oleh

Hukum Memperdagangkan Mata Uang

HUKUM MEMPERDAGANGKAN MATA UANG

Sejatinya, uang berfungsi sebagai alat transaksi dan standar nilai harta kekayaan, Akan tetapi perniagaan umat manusia yang berkembang begitu pesat telah merubah fungsi ini, Fungsi ini sedikit demi sedikit telah luntur dan tidak menutup kemungkinan suatu saat rnenjadi sirna.
Bagi yang ingin mendapatkan pembahasan lebih panjang lebar tentang permasalahan hukum uang kertas, silahkan membaca kitab  Al-Waraq An-Naqdy oleh Syaikh Abdullah bin Sulaiman Al-Mani’,

Ketika sebagian manusia mengaburkan peranan utama uang sebagai nilai tukar menjadi barang yang di perdagangkan maka terjadilah berbagai krisis ekonomi. Saat ini uang telah menjadi salah satu komoditi perniagaan, sehingga banyak pedagang membeli uang dengan uang tanpa ada jasa atau barang yang diperjualbelikan.

Manfaat dari transaksi ini hanya dirasakan oleh pelaku transaksi, sedangkan masyarakat luas bersiap-siap menanggung berbagai dampak negatifnya, tidak diragukan, praktik-praktik semacam ini bila dibiarkan berjalan liar dapat mengancam kehidupan masyarakat dan para pelaku usaha di sektor riil. Terutama ketika terjadi penjualan atau pembelian suatu mata uang dalam jumlah besar-besaran dan dalam waktu yang relatif singkat.

Praktek-praktek semacam ini dapat mendongkrak nilai tukar suatu mata uang dan sekaligus juga dapat menjatuhkannya. Bisa dibayangkan, betapa repotnya masyarakat bila nilai tukar suatu mata uang bergerak bebas naik-turun tidak beraturan. Semua itu terjadi hanya karena ulah segelintir orang yang mengejar keuntungan pribadi dari menjual atau membeli suatu mata uang.

Oleh karena itu Islam membatasi ruang pertukaran mata uang dengan berbagai hukum riba, baik riba nasi’ah (karena penundaan) atau riba fadhal (penambahan karena perbedaan mutu). Ibnu Rusyd Al-Maliki, berkata : “Dan pintu pertukaran mata uang adalah pintu keluar dari riba yang paling sempit. Sehingga orang yang profesinya adalah jual beli mata uang, akan kesulitan untuk dapat terbebas dari riba. Kecuali orang-orang yang sangat berhati-hati dan benar-benar menguasai ilmu halal haram dalam ma-salah ini.

Dan betapa sedikitnya pedagang mata uang yang demikian itu. Tidak heran bila dahulu Al-Hasan Al-Bashri, berkata : “Bila engkau meminta minum, lalu engkau diambilkan air minum dari rumah pedagang mata uang, maka janganlah engkau minum.” Dan dahulu Al-Ashbagh tidak suka untuk berteduh di bawah rumah pedagang mata uang.

Baca juga...  Syarat-Syarat Dalam Jual Beli

Ibnu Habib mengklarifikasi sikap Al-Ashbagh ini dengan berkata : “Karena kebanyakan mereka terjerumus dalam praktek riba.” Pada suatu hari Imam Malik ditanya : “Apakah engkau membenci seseorang untuk berprofesi sebagai pedagang mata uang? Beliau menjawab : “Ya, kecuali bila ia benar-benar bertaqwa kepada Allah, oleh karena itu, demi menjaga stabilitas dan menjaga peranan mata uang, Islam menggariskan dua ketentuan yang harus kita indahkan ketika memperjual belikannya.

1. Penjualan Dilakukan Dengan Cara Tunai
Ketentuan ini berlaku pada setiap transaksi jual-beli mata uang. Baik tukar menukar uang yang sejenis (misalnya dinar dengan dinar, rupiah dengan rupiah) atau berbeda jenis, misalnya dinar dengan dirham, atau rupiah dengan dollar.

Ibnu Syihab mengisahkan bahwa Malik bin Aus bin Al-Hadatsan menceritakan kepadanya bahwa pada suatu hari ia perlu menukarkan uang seratus dinar (emas). Malik berkata : “Mengetahui hal itu, Thalhah bin Ubaidillah memanggilku. Selanjutnya kamipun bernegoisasi dan akhirnya ia menyetujui untuk menukar uangku. Thalhah segera mengambil uangku dan dengan tangannya ia menimbang uang dinarku. Selanjutnya ia berkata : “Aku akan berikan uang tukarannya ketika bendaharaku telah datang dari daerah Al-Ghabah (suatu tempat di luar Madinah sejauh + 30 KM).

Ucapannya itu didengar oleh sahabat Umar bin Al-Khaththab, maka spontan ia berkata kepadaku : “Janganlah engkau meninggalkannya (Thalhah) hingga engkau benar-benar telah menerima pembayaran darinya. Karena Rasulullah Saw telah bersabda : “Emas ditukar dengan emas adalah riba kecuali bila dilakukan secara ini dan ini (tunai).
Gandum ditukar dengan gandum adalah riba, kecuali bila dilakukan dengan ini dan ini (tunai). Sya’ir (satu varietas gandum yang mutunya kurang bagus) ditukar dengan sya‘ir adalah riba kecuali bila dilakukan dengan ini dan ini (tunai). Dan kurma ditukar dengan kurma adalah riba, kecuali bila dilakukan dengan ini dan ini (tunai).” (HR. Imam Bukhari).

Baca juga...  Pengertian Wadi'ah Dalam Islam

Pada riwayat lain Umar bin Khaththab Ra, lebih tegas menjelaskan makna tunai yang dimaksudkan pada hadits-hadits di atas : “Janganlah engkau membarterkan emas dengan emas melainkan sama dengan sama, Janganlah engkau melebihkan salah satu dibanding lainnya. Janganlah engkau membarterkan perak dengan perak melainkan sama dengan sama. Janganlah engkau melebihkan salah satu dibanding Iainnya, Janganlah engkau membarterkan perak dengan emas, salah satunya terhutang sedangkan yang lain diserahkan secara tunai. Bila lawan transaksimu meminta agar engkau menantinya sejenak hingga ia masuk terlebih dahulu ke dalam rumahnya sebelum ia menyerah barangnya, maka jangan sudi untuk menantinya. Sesungguhnya aku khawatir kalian melampaui batas kehalalan. Dan yang dimaksud dengan melampaui batas kehalalan adalah terjerumus ke dalam riba.” (H.R. Imam Malik).

Penjelasan Umar bin Khaththab Ra ini sangat terang dan jelas meruntuhkan alasan orang-orang yang membolehkan transaksi forex, walaupun pembayaran tertunda selama dua hari atau lebih. Terlebih pada zaman sekarang pembayaran begitu mudah dilakukan sekalipun pihak yang bertransaksi berjauhan tempat tinggal, yaitu dengan memanfaatkan layanan internet banking.

Tidak heran bila Badan Fiqih Islam di bawah Organisasi Rabithah Alam Islami/Liga Muslim Dunia (Muslim World League) pada rapatnya ke 18, pada tanggal 10-14/3/1427 H di kota Makkah Saudi Arabia, mengharamkan perdagangan dengan sistem margin atau yang lebih dikenal dengan forex.

Pendek kata, tidak ada alasan yang dapat dibenarkan untuk mentolerir pembayaran yang tertunda pada transaksi Forex (Foreign Exchange) atau yang lebih dikenal dengan bursa valas (valuta asing) adalah suatu jenis transaksi perdagangan atau transaksi mata uang asing yang memperdagangkan mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lainnya yang melibatkan pasar-pasar uang utama di dunia dan dilakukan secara berkesinambungan.
forex. Belum lagi pada transaksi ini terdapat denda, suku bunga dan kemungkaran lainnya.

Bagi umat Islam, syari’at Allah pastilah lebih dijunjung tinggi di atas berbagai sistem dan peraturan yang dibuat manusia. Karenanya, bila terjadi pertentangan antara keduanya, maka sistem karya manusialah yang layak dirubah agar selaras dengan syari’at Allah bukan sebaliknya, bukankah demikian?

Baca juga...  Pengertian Musaqah (Merawat Pohon) dan Muzara'ah (Menggarap Tanah)

2. Persamaan Nilai Tukar
Ketentuan ini hanya berlaku pada transaksi jual-beli antara dua mata uang yang sejenis, misalnya, anda membutuhkan uang rupiah dalam pecahan sejumlah Rp.10.000,- sedangkan uang yang anda miliki adalah pecahan Rp.100.000,-.

Pada kasus penukaran semacam ini tidak dibenarkan ada penambahan nilai sedikitpun, karena bila ada penambahan nilai, baik dalam bentuk uang, barang atau jasa, maka pertambahan ini dianggap sebagai riba dan tidak diragukan lagi adalah haram.

Rasulullah Saw bersabda : “Emas dibarterkan dengan emas, perak dibarterkan dengan perak, gandum dibarterkan dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dibarterkan dengan sya’ir, kurma dibarterkan dengan kurma dan garam dibarterkan dengan garam, takaran atau timbangannya harus sama dan pembayarannya dilakukan dengan cara kontan. Barang siapa yang menambah atau meminta tambahan maka ia telah berbuat riba. Pemberi dan penerima dalam hal ini sama.” (H.R. Imam Muslim).

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa perbuatan pedagang uang receh di terminal (misalnya), ketika menukarkan uang Rp.100.000,- dengan 49 lembar pecahan Rp 2.000, adalah terlarang.

Bila Anda menjualbelikan uang kertas yang sejenis, maka anda harus mengindahkan kedua ketentuan di atas, yakni tunai atau cash dan persamaan nilai tukar, sedangkan bila anda menjualbelikan dua mata uang yang berbeda, maka anda hanya berkewajiban memenuhi persyaratan pertama, yaitu penjualan dilakukan dengan cara tunai, tanpa ada yang terhutang sedikitpun.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru