab pertanyaan, artinya, sebelum munculnya pertanyaan, perkara tersebut tidaklah haram dan inilah hukum asalnya.

Dalil lain dari Sunnah adalah hadits riwayat Imam At-Tirmidzi, yaitu dari Salman Al-Farisi, ia berkata : “RasululIah Saw, pernah ditanya tentang minyak samin, keju dan pakaian bulu binatang, maka beliau Saw bersabda, “Yang halal adalah apa yang dihalalkan Allah didalam kitab-Nya dan yang haram adalah apa yang diharamkan Allah didalam kitab-Nya dan apa yang Dia diamkan termasuk sesuatu yang dimaafkan.”

Hadits tersebut merupakan nash yang menunjukkan bahwa perkara-perkara yang di diamkan dan tidak di singgung tentang keharamannya, maka itu bukanlah perkara yang menjatuhkan seseorang kepada dosa, sehingga bukan termasuk kategori perkara yang haram, demikian pula para Ulama telah bersepakat tentang eksistensi kaidah ini, yaitu keberadaan hukum asal benda-benda adalah halal untuk dimanfaatkan, baik dimakan, diminum atau semisalnya.

Baca juga...  Syarat-Syarat Dalam Jual Beli

Dan tidaklah haram darinya kecuali ada dalil yang menunjukkan keharamannya, sebagaimana disebutkan oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah, beliau mengatakan, “Saya tidak mengetahui perbedaan pendapat di kalangan ulama terdahulu bahwa perkara yang tidak ada dalil yang menunjukkan keharamannya, maka perkara itu tidak haram secara mutlak.

Banyak orang dari kalangan ahli ushul-fiqih dan cabangnya yang menyebutkan kaidah ini dan saya memandang sebagian di antara mereka telah menyebutkan ijma’, baik secara yakin maupun persangkaan yang yakin”.

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa hukum asal semua benda adalah suci maka telah tercakup dalam dalil-dalil yang disebutkan di atas ditinjau dari dua sisi.

Pertama, sesungguhnya dalil-dalil tersebut menunjukkan bolehnya semua bentuk pemanfaatan, baik dengan dimakan, diminum, dipakai, disentuh dan lain sebagainya dengan demikian, penetapan kesucian benda-benda itu telah tercakup di dalamnya.

Kedua, telah dipahami dari dalil-dalil tersebut bahwa hukum asal benda-benda yang ada di sekitar kita itu boleh dimanfaatkan, seperti dimakan dan diminum, maka diperbolehkannya barang-barang tersebut untuk disentuh sebagai benda yang tidak najis adalah lebih utama.

Yang demikian, karena makanan itu bergabung dan bercampur dengan badan, adapun sesuatu yang disentuh atau dipakai maka ia sekedar mengenai badan dari sisi luarnya saja, apabila telah tetap kebolehan sesuatu dalam bentuk tergabung dan tercampur, maka kebolehan sesuatu sekedar dipakai atau disentuh adalah lebih utama. Hal itu diperkuat dengan dalil dari Ijma, sebagaimana disebutkan oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah, beliau mengatakan: “Sesungguhnya para fuqaha seluruhnya bersepakat bahwa hukum asal benda-benda adalah suci dan sesungguhnya najis itu jumlahnya tertentu dan terbatas, sehingga semua benda di luar batasan tersebut hukumnya suci”

CONTOH PENERAPAN KAIDAH

Di antara bentuk implementasi kaidah ini adalah sebagai berikut :
1. Hewan-hewan yang statusnya meragukan apakah halal ataukah haram seperti jerapah, gajah dan semisalnya, maka sesungguhnya dihukumi sebagai binatang yang halal sesuai hukum asalnya.

Baca juga...  Pengertian Tentang Wakaf

2. Tanaman-tanaman yang tidak mengandung racun maka secara umum halal sesuai hukum asalnya.

3. Beraneka-ragam makanan, minuman, buah-buahan dan biji-bijian yang sampai kepada kita dari luar negeri dan kita tidak mengetahui namanya, sedangkan tidak nampak kandungan zat yang berbahaya padanya maka hukumnya halal sesuai konsekuensi kaidah ini.

4. Air, bebatuan, tanah, pakaian dan wadah-wadah hukum asalnya suci berdasarkan kaidah ini.

5. Kotoran dan air kencing dari binatang yang halal dimakan hukumnya suci, karena benda-benda di sekitar kita hukum asalnya suci, sedangkan tidak ada dalil yang menunjukkan kenajisannya, sehingga dikembalikan pada hukum asa|nya.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya