oleh

Islam Agama Politik dan Spiritual

Islam Agama Politik dan Spiritual

Mengupas masalah ini adalah mampukah Islam sebagai agama politik dan spiritual? Untuk menjawabnya perlu di analisis berdasarkan bukti-bukti normatif, historis dan empiris, dengan melihat nash dan fakta sejarah kejayaan yang pernah di catat dalam lembaran sejarah kegemilangan Islam sejak pertama kali tegaknya Islam di Madinah sebagai mabda’ sampai runtuhnya Khilafah Islam terakhir di Turki pada Tanggal 03 Maret 1924, serta sisa-sisa penerapan Islam di negeri kaum muslimin, terbukti bahwa Islam merupakan agama politik dan spiritual, tiga bukti inilah yang akan mampu memberikan gambaran nyata kepada kita terhadap kemampuan Islam sebagai mabda’ dunia.

Pertama, secara normatif, kita bisa membuktikan kemampuan Islam sebagai ajaran politik dan spiritual dengan melihat elemen yang di miliki oleh Islam, yaitu pemikiran (thought) dan metode (method).

Elementhought ini mencakup :
1. Aqidah Islam, yaitu keimanan kepada Allah, Malaikat, Nabi dan Rasul, Kitab, Hari Kiamat serta Qadha’ dan Qadar.
2. Pemecahan masalah kehidupan manusia, yang meliputi hukum syara’ yang berkaitan dengan seluruh masalah kehidupan manusia, baik dengan Tuhannya, seperti ibadah, ataupun masalah manusia dengan sesamanya, seperti ekonomi, sosial, politik, pendidikan, sanksi hukum dan sebagainya, maupun masalah manusia dengan dirinya sendiri, seperti masalah makanan, pakaian dan akhlak, sementara elemen method ini meliputi bagaimana konsep tersebut di terapkan, di pertahankan dan di kembangkan, antara lain yaitu :

Metode menerapkan aqidah dan hukum syara’, yaitu melalui negara Khilafah Islam dan partai politik Islam yang menegakkan Islam.
Metode mempertahankan aqidah dan hukum syara’ melalui institusi pengadilan (al-qadha’) dan penerapan sanksi hukum (uqubat) kepada para pelaku pelanggaran aqidah dan hukum syara’ yang di jalankan oleh Khilafah Islam, misalnya, orang murtad di bunuh, orang yang membangkang (bughat) terhadap Khilafah Islam akan di perangi, orang yang meninggalkan shalat akan di kenai ta’zir, pencuri akan di potong tangannya, pelaku zina akan di rajam sampai mati atau di cambuk sampai seratus kali, orang yang membuka aurat di tempat umum akan di kenai ta’zir, orang yang melakukan praktek suap di kenakan ta’zir dan sebagainya.

Baca juga...  Methode Pengangkatan Khalifah

3. Metode mengemban aqidah dan hukum syara’ yang di lakukan melalui dakwah yang di emban oleh individu, partai politik dan negara, serta jihad fî sabilillah, baik defensif maupun ofensif, yang di jalankan oleh Khilafah Islam, jihad ini di maksudkan untuk menghancurkan dinding penghalang yang menghalangi masuknya cahaya Islam di wilayah yang di perangi, dengan begitu, para penduduk wilayah tersebut akan dapat menyaksikan cahayanya dengan sempurna, jihad ini di lakukan dengan melalui tiga fase, yaitu :

  • Di seru untuk memeluk Islam, ketika bersedia menerima, mereka di biarkan, di mana harta, darah dan kehormatan mereka di jaga oleh Islam.
  • Apabila tidak setuju, mereka di serukan agar tunduk kepada pemerintahan Islam dengan cara menerapkan semua hukum Islam yang menyangkut urusan sosial, ekonomi, politik, pendidikan, uqubat (sanksi) dan hukum-hukum lain, kecuali aqidah, ibadah, makanan, pakaian dan pernikahan (nikah dan cerai).

4. Apabila tidak setuju, mereka akan di perangi habis-habisan sampai tunduk kepada Islam.

Secara historis, banyak bukti bisa di lihat dalam cacatan sejarah, sebagaimana yang di bukukan oleh ahli sejarah, baik dalam sirah maupun tarikh, seperti Sirah Ibn Ishaq, Maghazi al-Waqidi, Tabaqat Ibn Sa’ad, Sirah Ibn Hisyam, Tarikh al-Umam Wa al-Mulk, Tarikh Ibn al-Atsir, Tarikh Ibn Katsir dan sebagainya.

Buku-buku sejarah ini memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana Islam di terapkan sepanjang berabad-abad, hanya dalam laporan sejarah sering kali tidak di pisahkan antara penerapan syari’at yang gemilang dengan penyimpangan penerapannya, dari sini bukti historis kadang malah menyebabkan keraguan di hati pengkaji sejarah, maka, satu-satunya bukti paling otentik penerapan syari’at Islam adalah kodifikasi hukum Islam yang terbukukan dalam kitab-kitab fiqh, mulai dari zaman Rasulullah Saw hingga zaman Khilafah Uthmaniyyah di Turki.

Baca juga...  Kepemimpinan Islam

Kendatipun demikian sejarah telah mencatat cacatan kegemilangan Islam selama 1300 tahun lebih ketika Islam di terapkan sebagai mabda’ yang memimpin dunia, di mana angka orang yang di potong tangan akibat kasus pencurian dan di kenai sanksi hudud hanya 200 kasus, rekor ini bisa di raih karena ketika mabda’ Islam di terapkan di tengah masyarakat, Islam akan membina masyarakat supaya menjadikan aqidah Islam sebagai qiyadah fikriyyah atau intellectual leadership mereka, dengan demikian akan lahir ketaqwaan dalam diri anggota masyarakat, di mana ketaqwaan tersebut akan memancarkan sifat protektif (itqa’), sehingga mampu mengendalikan diri setiap individu dan mendorong mereka untuk melaksanakan perintah Allah serta meninggalkan larang-Nya.

Masyarakatnya juga akan membawa pemikiran dan perasaan Islam, sehingga manjadikan anggota masyarakatnya aktif dan peka dalam melakukan amar ma’ruf dan nahy munkar sebagai kontrol sosial agar senantiasa berada di jalan Islam yang lurus, sementara yang memainkan peranan paling penting dalam konteks ini adalah pemikiran dan metode Islam yang di terapkan dalam sebuah negara.

Ketiga, secara empiris, banyak bukti bisa disaksikan hingga saat ini, Taqiy ad-Din an-Nabhani memberikan gambaran yang rinci mengenai bukti tersebut yang terepresentasikan dalam dua aspek, yaitu :

  1. Melalui lembaga pengadilan (al­-qadha’) yang bertugas menyelesaikan perselisihan di tengah masyarakat, baik kasus yang menyangkut anggota masyarakat dengan sesama anggota masyarakat, ataupun kasus antara anggota masyarakat dengan pejabat pemerintahan. 
  2. Melalui institusi pemeritahan (al-hakim) yang bertugas melaksanakan seluruh hukum Islam di tengah masyarakat.

Mengenai pengadilan (al-qadha’), belum pernah ada dalam sejarah Islam sejak zaman Nabi Saw hingga abad ke-19 M, di terapkan hukum lain selain hukum Islam, sebagaimana yang terbukukan dalam kodifikasi hukum Islam yang tertuang dalam kitab-kitab fiqh, sepanjang 13 abad belum pernah ada satu masalah pun yang di selesaikan dengan menggunakan hukum lain, selain hukum Islam, bahkan orang-orang non-Islam pun sangat menguasai hukum Islam dengan baik, sehingga ada di antara mereka yang mampu menulis kitab fiqh Islam, seperti Salim al-Baz, penulis syarah kitab undang-undang Al-Majallah, namun, setelah mahkamah di pecah menjadi sipil dan agama (syari’ah), setelah merosotnya penguasaan fiqh Islam dan langkanya hakim syar’i, di samping karena mengikuti model perundang-undangan barat, akibatnya kasus-kasus yang ada di selesaikan bukan dengan hukum Islam, sekalipun demikian, dalam penerapannya hukum Islam tetap di laksanakan di negeri-negeri kaum muslimin meski tidak utuh, misalnya hukum potong tangan, rajam dan cambuk masih di terapkan di beberapa negeri kaum muslimin, baik di Arab Saudi, Malaysia maupun yang lain.

Baca juga...  Khalifah

Mengenai bukti empiris penerapan Islam yang terepresentasikan dalam pemerintahan (al-hakim) yang menerapkan hukum Islam sangat jelas, ini dapat di lihat dalam buku-buku fiqh, antara lain terlihat melalui struktur berikut ini :

  1. Khalifah.
  2. Wakil khalifah (Mu’awin tafwadh).
  3. Pembantu administratif khalifah (Mu’awin Tanfidz).
  4. Penguasa wilayah dan daerah (Wullat wa al-’ummal).
  5. Biro administrasi umum (al-Jihaz al-idari).
  6. Panglima Perang (Amir al-Jihad).
  7. Majlis Umma.
  8. Pengadilan.

Inilah fakta dan bukti-bukti empiris yang telah membuktikan keutuhan Islam sebagai ajaran agama yang komprehensif, baik menyangkut konsepsi politik maupun spiritualnya, semuanya dengan gamblang telah di ajarkan Islam.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya