Iman Kepada Para Nabi dan Rasul

oleh

Iman kepada para Rasul artinya adalah meyakini bahwa Allah mengutus pada setiap umat seorang Rasul yang menyeru mereka untuk menyembah Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya dan mengingkari segala sesembahan selain Allah, perbedaan antara Nabi dan Rasul adalah, Nabi merupakan seorang laki-laki yang di berikan kepadanya wahyu untuk mengamalkan syari’at sebelumnya dan berhukum dengan syari’at tersebut.

Adapun Rasul adalah seorang laki-laki yang di berikan wahyu kepadanya untuk mengamalkan syari’at yang baru untuk di sampaikan kepada kaumnya.

Iman kepada Rasul mencakup 4 (empat) unsur, antara lain :
1. Beriman bahwa risalah mereka benar-benar dari Allah, barangsiapa yang mengingkari kebenaran risalah salah satu di antara para Rasul, maka berarti ia telah mengingkari seluruh risalah para Rasul.
Allah berfirman : “Kaum Nuh telah mendustakan para Rasul.” (Q.S. Asy-Syu’ara : 105). Mereka di nyatakan oleh Allah mendustakan para Rasul, padahal tidak ada Rasul di zaman tersebut selain Nabi Nuh As.

2. Beriman terhadap nama-nama Rasul yang di ketahui namanya, adapun yang tidak di ketahui namanya, maka beriman secara global.
Di antara Rasul yang di ketahui namanya adalah :

  1. Nabi Nuh As
  2. Nabi Ibrahim As
  3. Nabi Musa As
  4. Nabi Isa As
  5. Nabi Muhammad Saw

Allah berfirman : “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para Nabi dan dari engkau (wahai Muhammad dari Nuh, Ibrahim, Musa, Isa putra Maryam dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.” (Q.S. Al-Ahzab : 7).

Dan masih banyak para Rasul yang tidak di ketahui namanya, sebagaimana firman Allah : “Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum engkau, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada pula yang tidak Kami ceritakan kepadamu.” (Q.S. Al-Mu’min : 78).

3. Membenarkan ajaran dan berita yang mereka sampaikan.
Allah berfirman : “Apa yang di berikan Rasul kepadamu, maka terimalah dan apa yang di larangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (Q.S. Al-Hasyr : 7).

4. Mengamalkan syari’at Rasul yang di utus kepada kita, yaitu Rasulullah Saw.
Allah berfirman : “Maka demi Rabb-mu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau (wahai Muhammad sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap apa yang engkau putuskan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (Q.S. An-Nisa’ : 65). 

Dan di riwayatkan pula dari Ummul Mu’minin Ummu ‘Abdillah ‘Aisyah Ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam urusan (agama) kami yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (H.R. Muttafaqu’alaih).