oleh

Hukum Melalaikan Shalat, Keras!

Banyak orang yang melalaikan shalat, bahkan sebagian dari mereka telah meninggalkan shalat secara total, apakah hukum terhadap mereka itu? Dan apakah kewajiban seorang muslim terhadap mereka, terutama kerabat, seperti; orang tua, anak, istri dan yang semisalnya?

Jawab : Melalaikan shalat merupakan kemungkaran yang besar dan termasuk sifat orang-orang munafik, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah membalas tipuan mereka dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas, mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (Q.S. An-Nisaa‘ : 142), Allah juga berfirman tatkala menerangkan sifat-sifat mereka : “Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk di terima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (Q.S. At-Taubah : 54).

Rasulullah Saw bersabda : “Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat ‘Isya dan shalat Fajar (Shubuh) dan seandainya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya niscaya mereka akan mendatanginya (untuk melakukan kedua shalat tersebut) walaupun dalam keadaan merangkak.” (H.R. Muttafaq’alaih).

Maka merupakan kewajiban setiap muslim, baik laki-laki ataupun perempuan untuk menjaga shalatnya yang lima waktu dan melakukannya dengan thuma’ninah (tenang), bersegera kepadanya dan khusyu’ saat melaksanakannya. Allah berfirman : “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman: (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (Q.S. Al-Mu’minun : 1-2).

Begitu juga terdapat riwayat yang kuat dari Rasulullah Saw, bahwa dia memerintahkan seseorang untuk mengulangi shalatnya, karena tidak thuma’ninah. Khusus bagi kaum laki-laki agar memelihara shalat berjamaah, bersama saudara-saudaranya di rumah-rumah Allah, yaitu masjid, berdasarkan hadits Rasulullah Saw : ”Siapa yang mendengar azan kemudian dia tidak datang (untuk shalat berjama’ah), maka tidak ada shalat baginya kecuali jika ada halangan.” (H.R. Ibnu Majah, Ad-Daruquthni, Ibnu Hibban dan Al-Hakim dengan sanad yang shahih).

Baca juga...  Pertanyaan Tentang Shalat Yang Terbuka Bahunya

Ibnu Abbas Ra di tanya tentang halangan apa yang di maksud, dia menjawab” takut dan sakit”. Dan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah Ra, dari Rasulullah Saw, bahwa datang kepadanya seorang laki-laki yang buta seraya berkata: “Wahai Rasulullah, tidak ada yang menuntunku ke masjid, apakah ada keringanan bagiku untuk shalat di rumahku? maka Rasulullah Saw memberinya keringanan, tapi kemudian beliau memanggilnya dan bertanya: “Apakah engkau mendengarkan seruan untuk shalat (adzan)? dia menjawab, “Ya”, beliau bersabda : ”Sambutlah (dengan pergi ke masjid untuk shalat berjamaah).”

Dalam As-Shahihain dari Abu Hurairah Ra dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: “Aku sungguh sangat ingin sekali memerintahkan agar shalat di laksanakan, kemudian ada seseorang yang menjadi imam, sementara aku bersama beberapa orang berangkat dengan membawa seikat kayu bakar dan mendatangi sekelompok kaum yang tidak menghadiri shalat (berjama’ah), lalu aku membakar rumah-rumah mereka.”

Beberapa hadits yang shahih tersebut menunjukkan, bahwa shalat berjama’ah bagi kaum laki-laki merupakan kewajiban yang paling besar dan bagi yang meninggalkannya layak untuk mendapatkan hukuman yang berat. Semoga Allah selalu memperbaiki keadaan kaum muslimin seluruhnya dan mernberi mereka taufiq atas segala apa yang di ridhai-Nya.

Adapun meninggalkannya sama sekali atau sebagian waktunya saja, maka menurut pendapat yang terkuat di antara dua pendapat ulama, hal tersebut adalah merupakan kekufuran yang besar, baik pria maupun wanita, walaupun pelakunya tidak mengingkari kewajibannya, berdasarkan hadits Rasulullah Saw : “Antara seseorang dan kekufuran serta kemusyrikan adalah meninggal dan shalat.” (H.R. Imam Muslim dalam Shahihnya).

“Jarak antara kita dengan mereka (orang kafir) adalah shalat, siapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir.” (H.R. Imam Ahmad dan Ahlussunan yang empat dengan sanad yang shahih) dan masih banyak lagi hadits yang semakna dengannya.

Adapun orang yang mengingkari kewajibannya baik laki-laki maupun wanita, maka sesungguhnya dia telah kafir dengan kekufuran yang besar berdasarkan kesepakatan para ulama, walaupun dia melakukan shalat.

Semoga Allah melindungi kita dan semua kaum muslimin dari hal tersebut, sesungguhnya Dia adalah sebaik-baik pelindung. Merupakan kewajiban kaum muslimin seluruhnya untuk saling menasihati dan memberi wasiat dalam kebenaran dan saling tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa, di antaranya adalah menasihati orang yang tidak shalat berjama’ah atau menyepelekannya bahkan sewaktu-waktu meninggalkannya.

Mengingatkan mereka akan kemurkaan dan hukuman-Nya dan kewajiban kedua orang tua, saudara-saudara dan kaum kerabatnya untuk menasihatinya secara terus menerus sehingga dia mendapatkan hidayah dari Allah dan istiqamah di jalan-Nya.

Demikian juga halnya bagi wanita yang menyepelekan shalat atau meninggalkannya, wajib untuk di nasihati secara terus menerus dan mengingatkannya akan kemurkaan Allah serta hukuman-Nya dan mengucilkannya jika dia tidak mengindahkannya padahal dia mampu melakukannya, dan menghukumnya dengan cara yang layak, karena semua itu adalah termasuk tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa dan amar ma’ruf nahi munkar yang Allah Wajibkan bagi semua hamba-Nya, baik pria ataupun wanita, berdasarkan firman Allah : “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma ’ruf mencegah dari yang munkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan di berikan rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. At-Taubah : 71).

Juga berdasarkan hadits Rasulullah Saw : “Perintahkanlah anak kalian untuk shalat saat berusia tujuh tahun dan pukullah mereka jika tidak melakukan shalat) pada usia sepuluh tahun dan pisahkan tempat tidur mereka,” Jika anak-anak pada usia tujuh tahun sudah di perintahkan shalat dan boleh di pukul jika tidak melaksanakannya pada usia sepuluh tahun, maka orang yang sudah baligh lebih utama untuk di perintahkan shalat dan di pukul jika tidak melaksanakannya setelah di nasihati secara terus menerus.

Adapun saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, adalah berdasarkan firman Allah : “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan yang saling nasihat menasihati dalam kebenaran dan saling nasihat menasihati dalam kesabaran.” (Q.S. Al-‘Ashr : 1-3).

Dan siapa yang meninggalkan shalat setelah masa baligh serta tidak menerima nasihat, maka perkaranya di bawa ke pengadilan syar’i, agar di perintahkan untuk bertaubat, jika tidak bertaubat maka di hukum mati.

Semoga Allah memperbaiki keadaan kaum muslimin dan memberikan kepada mereka pemahaman terhadap agamanya dan menuntun mereka untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa serta amar makruf nahi munkar dan saling nasihat menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, sesungguhnya Dia Maha Pemberi lagi Mulia.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya