oleh

Hukum Babi Dalam Vaksin

-Health-1 views

Hukum Babi Dalam Vaksin

Masalah penggunaan asam amino binatang babi dalam vaksin bukanlah berita yang baru lagi, bahkan kaum Muslim dan Yahudi banyak yang menentang hal ini karena babi memang di haramkan, seperti tertuang dalam Al-Qur’an ayat berikut : “Di haramkan bagimu memakan bangkai, darah, daging babi, daging hewan yang di sembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang di tanduk dan di terkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya dan di haramkan bagimu yang di sembelih untuk berhala dan di haramkan juga mengundi nasib dengan anak panah, mengundi nasib dengan anak panah itu adalah kefasikan, pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk mengalahkan agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku, pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu, maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Maidah (5) ayat 3).


Bahkan dalam Perjanjian Lama (Taurat) juga di sebutkan, yaitu : “Jangan makan babi, binatang itu haram karena walaupun kukunya terbelah, ia tidak memamah biak, dagingnya tidak boleh di makan dan bangkainya pun tak boleh di sentuh karena binatang itu haram.” (Imamat 11 : 7-8). Bencana akibat vaksin yang tidak pernah di publikasikan di Amerika, pada tahun 1991-1994 sebanyak 38.787 masalah kesehatan di laporkan kepada Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) FDA, dari jumlah ini 45% terjadi pada hari vaksinasi, 20% pada hari berikutnya dan 93% dalam waktu 2 mgg setelah vaksinasi.

Kematian biasanya terjadi di kalangan anak anak usia 1-3 bulan, pada 1986 ada 1300 kasus pertusis di Kansas dan 90% penderita adalah anak-anak yang telah mendapatkan vaksinasi ini sebelumnya, kegagalan sejenis juga terjadi di Nova Scotia di mana pertusis telah muncul sekalipun telah di lakukan vaksinasi universal. Jerman mewajibkan vaksinasi tahun 1939, jumlah kasus dipteri naik menjadi 150.000 kasus, di mana pada tahun yang sama, Norwegia yang tidak melakukan vaksinasi, kasus dipterinya hanya sebanyak 50 kasus, penularan polio dalam skala besar, menyerang anak-anak di Nigeria Utara berpenduduk muslim, hal itu terjadi setelah di berikan vaksinasi polio, sumbangan AS untuk penduduk muslim, beberapa pemimpin Islam lokal menuduh Pemerintah Federal Nigeria menjadi bagian dari pelaksanaan rencana Amerika untuk menghabiskan orang-orang Muslim dengan menggunakan vaksin.

Tahun 1989-1991 vaksin campak “high titre” buatan Yugoslavia Edmonton-Zagreb di uji coba pada 1500 anak-anak miskin keturunan orang hitam dan latin, di kota Los Angeles, Meksiko, Haiti dan Afrika, vaksin tersebut sangat di rekomendasikan oleh WHO. Program di hentikan setelah di dapati banyak anak-anak meninggal dunia dalam jumlah yang besar, vaksin campak menyebabkan penindasan terhadap sistem kekebalan tubuh anak-anak dalam waktu panjang selama 6 bulan sampai 3 tahun, akibatnya anak-anak yang di beri vaksin mengalami penurunan kekebalan tubuh dan meninggal dunia dalam jumlah besar dari penyakit-penyakit lainnya WHO kemudian menarik vaksin-vaksin tersebut dari pasar di tahun 1992.
Setiap program vaksin dari WHO di laksanakan di Afrika dan Negara-negara dunia ketiga lainnya, hampir selalu terdapat penjangkitan penyakit-penyakit berbahaya di lokasi program vaksin di lakukan. Virus HIV penyebab Aids di perkenalkan lewat program WHO melalui komunitas homoseksual melalui vaksin hepatitis dan masuk ke Afrika tengah melalui vaksin cacar, Desember 2002, Menteri Kesehatan Amerika, Tommy G.Thompson menyatakan, tidak merencanakan memberi suntikan vaksin cacar. Dia juga merekomendasikan kepada anggota kabinet lainnya untuk tidak meminta pelaksaanaan vaksin itu, sejak vaksinasi massal di terapkan pada jutaan bayi, banyak di laporkan berbagai gangguan serius pada otak, jantung, sistem metabolisme, dan gangguan lain mulai mengisi halaman-halaman jurnal kesehatan.

Baca juga...  Manfaat Bekam

Kenyataannya vaksin untuk janin telah di gunakan untuk memasukan encephalomyelitis, dengan indikasi terjadi pembengkakan otak dan pendarahan di dalam, Bart Classen, seorang dokter dari Maryland, menerbitkan data yang memperlihatkan bahwa tingkat penyakit diabetes berkembang secara signifikan di Selandia Baru, setelah vaksin hepatitis B di berikan secara massal di kalangan anak-anak dan melaporkan bahwa, vaksin meningococcal merupakan “Bom waktu bagi kesehatan penerima vaksin.

Anak-anak di Amerika Serikat mendapatkan vaksin yang berpotensi membahayakan dan dapat menyebabkan kerusakan permanen, berbagai macam imunisasi misalnya, vaksin-vaksin seperti Hepatitis B, DPT, Polio, MMR, Varicela (Cacar air) terbukti telah banyak memakan korban anak-anak Amerika sendiri, mereka menderita kelainan syaraf, anak-anak cacat, diabetes, autis, autoimun dan lain-lain.

Vaksin cacar di percayai bisa memberikan imunisasi kepada masyarakat terhadap cacar, pada saat vaksin ini di luncurkan, sebenarnya kasus cacar sudah sedang menurun. Jepang mewajibkan suntikan vaksin pada 1872. Pada 1892, ada 165.774 kasus cacar dengan 29.979 berakhir dengan kematian walaupun adanya program vaksin.

Pemaksaan vaksin cacar, di mana orang yang menolak bisa di perkarakan secara hukum, dilakukan di Inggris tahun 1867, dalam 4 tahun, 97.5 dan masyarakat usia 2 sampai 50 tahun telah di vaksinasi, setahun kemudian Inggris merasakan epidemik cacar terburuknya dalam sejarah dengan 44.840 kematian, antara 1871-1880 kasus cacar naik dari 28 menjadi 46 per100.000 orang, vaksin cacar tidak berhasil dan masih banyak lagi. Mengapa vaksin gagal melindungi terhadap penyakit?

Walene James, pengarang buku Immunization The Reality Behind The Myth, mengatakan respon inflamatori penuh di perlukan untuk menciptakan kekebalan nyata, sebelum introduksi vaksin cacar dan gondok, kasus cacar dan gondok yang menimpa anak-anak adalah kasus tidak berbahaya, vaksin “mengecoh” tubuh, sehingga tubuh kita tidak menghasilkan respon inflamatory terhadap virus yang di injeksi.

Baca juga...  Khasiat Kembang Kol

SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) naik dari 0.55 per 1000 orang di 1953 menjadi 12.8 per 1000 pada 1992 di Olmstead County, Minnesota, puncak kejadian SIDS adalah umur 2-4 bulan, waktu di mana vaksin mulai di berikan kepada bayi, 85% kasus SIDS terjadi di 6 bulan pertama bayi, persentase kasus SIDS telah naik dari 2.5 per 1000 menjadi 17.9 per 1000 dari 1953 sampai 1992.

Kenaikan kematian akibat SIDS meningkat pada saat hampir semua penyakit anak-anak menurun karena perbaikan sanitasi dan kemajuan medikal kecuali SIDS, kasus kematian SIDS meningkat pada saat jumlah vaksin yang di berikan kepada balita naik secara
meyakinkan menjadi 36 per anak.

Dr. W. Torch berhasil mendokumentasikan 12 kasus kematian pada anak-anak yang terjadi dalam 3,5-19 jam pasca imunisasi DPT, dia kemudian juga melaporkan 11 kasus kematian SIDS dan satu yang hampir mati 24 jam paska injeksi DPT, saat dia mempelajari 70 kasus kematian SIDS, 2/3 korban adalah mereka yang baru di vaksinasi mulai dari 1,5 hari sampai 3 minggu sebelumnya.

Tidak ada satu kematian pun yang di hubungkan dengan vaksin, vaksin di anggap hal yang mulia dan tidak ada pemberitaan negatif apapun mengenai mereka di media utama, karena mereka begitu menguntungkan bagi perusahaan farmasi, ada alasan yang valid untuk percaya, bahwa vaksin bukan saja tak berguna dalam mencegah penyakit, tetapi mereka juga kontraproduktif karena melukai sistem kekebalan yang meningkatkan resiko kanker, penyakit kekebalan tubuh dan SIDS yang menyebabkan cacat dan kematian.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya