oleh

Hukum Wanita Yang Melepas Selain Di Rumah

-Muslimah-1 views

Dasar permasalahan ini adalah dari hadits : “Wanita mana saja yang melepas pakaiannya tidak di rumah suaminya, sungguh dia telah merobek tirai antara dirinya dengan Allah.” (H.R. At-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah). Hadits ini awal ceritanya adalah para wanita dari negeri Himsh meminta izin Aisyah Ra, maka Aisyah Ra berkata, “Bukankah kalian adalah para wanita yang biasa masuk ke tempat pemandian umum? Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, “… (Aisyah Ra menyebutkan hadits di atas).”

Asy-Syaikh Mubarakfuri mengatakan, “Karena wanita diperintah untuk menjaga dan menutupi auratnya agar tidak terlihat oleh laki-laki yang bukan mahramnya, tidak pantas bagi wanita membuka aurat di tempat yang sepi kecuali di depan suaminya, apabila wanita membuka aurat tubuhnya di pemandian umum tanpa ada keadaan darurat, sungguh dia telah merobek tirai antara dirinya dengan Allah.”

Al-Imam Ath-Thibbi mengatakan, “Hal itu karena Allah menurunkan pakaian agar menutupi aurat mereka, ia adalah pakaian taqwa, apabila wanita tidak bertaqwa kepada Allah dan malah membuka aurat mereka maka sungguh dia telah merobek tirai antara dirinya dengan Allah.

Asy-Syaikh Azhim Abadi berkata, “Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwasanya tidak boleh bagi seorang wanita untuk masuk ke dalam kamar mandi umum kecuali dalam keadaan darurat.”

Di larangnya wanita masuk ke tempat kamar mandi umum karena khawatir auratnya terlihat atau dilihat wanita lain yang tidak shalihah hingga dia bisa menceritakan kepada laki-laki lain sehingga bisa menimbulkan fitnah. (lhda Ad-Dibajah Bi Syarh Sunan Ibnu Majah 5/129-130, Shafa’ Adh-Dhawi Al-Adawi).

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani pernah mendapatkan pertanyaan sebagai berikut, “Semua wanita yang melepas pakaiannya tidak di rumah suaminya maka dia telah mencabik-cabik tirai yang Allah berikan untuknya.” Kami berharap mendapatkan penjelasan tentang hadits tersebut.” Jawaban beliau, “Yang dimaksudkan dengan “melepas pakaian” sebagaimana dalam hadits di atas adalah telanjang untuk keperluan memasuki Al-Hammam (misalnya pemandian umum atau kolam air hangat). Pemandian ini tentu tidak berada di dalam rumah sendiri, namun berada di rumah salah satu tetangga atau kerabat yang bukan mahram, perempuan semacam inilah yang mendapatkan ancaman sebagaimana dalam hadits di atas, sementara itu, melepas kerudung di tengah-tengah sesama muslimah tidaklah termasuk dalam larangan yang ada pada hadits di atas.

Baca juga...  Maryam Binti Jash

Melepas pakaian yang dimaksudkan dalam hadits di atas adalah melepas seluruh pakaian dengan kata lain telanjang bulat karena hendak masuk pemandian umum, di antara bukti yang menunjukkan benarnya pemaknaan sebagaimana di atas adalah sebab yang melatarbelakangi Aisyah Ra menyampaikan hadits di atas, ketika beliau dikunjungi oleh sejumlah wanita, beliau bertanya tentang asal negeri mereka, ketika mereka menyampaikan bahwa mereka itu berasal dari Himsh, beliau berkomentar, “Itulah negeri yang para wanitanya suka pergi ke pemandian umum.” Lalu beliau menyebutkan hadits Nabi Saw di atas.

Mengomentari fatwa Asy-Syaikh Al-Albani di atas, Amr Abdul Mun’im Salim mengatakan, “Hadits di atas hanya berlaku sebagaimana penjelasan Asy-Syaikh Al-Albani untuk wanita yang melepas pakaiannya dan menampakkan auratnya di rumah atau tempat milik lelaki ajnabi (non mahram) bukan rumahnya bukan pula rumah salah seorang mahramnya.

Di tempat tersebut tidaklah menutup kemungkinan aurat si wanita akan terlihat oleh laki-laki atau wanita yang tidak boleh melihat auratnya, sementara itu, melepaskan pakaian di rumah sendiri atau rumah saudaranya atau rumah orang tuanya hukumnya tidaklah mengapa, bahkan seorang wanita boleh melepas pakaian disetiap rumah yang aman dari pandangan orang yang tidak boleh memandang, meski rumah tersebut bukanlah rumah mahramnya.

Dalilnya adalah hadits dari Fatimah binti Qais yang diperintahkan oleh Nabi Saw untuk menghabiskan masa iddah di rumah Ummu Syarik kemudian beliau larang. Nabi Saw bersabda kepada Fatimah binti Qais : “Ummu Syarik adalah perempuan yang sering dikunjungi oleh para sahabatku, habiskanlah masa iddahmu di rumah Ibnu Ummi Maktum, dia adalah seorang yang buta, engkau bisa melepaskan pakaianmu.” (H.R. Imam Muslim).

Sebab itu, semua tempat yang bisa dipastikan tidak ada seorang pun yang bisa melihat auratnya, diperbolehkan bagi seorang wanita untuk melepas pakaiannya di tempat tersebut sebagaimana hadits di atas, yang terlarang adalah melepas pakaian di tempat pemandian umum karena ditempat semisal ini kemungkinan besar seorang wanita menampakkan auratnya kepada orang yang tidak boleh melihat auratnya.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya