Iman Kepada Qadha dan Qadhar

oleh

Iman kepada qadha’ dan qadar artinya meyakini bahwa, semua kebaikan dan keburukan terjadi dengan ketentuan takdir Allah, takdir adalah ketentuan Allah yang berlaku bagi setiap makhluk-Nya, sesuai dengan ilmu dan hikmah yang di kehendaki-Nya.

Beriman terhadap takdir merupakan bagian dari Rukun Iman dan keimanan seseorang belum sempurna, sampai ia meyakini, bahwa semua yang menimpanya baik berupa kebaikan atau keburukan adalah dengan takdir Allah.

Di riwayatkan dari Jabir bin ’Abdillah Ra, Rasulullah Saw bersabda : “Tidak beriman seorang hamba, sampai ia beriman dengan takdir yang baik dan yang buruk, sampai ia mengetahui bahwa apa yang menimpanya tidak akan meleset darinya dan apa yang meleset darinya tidak akan menimpanya.” (H.R. At-Tirmidzi).

Seorang muslim di tuntut untuk mengimani takdir dengan pemahaman yang benar dan keyakinan yang kuat, yang tidak ada keraguan sedikitpun. Pernah suatu ketika Ibnu Ad-Dailami mendatangi Ubay bin Ka’ab Ra, ia mengatakan, “Di hatiku (masih) ada ganjalan tentang takdir.” Maka dengan nada tinggi Ubay bin Ka’ab menjawab : “Demi Allah, seandainya engkau berinfaq emas sebesar gunung Uhud, maka Allah tidak akan pernah menerima infaq tersebut darimu hingga engkau beriman terhadap takdir.”

Iman kepada qadha’ dan qadar tidaklah sempuma kecuali dengan empat perkara yang di namakan tingkatan takdir atau rukun takdir.
Empat perkara ini menjadi pintu untuk memahami masalah takdir dan iman kepada takdir tidaklah sempurna kecuali dengan mewujudkan empat perkara di atas, karena sebagian dari perkara tersebut terkait dengan yang lainnya, maka barangsiapa meyakini semuanya, imannya kepada takdir telah sempurna dan barangsiapa mengurangi salah satu atau lebih, maka runtuhlah imannya kepada takdir, sedangkan tingkatan-tingkatan takdir adalah :

a. Al-Ilmu
Yaitu mengimani bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, baik yang telah lalu, yang sedang terjadi, maupun yang akan terjadi, baik yang berkaitan dengan perbuatan Allah maupun perbuatan hamba, semuanya di ketahui-Nya secara global ataupun terperinci dengan llmu-Nya yang Dia bersifat dengannya secara azali, (sebelum di ciptakannya makhluk) dan abadi (selamanya, tidak ada akhirnya).
Hal ini sebagaimana yang Allah firmankan : “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia. Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, tidak ada sehelai daun pun yang gugur, melainkan Dia mengetahuinya. Tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfudz).” (Q.S. Al-An’am : 59).

b. Al-Kitabah
Yaitu mengimani bahwa Allah menulis takdir setiap sesuatu hingga Hari Kiamat. Allah telah menuliskan takdir seluruh makhluk-Nya lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi, hal ini sebagirnana hadits yang di riwayatkan dari ’Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash Ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Allah telah menuliskan takdir para makhluk(-Nya) lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” ((H.R. Imam Muslim). Al-Kitabah ini dibagi menjadi empat, antara lain :
– Al-Kitabah Al-Azaliyyah, yaitu catatan takdir yang ada di Lauhul Mahfudz.
– Al-Kitabah AI-Umriyyah, yaitu catatan takdir sekali seumur hidup, yakni pada waktu janin berumur seratus dua puluh hari (empat bulan).
– Al-Kitabah Al-Haulliyah, yaitu catatan takdir tahunan, yakni yang terjadi pada malam Lailatul Qadar.
– Al-Kitabah Al-Yaumiyah, yaitu catatan takdir harian.

c. Al-Masyi’ah
Yaitu mengimani, bahwa semua yang terjadi di alam semesta ini adalah atas kehendak Allah.
Al-Masyi ’ah di bagi menjadi dua, antara lain :
– Masyi’ah Syar’iyyah, yaitu kehendak yang Allah ridha, tetapi belum tentu terjadi.
– Masyi’ah Kauniyyah, yaitu kehendak yang Allah belum tentu ridha, tetapi terjadi.

d. Al-Khalq
Yaitu mengimani bahwa Allah adalah yang menciptakan segala sesuatu yang terjadi, yang baik, yang buruk, kekufuran, iman, ketaatan dan kemaksiatan, semuanya adalah dengan kehendak dan takdir-Nya, serta Dia-lah yang mcnciptakannya. Firman Allah : “Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (Q.S. Al-Furqan : 2).

Adapun di antara buah memahami takdir adalah agar menumbuhkan tawakkal yang kuat kepada Allah dan agar seorang tidak terlalu berduka cita terhadap apa yang luput darinya serta tidak terlalu bersuka cita terhadap apa di dapatkannya, sebagaimana firman Allah : “Tidak ada suatu bencanapun yang menimpa (kalian) di bumi dan (tidakpula) pada diri kalian sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya, sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kalian jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian dan supaya kalian tidak terlalu gembira terhadap apa yang di berikan-Nya kepadamu dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Q.S. Al-Hadid : 22-23).
Akan tetapi tidak di perbolehkan seorang melakukan kemaksiatan beralasan dengan takdir, di sebutkan dalam suatu riwayat dari ’Umar bin Khaththab Ra, bahwa beliau pernah akan memotong tangan seorang pencuri. Tiba-tiba pencuri tersebut berkata : “Sebentar, wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya aku mencuri ini atas takdir Allah.” ‘Umar menjawab,”Kami memotong tanganmu ini juga dengan takdir Allah.”