oleh

Hukum Asal Setiap Ibadah Tauqif, Harus Ada Tuntunannya Dari Nabi Saw

-Fiqh Islam-12 views

“Pada hari ini, telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah aku cukupkan atasmu kenikmatan-Ku dan Aku ridha Islam menjadi agamamu.” (Q.S. Al-Maaidah : 3).

Ibnu Katsir menerangkan ayat ini dengan perkataannya: “Di sempurnakannya agama Islam merupakan kenikmatan Allah ta’ala yang paling besar atas umat ini, karena Ia telah menyempurnakan agama mereka, sehingga mereka tidak memerlukan lagi agama lainnya dan tidak pula perlu seorang nabi selain Nabi mereka sendiri, oleh karena itu Allah Ta’ala menjadikannya sebagai penutup para nabi dan mengutusnya kepada seluruh jin dan manusia.

Dengan demikian tidak ada suatu yang halal, melainkan yang beliau halalkan, tidak ada sesuatu yang haram, melainkan sesuatu yang beliau haramkan dan tidak ada agama melainkan ajaran agama yang telah beliau syari’atkan, setiap yang beliau kabarkan pasti benar lagi jujur, tidak mengandung kedustaan sedikit pun dan tidak akan menyelisihi realita.”

Ayat ini, sebagaimana telah diketahui, diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam pada hari Arafah, pada Hajjatul Wada’. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Thariq bin Syihab, ia mengisahkan: “Orang-orang Yahudi berkata kepada Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu: “Sesungguhnya kalian membaca satu ayat, seandainya ayat itu turun pada kami kaum Yahudi, niscaya (hari diturunkannya ayat itu) akan kami jadikan hari ‘Ied (perayaan). Maka Umar Ra berkata: “Sungguh aku mengetahui kapan dan di mana ayat itu di turunkan dan di mana Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam berada di saat ayat itu di turunkan, yaitu di padang arafah dan kami juga sedang berada di padang arafah, yaitu firman Allah yang artinya : “Pada hari ini, telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah aku cukupkan atasmu kenikmatan-Ku, dan Aku ridha Islam menjadi agamamu.”

Pada riwayat ini, dapat kita ketahui bahwa kesempurnaan agama Islam ini bukan hanya di ketahui dan di sadari oleh kaum muslimin saja, bahkan orang-orang Yahudi pun mengetahuinya, bukan hanya sebatas itu, bahkan mereka berangan-angan seandainya ayat ini di turunkan kepada mereka, niscaya mereka akan merayakannya.

Sebagai bukti lain bahwa orang-orang non-Islam menyadari akan kesempurnaan agama Islam, ialah kisah berikut: Ada sebagian orang musyrikin berkata kepada sahabat Salman Al-Farisi Radhiallahu’anhu: “Sungguh Nabi kalian telah mengajarkan kalian segala sesuatu, hingga tata cara buang hajat.” Maka sahabat Salman Al-Farisi menimpalinya dengan berkata: “Benar, beliau sungguh telah melarang kami untuk menghadap ke arah kiblat di saat buang air besar atau buang air kecil dan beristinja menggunakan tangan kanan dan beristijmar (istinja dengan bebatuan) dengan kurang dari tiga batu atau beristijmar menggunakan kotoran binatang atau tulang-belulang.” (H.R. Shahih Muslim, 1/223, Hadits No: 261).

Bila kesempurnaan agama Islam dalam segala aspek kehidupan telah di akui dan di ketahui oleh orang-orang non-Islam, maka betapa sengsara dan bodohnya bila ada orang Islam yang masih merasa perlu untuk mencari alternatif lain dalam beragama, yaitu dengan cara menambah, atau memodifikasi atau menggabungkan atau dengan cara mengadopsi teori-teori dan ajaran-ajaran umat lain, baik yang berasal dari negeri India, atau Mesir atau Yunani atau Barat.

Tidaklah ada kebaikan di dunia atau di akhirat, melainkan telah di ajarkan dalam agama Islam dan tidaklah ada kejelekan melainkan, Islam telah memperingatkan umat manusia darinya, Allah berfirman yang artinya: “Dan telah Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (Q.S. An-Nahl : 89).

Ibnu Mas’ud berkata: “Telah di jelaskan kepada kita dalam Al-Qur’an ini seluruh ilmu dan segala sesuatu.” Dan Mujahid berkata: “Seluruh halal dan haram telah di jelaskan.” Setelah Ibnu Katsir menyebutkan dua pendapat ini, beliau berkata: “Pendapat Ibnu Mas’ud lebih umum dan menyeluruh, karena sesungguhnya Al-Qur’an mencakup segala ilmu yang berguna, yaitu berupa kisah-kisah umat terdahulu dan yang akan datang.

Sebagaimana Al-Qur’an juga mencakup segala ilmu tentang halal dan haram dan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia, dalam urusan kehidupan dunia dan agama mereka.” Bila Nabi Shaallallahu’alaihiwasallam telah mengajarkan kepada umatnya tata cara buang air kecil dan besar, mustahil bila beliau Shallallahu’alaihiwasallam tidak mengajarkan kepada umatnya tata cara berdakwah, penegakan syari’at Islam di bumi dan terlebih lebih tata cara beribadah kepada Allah, sehingga tidak ada alasan bagi siapa pun untuk merekayasa suatu metode atau amalan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.

Hanya kebodohan terhadap ajaran Nabi Shallallahu’alaihiwasallam dan sunnah-sunnahnyalah yang menjadikan sebagian orang merasa perlu untuk merekayasa berbagai metode dalam beribadah kepada Allah Ta’ala, sehingga ada yang beribadah dengan dasar tradisi dan adat warisan nenek moyang, misalnya tradisi wayangan dalam berdakwah dan ada pula yang mengadopsi tata cara peribadatan umat lain, misalnya beribadah dengan menyiksa diri, tidak makan, tidak minum, tidak berbicara, berdiri di terik matahari atau bertapa dan nyepi.

“Ibnu ‘Abbas berkata: Tatkala Nabi Shallallahu’alaihiwasallam sedang berkhutbah, tiba-tiba beliau melihat seorang lelaki yang berdiri, maka Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bertanya tentangnya dan para sahabat menjawab: Dia adalah Abu Israil, ia bernazar untuk berdiri dan tidak duduk, tidak berteduh, tidak berbicara dan berpuasa. Maka Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Perintahkanlah ia untuk berbicara, berteduh, duduk dan meneruskan puasanya.” (H.R. Shahih Bukhari, 6/2465, hadits No: 6326).

Di antara metode yang diadopsi dari umat lain ialah dzikir berjama’ah dengan suara nyaring, dan dikomandoi oleh satu orang, oleh karenanya tatkala sahabat Abdullah bin Mas’ud melihat sebagian orang yang bergerombol sambil membaca puji-pujian secara berjama’ah dan di pimpin oleh satu orang, beliau berkata: “Sungguh demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sesungguhnya kalian ini berada di atas satu dari dua perkara: ‘Menjalankan ajaran yang lebih benar di banding ajaran Nabi Muhammad atau sedang membuka pintu kesesatan.” (H.R. Shahih Ad-Darimi, dalam Kitab As-Sunnan, 1/79, hadits No : 204).

Saya ingin mengajak para pembaca yang budiman untuk mengadakan studi banding antara dzikir berjama’ah dengan cara seperti ini dengan kegiatan orang-orang Nasrani yang bernyanyi-nyanyi di gereja dengan di pimpin oleh seorang pendeta, lalu adakah perbedaan antara keduanya selain perbedaan tempat dan bacaannya?

Dzikir atau membaca puji-pujian adalah salah satu ibadah paling agung, setelah mengingatkan kaum muslimin akan kenikmatan-Nya berupa di ubahnya kiblat mereka dari Bait Al-Maqdis dan di utusnya Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam, Allah Ta’ala memerintahkan mereka agar berdzikir kepada-Nya yang artinya: “Karena itu, ingatlah Aku niscaya Aku akan ingat kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku, serta janganlah kamu mengingkari (kenikmatan)-Ku.” (Q.S. Al-Baqaarah : 152).

Pada ayat ini terdapat suatu isyarat bahwa dzikir adalah ibadah yang agung, karena dzikir merupakan perwujudan nyata akan rasa syukur kepada Allah Ta’ala atas kenikmatan besar ini, yaitu di ubahnya kiblat kaum muslimin menjadi ke arah Ka’bah, dan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam.

Dan dalam ayat lain, Allah berfirman yang artinya: “Dan laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Q.S. Al-Ahzab : 35).

Karena itulah, kita sebagai seorang muslim meyakini, bahwa Nabi Shallallahu’alaihiwasallam telah melaksanakan tugas menjelaskan ibadah ini dengan sempurna dan mustahil ada kekurangan dalam penjelasan beliau tentang ibadah ini, baik kekurangan yang berkaitan dengan macam, waktu atau metode pelaksanaannya.

Oleh karena itu, kita dapatkan tidaklah ada suatu keadaan atau waktu yang kita di anjurkan untuk berdzikir secara khusus padanya, melainkan beliau telah menjelaskan kepada umatnya, beliau telah menjelaskan dzikir tersebut lengkap dengan tata caranya, yang di mulai dari dzikir semenjak kita bangun tidur, hingga kita hendak tidur lagi, bahkan tatkala kita terjaga di waktu malam, telah di ajarkan dzikir-dzikir yang sesuai dengannya.

Bila kita membuka-buka kitab-kitab kumpulan dzikir Nabi Shallallahu’alaihiwasallam yang di tulis oleh para ulama’, niscaya kita dapatkan bahwa seluruh keadaan manusia dan perbuatannya, baik dalam shalat atau di luar shalat, telah di ajarkan dzikir yang sesuai dengan keadaan itu, untuk hal ini silakan para pembaca yang budiman membaca Kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi.

Realita ini selain menjadi kenikmatan, juga menjadi tantangan bagi kita, sejauh manakah pengamalan kita terhadap sunnah-sunnah beliau Shallallahu’alaihiwasallam dalam berdzikir kepada Allah? Oleh karenanya, tidak ada alasan lagi bagi siapa pun untuk merekayasa dzikir yang tidak pernah di ajarkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam.

Mari kita simak hadits berikut, dengan harapan agar kita mendapat pelajaran penting tentang tata cara berdzikir: “Dari sahabat Al-Bara’ bin ‘Azib, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Bila engkau akan berbaring tidur, hendaknya engkau berwudhu’ layaknya engkau berwudhu’ untuk shalat, kemudian berbaringlah di atas sisi kananmu, lalu katakanlah: “Ya Allah, sesungguhnya aku menyerahkan wajahku kepada-Mu dan menyerahkan urusanku kepada-Mu, dengan rasa mengharap kerahmatan-Mu dan takut akan siksa-Mu, aku menyandarkan punggungku kepada-Mu, tiada tempat perlindungan dan penyelamatan dari siksa-Mu melainkan kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan Nabi-Mu yang telah Engkau utus.” Dan jadikanlah bacaan (do’a) ini sebagai akhir perkataanmu, karena bila engkau mati pada malam itu, niscaya engkau mati dalam keadaan menetapi fitrah (agama Islam).” (H.R. Shahih Bukhari, 5/2326, hadits no:5952 dan Shahih Muslim 4/2081, hadits no:2710).

Al-Bara’ bin ‘Azib berkata: “Maka aku mengulang-ulang bacaan (do’a) ini, untuk menghafalnya dan mengatakan: Aku beriman kepada Rasul-Mu yang telah Engkau utus.” Nabi Saw-pun bersabda: “Katakan: Aku beriman kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.” (H.R. Shahih Bukhari, 5/2326, hadits No : 5952 dan Shahih Muslim 4/2081, hadits No : 2710).

Al Bara’ bin ‘Azib salah mengucapkan do’a ini di hadapan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, yang seharusnya ia mengucapkan: “Aku beriman kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus”, ia ucapkan: “Aku beriman kepada Rasul-Mu yang telah Engkau utus.” (H.R. Shahih Bukhari, 5/2326, hadits No : 5952 dan Shahih Muslim 4/2081, hadits No : 2710).

Perbedaannya hanya kata “Nabi” dan kata “Rasul”, padahal yang di maksud dari keduanya sama, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam, walau demikian, Nabi Shallallahu’alaihiwasallam tidak membiarkan kesalahan ini terjadi, sehingga beliau Shallallahu’alaihiwasallam menegur sahabat Al-Bara’ agar membenarkan ucapannya. (H.R. Shahih Bukhari, 5/2326, hadits No : 5952 dan Shahih Muslim 4/2081, hadits No : 2710).

Hadits ini menunjukkan kepada kita, bahwa dzikir kepada Allah adalah salah satu bentuk ibadah dan setiap ibadah di atur oleh sebuah kaidah penting, yaitu: “Hukum asal setiap ibadah ialah tauqif (harus ada tuntunannya dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam).”

Ibnu Taimiyyah berkata: “Hukum asal setiap ibadah ialah tauqif (harus ada tuntunannya dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam), sehingga tidak boleh di buat ajaran melainkan yang telah di ajarkan oleh Allah Ta’ala melalui para Nabi dan Rasul-Nya.

Kalau tidak sedemikian, niscaya kita akan termasuk ke dalam firman Allah yang artinya: “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan lain yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak di izinkan Allah?!” (Q.S. As-Syura : 21).

Sedangkan hukum asal setiap adat istiadat adalah di perbolehkan, sehingga tidak boleh ada yang di larang melainkan suatu hal yang telah di haramkan oleh Allah, kalau tidak demikian, niscaya kita akan termasuk ke dalam firman Allah yang artinya: “Katakanlah: “terangkanlah kepadaku tentang rizqi yang di turunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.” (Q.S. Yunus : 59).

Bila Nabi Shallallahu’alaihiwasallam menegur kesalahan Al-Bara’ bin ‘Azib mengucapkan satu kata dalam dzikir yang beliau ajarkan, maka bagaimana halnya seandainya yang di lakukan oleh Bara’ bin ‘Azib adalah dzikir hasil rekayasanya sendiri?

Al-Hafidz Ibnu Hajar, berkata: “Pendapat yang paling tepat tentang hikmahnya Nabi Shallallahu’alaihiwasallam membenarkan ucapan orang yang mengatakan “Rasul” sebagai ganti kata “Nabi” adalah: Bahwa bacaan-bacaan dzikir adalah bersifat tauqiyyah (harus ada tuntunannya) dan bacaan-bacaan dzikir itu memiliki keistimewaan dan rahasia-rahasia yang tidak dapat di ketahui dengan cara qiyas, sehingga wajib kita memelihara lafadz (dzikir) sebagaimana di riwayatkan.”

Baca juga...  Pertanyaan Tentang Qadha Shalatnya Orang Sakit

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya