oleh

Ilmu Yang Di Wariskan

Pada bagian ini akan menguraikan sebab-sebab yang paling utama dan paling penting untuk dapat di hasilkannya sumber Ilmu Laduni, di banding ketiga sebab yang telah di bahas terlebih dahulu, namun demikian, ini juga adalah bagian yang paling sulit untuk bisa di cerna dengan akal kosong yang tanpa di sertai nur iman yang cemerlang.

Terlebih bagi orang yang belum pernah merasakan manisnya buah dzikir dan ibadah, apalagi bagi orang-orang yang memang sudah mengingkari keberadaan Ilmu Laduni itu, bahwa buah ibadah yang paling utama yang dapat di petik di dunia adalah ma‘rifatullah.

Berupa pemahaman hati yang menjadikan seorang hamba mampu bertqwa kepada Allah Ta‘ala, merupakan ilmu pengetahuan yang sangat luas dan tidak terbatas, hal itu karena Allah Ta‘ala adalah Dzat yang Maha dalam segalanya.

Untuk berma‘rifat tersebut, seorang hamba tidak cukup hanya menggunakan indera yang lahir saja, namun juga dengan indera yang batin yang di sebut bashirah, hal itu di sebabkan, karena Allah Ta‘ala adalah Dzat yang ghaib bagi indera yang lahir.

Oleh karenanya, yang di maksud dengan ilmu ma‘rifat adalah ilmu mukasyafah, yaitu ilmu yang proses masuknya ke dalam hati dengan cara terbukanya matahati (futuh). Untuk mendapatkan ilmu mukasyafah tersebut, syarat yang paling utama, seorang hamba harus mendapatkan Ilmu Laduni.

Yakni ilmu yang di masukkan kedalam hati secara langsung melalui ilham setelah terlebih dahulu seorang hamba mendapatkan futuh dari Allah Ta‘ala, bukan ilmu lahir yang bisa di dapatkan melalui proses belajar mengajar.

Ilmu Laduni itu bukan ilmu yang dapat di rasakan oleh akal (rasio) saja, namun juga dengan kekuatan iman dan kecemerlangan mata hati, hal itu karena memang akal bukan alat untuk mengobserfasi sesuatu yang ghaib. Terhadap sesuatu yang ghaib, akal hanya wajib mengimaninya, karena iman kepada hal yang ghaib adalah satu-satunya pintu masuk menuju keyakinan hati.

Padahal, seseorang tidak akan mempunyai keyakinan hati kecuali bagi mereka yang sesudah merasakan manisnya sesuatu yang di imani. Oleh karena itu, bagi orang yang tidak mempercayai Ilmu Laduni, maka jangan harap mereka bisa mendapatkannya meski hanya baunya saja.

Uraian tentang Ilmu Laduni yang bisa diuraikan melalui tulisan, baik yang diambil dari dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits maupun segala argumentasi dan keterangan para ulama, sesungguhnya itu hanya seperti orang yang sedang membicarakan resep-resep minuman, adapun hakikat Ilmu Laduni adalah seperti orang minum minuman yang ada dalam resep tersebut.

Padahal, betapapun pandainya orang menceritakan cita rasa minuman, tentunya akan sangat jauh berbeda dengan keadaan orang minum minuman tersebut, bahkan semakin pandai orang menceritakan tentang cita rasa minuman akan menjadikan para pendengarnya semakin merasa haus terhadap minuman tersebut, padahal yang dimaksud dengan minum adalah menghilangkan rasa haus.

Oleh karena itu, apapun yang dapat tertulis di dalam buku ini, meski itu adalah hasil interpretasi dari ayat-ayat Al-Qur‘an dan Hadits Nabi Saw yang menjadi tuntunan dan pedoman bagi orang yang beriman, namun demikian, uraian tersebut hanyalah sebatas teori-teori bahkan teori yang masih sangat ringan dibanding dengan hakikat ilmu yang diuraikan.

Baca juga...  Potensi Kehidupan Manusia

Oleh karena itu, barang siapa ingin merasakan dan mendapatkan Ilmu Laduni, tidak ada jalan lain kecuali dengan menindaklanjuti apa-apa yang telah dipahami dari uraian tersebut dengan amal perbuatan. Hal itu disebabkan, oleh karena Ilmu Laduni adalah buah amal, maka tidak mungkin orang mendapatkan buah tanpa terlebih dahulu melaksanakan amalnya.

Ilmu Laduni adalah ilmu yang diwariskan

Berarti seseorang tidak akan mendapatkan Ilmu Laduni kecuali dengan sebab mendapatkan warisan dari orang lain, padahal yang dinamakan warisan adalah tinggalan orang yang sudah mati. Jadi, tawasul secara ruhaniyah sebagaimana yang telah diuraikan tentang tawasul adalah jalan yang paling dekat (jalan pintas) bagi seorang salik untuk membangun sebab-sebab yang dapat menyampaikan mereka kepada akibat yang baik, yakni mendapatkan Ilmu Laduni.

Namun dalam kaitan urusan ini, pelaksanaan tawasul itu harus diniatkan secara khusus untuk mendapatkan Ilmu Laduni yang telah diturunkan Allah Ta‘ala kepada orang yang ditawasuli. Tentang rahasia urusan ilmu warisan ini telah dinyatakan Allah dengan firman-Nya : “Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya, kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menyiksa diri sendiri dan diantara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang berlomba-lomba berbuat kebaikan dengan izin Allah dan yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Q.S. Fathir 35/31-32).

Ilmu warisan tersebut termaktub di dalam firman Allah Ta‘ala di atas, yaitu : “Tsumma auratsnal kitaaba.” Yang artinya : “Kemudian Kami wariskan kitab itu.” Ayat ini jelas menunjukkan bahwa ada suatu jenis ilmu pengetahuan yang tidak diturunkan kepada seseorang kecuali dengan sebab orang tersebut mendapatkan warisan dari orang yang telah terlebih dahulu mendapatkannya. Untuk lebih memudahkan pemahaman, Insya Allah marilah kita ikuti penafsiran dua ayat tersebut secara keseluruhan.

Dari firman Allah tersebut diatas akan kita uraikan menjadi beberapa pembahasan :
1). Tentang Ilmu Al-Qur’an.
Yang di maksud dengan Al-Kitab (Al-Qur’an) “Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al-Kitab.” Di dalam ayat tersebut di atas adalah ilmu pengetahuan yang dikandung di dalam Al-Qur‘an Al-Karim.

Dalam kaitan ini, Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad di dalam bukunya, “Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah”, beliau berkata :
أنِماظْؼُّْآَنَماظْعَظَقْمَممطَلاَمُمآَمماظْؼََّؼْمِمموَطَؿَابُهُماظْؿُـَِّلُمسَؾىمغَؾَقٍَهَمم
وَرَدُوْظَهَمصَؾّىمآُمسَؾَقْهَموَدَؾّمَمؼَعْـَىماظْؽَلاَمَماظـِػْلَىِماظْؼََّؼْمَمموَاظـِظْمَم
اظْؿَؼُّْوْءَماظْؿَلْؿُوْعَماظْؿَقْػُوْزَماظْؿَؽْؿُوْبَمبَقْنَمدَصْؿَِّماظْؿُصْقَفَ م
“Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah Kalam Allah yang qadim dan Kitab-Nya yang diturunkan kepada Nabi-Nya dan Rasul-Nya Saw yaitu ucapan didalam hati yang qadim dan susunan kata-kata yang dapat dibaca, dapat didengar dan terjaga didalam kitab antara catatan-catatan didalam buku.”

Dengan dikaitkan pendapat Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad tersebut diatas, maka AlQur‘an al-Karim dibagi menjadi dua bagian, yaitu :
1). Al-Qur‘an sebagai Kalamullah yang qadim, itulah yang dimaksud dengan firman Allah : “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami.”

2). Al-Qur‘an sebagai Kitab yang hadits, yaitu tulisan dengan bahasa Arab yang tertulis di dalam mushab Al-Qur‘an, sebagaimana firman Allah : “Sesungguhnya Al-Qur‘an itu benar-benar ucapan utusan yang mulia (Jibril) yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah Yang Mempunyai Arsy.” (Q.S. At-Takwir/19-20).

Baca juga...  Cara Mengenali Diri

Maka yang dimaksud dengan Al-Kitab di dalam ayat tersebut yang akan diwariskan kepada hamba-hamba yang dipilih, bukan Al-Qur‘an yang hadits, tapi Al-Qur‘an yang qodim, yaitu berupa pemahaman hati yang dimiliki seorang hamba dari ma‘na yang dikandung ayat-ayat Al-Qur‘an yang hadits.

Jadi, yang dimaksud ilmu warisan tersebut adalah pemahaman hati yang bentuknya bukan berupa tulisan yang dapat dilihat mata maupun suara yang dapat didengar telinga, melainkan berupa rasa dalam hati sanubari yang dihasilkan oleh kekuatan mujahadah atas dasar takwallah.

Namun dengan syarat, pemahaman hati tersebut bisa disebut sebagai Ilmu Laduni, manakala sumbernya terbit dari ilham yang dibisikkan langsung didalam hati yang datangnya dari urusan ketuhanan yang ghaib, bukan inspirasi manusiawi yang terkadang terbit dari bisikan Jin melalui hayalan dan nafsu syahwat.

Dengan pemahaman hati tersebut, seorang hamba dapat memahami secara langsung makna yang dikandung didalam ayat-ayat Al-Qur‘an yang sedang dibaca maupun didengarkan. Ilmu batin itu berupa pemahaman yang amat luas dan universal sehingga kadang-kadang tidak mampu diuraikan baik melalui ucapan maupun tulisan.

Pemahaman akan ma‘na ayat yang didalamnya sedikitpun tidak dicampuri keraguan sehingga dapat menjadikan iman dan takwa seorang hamba kepada Allah Ta‘ala menjadi semakin kuat.

Dalam menafsiri firman Allah SWT. tersebut diatas : “Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia. Pada kitab yang terpelihara. Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.” (Q.S. Al-Waqi‘ah 56/77-79).

Ulam berbeda pendapat dalam mengartikan Al-Muthahharuun (Orang-orang yang disucikan).
a). Dari Ibnu Abbas Ra yang dimaksud Al-Kitab adalah kitab yang ada di langit, tidak ada yang menyentuhnya kecuali para malaikat yang disucikan. Seperti itu pula pendapat Anas, Mujahid, Ikrimah Said bin Jabir.

b). Yang dimaksud Al-Qur‘an disini adalah mushhab, maka tidak menyentuhnya kecuali orang yang suci dari junub dan hadats. Dengan dalil apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, bahwa Rasulullah Saw bersabda :
وَلاَمؼَؿُّّماظْؼُّْآَنَمإِلاّمرَاػٌَّ
“Dan tidak menyentuh Al-Qur’an kecuali orang yang suci.” (Tafsir Ibnu Katsir ayat 79 Surat Al-Waqi’ah).

c). Tidak dapat menyentuh terhadap pemahamanpemahaman Al-Qur‘an yang qadim (rahasia Ilmu Laduni) kecuali orang-orang yang hatinya bersih dan suci dari kotoran-kotoran manusiawi. Allah mengisyaratkan hal tersebut dengan firman-Nya : “Dan apabila kamu membaca Al-Qur‘an, niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, yaitu dinding yang tertutup dan Kami adakan tutupan diatas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya.” (Q.S. Al-Isra‘ 17/45-46).

Dari ayat tersebut diatas, jelas menunjukkan bahwa orang yang mambaca atau mendengarkan ayat-ayat Al-Qur‘an belum tentu memahami isinya, hal itu karena yang dibaca tersebut adalah Al-Qur’an hadits. Terhadap Al-Qur‘an yang hadits ini siapa saja dapat menyentuhnya.

Adapun yang dipahami adalah Al-Qur‟an yang qadim atau rahasia-rahasia dari Ilmu Laduni, terhadap Al-Qur‘an yang qadim ini tidak semua orang dapat menyentuhnya kecuali orang yang beriman dengan kehidupan akhirat.

Baca juga...  Urgensi Akhlak Tasawuf Di Kehidupan Muslim

Sebab, yang dimaksud dengan membaca atau mempelajari adalah amalan lahir (rasio), sedangkan memahami adalah amalan bathin (ruhani) yang dibaca itu adalah yang lahir sedangkan yang dipahami adalah yang bathin, maka tidak dapat menyentuh yang bathin kecuali dengan alat yang bathin pula, yaitu matahati yang cemerlang.

2). Bukti kebenaran Al-Qur’an. Salah satu tanda-tanda kebenaran Al-Qur’an adalah karena isinya membenarkan terhadap isi kitab-kitab yang terdahulu. Hal tersebut menunjukkan bahwa kitab-kitab samawi itu adalah sama-sama wahyu yang diturunkan dari Allah Ta‘ala.

3). Ilmu yang diwariskan.
Lafadz “Kami wariskan”, artinya pemahaman hati tersebut diturunkan kepada orang yang menerima dengan tanpa usaha. Diturunkan semata-mata dari kehendak Allah Ta‘ala, meski itu diturunkan sebagai buah ibadah.

Oleh karena ilmu tersebut diturunkan sebagai warisan, maka tentunya yang menerima warisan itu harus mengetahui dengan pasti siapa yang mewarisinya, dengan asumsi seperti itu, maka pemahaman ini hanya dapat dihasilkan dari rahasia pelaksanaan tawasul secara ruhaniyah.

Maksudnya, rahasia sumber Ilmu Laduni itu hanya dapat terbuka dari sebab pelaksanaan tawasul kepada orang-orang yang telah terlebih dahulu mendapatkan warisan Ilmu Laduni dari para pendahulunya. Jadi, Ilmu Laduni itu adalah ilmu yang ada keterkaitan dengan ilmu para guru sebelumnya, guru-guru tersebut sebagai pewaris sah secara berkesinambungan sampai kepada Nabi Muhammad Rasulullah Saw.

Ayat diatas menjadi bukti bahwa Ilmu Laduni yang dimaksud bukan sesuatu yang didapatkan dari hasil bertapa didalam gua-gua di tengah hutan atau di kuburan angker yang kemudian orang itu mendapatkan kelebihan-kelebihan dan kesaktian yang datangnya tidak dikenali dari mana sumber pangkalnya, namun Ilmu Laduni itu adalah ilmu yang diturunkan Allah Ta‘ala didalam hati seorang hamba yang dipilih-Nya melalui proses tarbiyah azaliah, sebagai buah ibadah yang dijalani.

Kalau ada kelebihan atau kesaktian yang didapatkan orang dari hasil berburu dengan mujahadah dan bertapa di hutan-hutan, meski bentuknya orang tersebut kemudian dapat berjalan cepat seperti mukjizatnya Nabi Sulaiman As misalnya, kelebihan seperti itu bisa jadi merupakan kelebihan yang datangnya dari fasilitas makhluk Jin.

Kelebihan seperti itu terkadang hanya sebagai istidraj (kemanjaan sementara) belaka, yang kemudian sedikit demi sedikit akan dicabut lagi bersama kehancuran pemiliknya, terlebih lagi apabila kelebihan-kelebihan itu dibarengi dengan sifat sombong dan takabbur, sehingga kelebihan itu cenderung hanya dijadikan alat untuk unjuk kesaktian yang dipamerkan kepada orang banyak, jika demikian keadaannya, maka itu dapat dipastikan bahwa kesaktian tersebut hanyalah istidraj belaka.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru