Iman kepada Allah artinya meyakini, bahwa Allah adalah Rabb segala sesuatu, Penciptanya, Pemiliknya dan Pengatur seluruh alam, bahwa hanya Allah yang berhak untuk di sembah, tidak ada sekutu bagi-Nya dan semua yang di sembah selain Allah adalah batil.
Dan bahwa Allah memiliki nama-nama yang mulia serta memiliki Sifat-sifat yang sempurna dan suci dari segala macam kekurangan dan aib. 


Iman kepada Allah mencakup 3 (tiga) unsur, yaitu :
1. Tauhid Rububiyyah

Tauhid Rububiyyah, yaitu meng-ESA-kan Allah dalam hal penciptaan, kekuasaan dan pengaturan. Allah berfirman : “Ingatlah, yang menciptakan dan yang memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.” (Q.S. Al-A’raf : 54).

2. Tauhid Uluhiyyah
Tauhid Uluhiyyah yaitu meng-ESA-kan Allah dalam hal peribadatan, agar manusia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun juga, sehingga tidak ada yang di seru dalam do’a kecuali Allah, tidak ada yang di mintai pertolongan kecuali Allah, tidak ada yang boleh di jadikan tempat bergantung kecuali Allah, tidak boleh menyembelih qurban atau bernadzar kecuali hanya kepada Allah dan tidak boleh mengarahkan seluruh ibadah kecuali untuk Allah dan karena Allah semata. 

Sebagaimana Allah berfirman : “Wahai rnanusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap dan Dia yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizqi untuk kalian, maka janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah : 21-22).

Tauhid rububiyyah mengharuskan adanya tauhid uluhiyyah, sehingga barangsiapa yang mengakui tauhid rububiyyah untuk Allah, dengan mengimani, bahwa tidak ada pencipta, pemberi rizqi dan pengatur alam kecuali Allah, maka ia harus mengakui bahwa tidak ada yang berhak menerima ibadah dengan segala macamnya kecuali Allah dan itulah tauhid uluhiyyah.

3. Tauhid Asma ‘wa Sifat
Tauhid Asma ‘wa Sifat yaitu meng-ESA-kan Allah sesuai dengan Nama dan Sifat yang Ia sandang sendiri kepada Diri-Nya, di dalam Kitab-Nya atau melalui lisan Rasul-Nya Nabi Muhammad Saw.

Hal ini sebagaimana hadits yang di riwayatkan dari Abdullah Bin Mas’ud tentang do’a yang pemah di ajarkan oleh Rasulullah Saw yang berbunyi : “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu (Adam) dan anak hamba perempuan-Mu (Hawa), ubun-ubunku di tangan-Mu, keputusan-Mu berlaku padaku, qadha’-Mu kepadaku adalah adil. Aku memohon kepada-Mu dengan setiap Nama yang Baik yang telah Engkau pergunakan untuk diri-Mu, yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu ghaib di sisi-Mu.” (H.R. Imam Ahmad).

Mengimaninya dengan menetapkan apa yang di tetapkan Allah dan menafikan apa yang di nafikan-Nya dengan tanpa tahrif, ta’thil, takyif dan tamtsil, berikut uraian hal tersebut, yaitu :

  1. Tahrif adalah merubah asma ’ul husna dan sifat-sifat-Nya yang Maha Tinggi atau merubah makna-maknanya.
  2. Ta’thil adalah meniadakan sifat-sifat Allah atau meniadakan makna-makna sesungguhnya dari asma dan sifat, yang demikian adalah kekafiran, karena merupakan bentuk pendustaan terhadap Allah dan Rasul-Nya.
  3. Takyif adalah menanyakan hakikat bentuk sifat Allah.
  4. Tamtsil adalah menyerupakan sifat Allah dengan makhkluk, yang seperti ini termasuk kesyirikan dan pendustaan terhadap Allah, juga rnengandung perendahan hak Allah dari sisi memberikan permisalan bagi-Nya dengan makhluk-Nya.
  5. Allah berfirrman : “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.S. ASy-Syuraa : 11).


Sifat-sifat Allah terbagi menjadi 2 (dua) macam, yaitu :
1. Sifat Tsubutiyyah 

Sifat Tsubutiyyah adalah sifat yang Allah tetapkan untuk Diri-Nya, seperti, Sifat Hidup, Ilmu, Kekuatan dan sebagainya, sifat Tsubutiyyah di bagi dua macam pula, yaitu :

a. Sifat Dzatiyyah, sifat Dzatiyyah adalah sifat yang Allah senantiasa bersifat dengannya, seperti sifat Maha Mendengar, Maha Melihat dan sebagainya.

b. Sifat Fi’liyyah, sifat Fi’liyah adalah sifat yang berkaitan dengan kehendak Allah, jika Allah menghendakinya, maka Allah akan melakukannya dan jika Allah tidak menghendakinya, maka Allah tidak melakukannya, seperti Sifat Datang kepada makhluk-Nya atau ciptaan-Nya, semua terserah Dia.

Terkadang ada sifat yang bersifat Dzatiyyah dan Fi’liyyah di lihat dari dua sisi, seperti Sifat Kalam (Berbicara), sifat ini di lihat dari asal adalah Sifat Dzatiyyah, karena Allah senantiasa memiliki Sifat Bicara, apabila di lihat dari tiap-tiap pembicaraan-Nya, maka sifat ini adalah Sifat Fi ’liyyah, karena Sifat Bicara berkaitan dengan kehendak-Nya, Allah berbicara dengan perkara yang Dia kehendaki dan kapan Dia menghendaki-Nya.

2. Sifat Salbiyyah
Sifat Salbiyyah adalah sifat yang Allah tiadakan dari Diri-Nya, seperti Sifat Zhalim, sebagaimana firman Allah : “Dan Rabbmu tidak menganiaya seorangpun.” (Q.S. Al-Kahfi : 49), sehingga wajib untuk menghilangkannya dari Allah, karena Allah telah menghilangkan sifat tersebut dari Diri-Nya. 

Peniadaan sifat ini harus di iringi dengan menetapkan lawannya sesuai dengan kesempurnaan pada Allah, karena peniadan semata tidak menunjukkan kesempurnaan, sampai terkandung padanya penetapan lawan dari yang di hilangkan, wajib bagi kita untuk menghilangkan Sifat Dzalim dari Allah, dengan di ikuti penetapan sifat adil bagi-Nya sesuai dengan kesempumaan pada-Nya.

%d blogger menyukai ini: