Istilah Dasar Hadist

oleh

Dalam mengkaji kitab-kitab ilmu-ilmu hadis akan dijumpai ungkapan-ungkapan, seperti hadis, riwayat, sunnah, khabar dan atsar, yang masing-masing ungkapan itu secara umum menunjukkan pada ucapan dan peninggalan yang sampai dari Nabi Saw dan para Imam suci.

Beberapa ungkapan di atas dalam ilmu mushthalah al-hadits dianggap sama, meski menurut ulama bahasa (lughah) terdapat perbedaan makna yang jelas dalam istilah-istilahitu, berikut ini adalah sedikit keterangan mengenai makna bahasa, lughawi dan etimologis, ishthilahi dari ungkapan-ungkapan tersebut.

HADIST
Kata “hadits” merupakan pecahan dari kata “hadatsa” atau “huduts” yang berarti terjadi (wuqu’) dan muncul zhuhur),’ dengan memperhatikan arti dasar ini, maka kata hadis dapat digunakan dalam banyak arti, salah satunya berarti ucapan dan perkataan, karena ucapan adalah sebuah fenomena yang bagian-bagiannya terjadi dan muncul satu sesudah yang lain, sebab itu pula, Allah menyebut ayat-ayat Al-Qur’an dengan sebutan “dzikrin muhdatsin” dalam firmannya yang berbunyi : “Tidak datang kepada mereka suatu ayat pun yang baru (diturunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya dalam keadaan bermain-main.” (Q.S. Al-Anbiya : 2).

Pada sebagian ayat, Al-Qur’an disebut sebagai hadis yang berarti kalam atau ucapan, seperti pada ayat berikut ini, “Maka serahkanlah (wahai Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendnstakan perkataan ini (Al-Qur’an), nanti Kami akan rnenyeret mereka secara berangsur (menuju kebinasaan) tanpa mereka ketahui.” (Q.S. Al-Qalam : 44). Lebih dari itu, ternyata salah satu dari nama Al-Qur’an (Al-Zumar : 23) adalah “ahsanul hadits” yang berarti sebaik-baik perkataan.

Adapun kata hadits di dalam ilrnu hadis (‘ilm al-hadits) digunakan untuk “ucapan tertentu yang mengungkapkan perkataan atau perbuatan seorang maksum (pribadi yang terjaga dari dosa dan kesalahan)”. Dalam kitab Wajizah Syekh Baha’i menulis : “Hadis adalah sebuah ungkapan yang bersumber pada perkataan, perbuatan atau persetujuan (taqrir) seorang maksum. Menurut kami, penggunaan kata hadis pada sesuatu yang bukan dari maksum, hukumnya boleh.” Namun, sebagian peneliti berpendapat, Rasulullah Saw sendiri telah memberikan predikat pada sabda-sabdanya dengan sebutan hadis, sehingga dapat dibedakan antara ucapan yang sampai dari beliau dan dari selain beliau.”

Sebagian ulama menggunakan kata hadits dengan am “baru”, dan kata hadits diposisikan sebagai lawan dari kala qadim (lama/dahulu), berkenaan dengan ini, Ibnu Hajar Asqalani menulis : “Dalam pandangan ‘urf, hadis adalah setiap sesuatu yang berhubungan dengan Nabi Saw, dari sudut pandang ini ia diposisikan berlawanan dengan Al-Qur’an, yang diyakini sebagai sesuatu yang bersifat qadim (qadim).”

SEJARAH
Perlu dicatat, sebagian besar ulama Ahlusunnah berkeyakinan bahwa Al-Qur’an dari segi waktu bersifat qadim, sedang hukum-hukum dan ucapan Nabi Saw yang tersebar bersifat hadis dan baru, sebagian yang lain berpendapat bahwa ucapan Nabi Saw dan para Imam suci disebut dengan hadis, adalah karena ucapan-ucapan tersebut menjelaskan hukum-hukum Ilahi sehingga senantiasa segar, aktual, tidak pernah ketinggalan zaman dan tidak akan diganti’, sebagaimana halnya dengan Al-Qur’an Al-Karim yang senantiasa berlaku, aktual dan autentik.

Dengan memerhatikan beberapa keterangan di atas, maka kata “hadits” dalam istilah ilmu-ilmu keislaman (‘ulum islami) digunakan untuk perkataan, perbuatan dan taqrir seorang maksum, bahkan sebagian berpendapat, bahwa keterangan tentang sifat-sifat Nabi Saw, juga disebut sebagai hadist, akan tetapi, meski penggunaan yang seperti ini dapat diterima dan dibenarkan pada tempatnya, namun kata hadis pada tingkat pertama berkaitan dengan kalam yang dinukil dari Nabi Saw dan para Imam maksum dan pada tingkat-tingkat berikutnya juga dapat digunakan pada perbuatan dan taqrir merekaf, adapun sebagian istilah-istilah yang lain, penggunaannya tidak sama dengan hadis.

KHABAR
Khabar adalah sebuah kata yang mengungkap tentang sebuah peristiwa di luar, baik yang sesuai dengan fakta maupun tidak, dengan kata lain, khabar padanya terdapat kemungkinan benar atau yang telah didustakan. Adapun dalam ilmu hadis, sebagaimana yang diungkapkan oleh Syahid Tsani, khabar adalah kata yang digunakan untuk sebuah kalam yang sampai dari seorang maksum atau selain maksum.

Dengan demikian, meskipun khabar dan hadis dalam beberapa hal mempunyai am yang sama, namun cakupan arti khabar jauh lebih luas daripada hadis. Dengan arti ini, kata hadis hanya khusus digunakan untuk perkataan, perbuatan dan taqrir seorang maksum, sementara khabar juga dapat digunakan untuk ucapan-ucapan para sahabat dan tabiin, dengan kata lain, di antara keduanya terjadi hubungan umum dan khusus muthlaq, yakni setiap hadis adalah khabar, namun tidak setiap khabar itu hadis.

Perlu dicatat, sebagian ulama berpendapat bahwa dua kata hadis dan khabar itu saling bertentangan, mereka berkeyakinan, istilah hadis hanya khusus digunakan untuk ucapan-ucapan yang sampai dari Nabi Saw dan para Imam, sedang kata khabar hanya khusus untuk ucapan-ucapan yang sampai dari selain maksum.

Namun, sepertinya pandangan ini tidak disepakati oleh kebanyakan ulama, khususnya pada abad-abad terakhir, sehingga kepada mereka yang mengikat diri dengan akhbar (hadis) dan riwayat para maksum diberi julukan sebagai kelompok Akhbari, lagipula, kata khabar dalam ilmu ushul fikih (ushul al-fiqh), khususnya berkenaan dengan istilah-istilah seperti khabar wahid dan khabar mutawatir, dimana istilah khabar di situ digunakan dengan makna yang sama dengan hadis.

SUNNAH
Sunnah, arti asalnya dalam bahasa adalah jalan, metode dan tradisi, yang rnencakup tradisi yang baik dan yang tidak baik, dengan pengertian ini pula kata sunnah di gunakan dalam berbagai ayat dan hadis, sebagai misal dalam sebuah ayat disebutkan (Al-Ahzab [33] : 62). “Dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.”

Sunnah dalam ayat ini juga bisa berarti undang-undang atau “Siapa yang mentradisikan sebuah tradisi yang baik dalam Islam sehingga setelah wafatnya sunnah tersebut dilakukan oleh masyarakat, maka baginya akan dituliskan pahala seperti orang yang mengamalkannya tanpa dikurangi sedikit pun dari pahala mereka.”

Adapun kata sunnah telah digunakan dalam berbagai cabang ilmu agama dan dalam beragam makna, sebagai contoh, dalam istilah muhadditsin, sunnah di artikan sama dengan hadis, yang dapat digunakan untuk perkataan, perbuatan, taqrir dan sifat-sifat seorang maksum.”

Makna sunnah seperti ini juga diterima oleh ulama ushul fiqh, mereka menjadikan sunnah sebagai sumber rujukan kedua setelah Al-Qur’an untuk mendapatkan hukum-hukum Islam, sementara dalam istilah fuqaha, kata sunnah kadang diposisikan berlawanan dengan bidah, dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang mempunyai akar dalam agama dan kadang diposisikan berhadapan dengan faridhah dan dipakai untuk menunjukkan hal-hal yang mustahab, sepertinya kata “sunnah”, meski digunakan untuk rnenunjukkan perkataan dan perbuatan maksum, namun dalam penggunaannya kata ini lebih sering dipakai untuk menunjukkan perbuatan dan taqrir maksum (daripada untuk menunjukkan perkataan), sebagaimana yang digunakan oleh Imam Ali dalam masalah khilafah, ketika beliau berkata, “Aku akan berbuat (menjalankan pemerintahan ini) berdasarkan kitab Allah dan sunnah Rasulullah Saw.”

Maksud beliau adalah mengikuti sirah amali Rasulullah Saw dalam segala urusan, termasuk di dalamnya bagaimana cara Rasul Saw melakukan pembagian baitul mal, makna sunnah ini lebih sedikit cakupannya daripada hadis. Dengan memperhatikan sumber-surnber dalam sebagian riwayat, makna yang lebih khusus ini diterirna di kalangan ulama Islam. Perlu disebutkan, sebagian peneliti rnemperluas pengertian sunnah sehingga mencakup juga sirah para sahabat Nabi Saw, meski pandangan ini tidak benar menurut ulama Syi’ah.

RIWAYAT
Kata “riwayah” adalah mashdar (kata dasar) dari “riwayah” adaalah mashdar yang asalnya berarti “membawa atau sesuatu yang berkaitan dengan membawa”, sebagaimana orang Arab mengatakan, “Rawal ba’irul ma‘a” (unta membawa air).

Dari akar kata ini pula terbentuk kalimat shahabun rawiyyun yang berarti awan penuh air dan kata tarwiyah berarti pengairan, orang Arab juga menamakan hari ke-8 Dzulhijjah sebagai hari Tarwiyah, karena pada hari itu air dipindahkan dari Makkah menuju Padang Arafah.

Kata “riwayah” dalam makna tsanawiy (am kedua) berarti perkataan dan ucapan, karena ucapan dapat dipindah ke orang lain dengan cara menukil, karenanya penukil ucapan disebut dengan rawi, begitulah kata riwayah yang akhirnya digunakan dalam ilmu hadis untuk menunjukkan perkataan tertentu, yakni perkataan seorang maksum, boleh jadi antara air dan ucapan maksum terdapat kesamaan, karena sebagaimana air merupakan faktor penghilang dahaga zhahiri (jasmani), kalam maksum juga dapat menjadi faktor penghilang dahaga maknawi (rohani).

Di dalam ilmu hadis, kata “riwayah” apabila disebutkan mutlak, maka akan berarti hadis, Thuraihiy dalam Majma’ Al-Bayan mengatakan, “Kata riwayah dalam istilah adalah sebuah khabar yang dinukil dari maksum baik dalam bentuk mutawatir, mustafidh atau khabar wahid, namun, kata ini apabila disebutkan dalam bentuk mudhaf (riwayat al-hadits), akan memberikan arti kata dasarnya, yaitu penukilan.

ATSAR
Atsar dan atsarah dalam bahasa berarti tanda dan bekas yang tertinggal dari sesuatu, kata ini di dalam Al-Qur’an juga digunakan untuk arti yang seperti ini, seperti firman Allah (Al-Ahqaf [46] :4), yaitu : “Wahai Muhammad, katakanlah kepada orang-orang musyrik, bawalah kepadaku kitab yang sebelum ini atau bekas peninggalan dari ilmu (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar.” Di tempat lain, Allah juga berfirman (Yasin [36] : 12), yaitu : “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas (perbuatan) yang mereka tinggalkan.

Sebagian ahli bahasa memaknai atsar dengan arti penukilan, seperti Fairuzabadi dalam kamusnya berkata, “Al-Atsar naqlul hadis wa riwayatuhu, yakni atsar berarti menukil hadis dan meriwayatkannya, menurut ulama ilmu hadis pengertian atsar dalam istilah tidak jauh berbeda dengan pengertiannya dalam bahasa, karena sebagaimana atsar dalam bahasa berarti bekas dan peninggalan, di dalam ilmu hadis kata ini juga berarti bekas dan peninggalan ucapan serta perbuatan yang dinukil dari Rasulullah Saw dan salaf at-shalih, yang dari sisi ini tidak berbeda dengan arti bahasanya.

Sebagian ulama, berpendapat bahwa kata atsar sama dengan hadis, sebagian lain justru berpendapat bahwa dua kata ini berbeda arti, yakni hadis adalah yang sampai dari Rasulullah Saw, sedang atsar adalah yang sampai dari para sahabat dan orang-orang lain.

Syahid Tsani berpendapat bahwa antara hadis dan atsar terdapal hubungan umum wa khusus (muthlaq), yang berarti setiap hadis dan riwayat adalah pasti atsar yang ditinggalkan oleh para pendahulu, namun setiap atsar tidak harus yang dinukil dari Nabi Saw atau para sahabat, sepertinya pendapat ini ada benarnya, sebagaimana yang di tegaskan: “Pengertian atsar yang seperti ini lebih populer.”

Perlu dicatat, salah satu jenis tafsir Al-Qur’an dikenal dengan sebutan tafsir atsariy atau tafsir ma’tsur, karena tafsir ini memang bersandar pada naql dan atsar, meski dalam materi tafsir atsariy, terdapat perbedaan di antara Syi‘ah dan Ahlu sunnah, artinya, dalam pandangan Syi’ah, hadis yang diriwayatkan dari Nabi Saw dan para Imam maksum menjadi sandaran tafsir atsari mereka, sedangkan dalam pandangan Ahlusunnah selain hadis Nabi Saw, pendapat-pendapat para sahabat dan dalam kondisi tertentu para pembesar tabiin, juga diterima sebagai sandaran tafsir atsariy mereka.

HADIST QUDSI
Sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama hadis, predikat hadis qudsi diberikan pada sebuah hadis yang Rasulullah Saw atau para Imam maksum menukilkan atau mengungkapkan sebuah keterangan dari firman Allah, pengungkapan dan penukilan ini bisa dengan menggunakan lafazd dan bahasa Nabi atau maksum itu sendiri, yakni, dalam hadis qudsi, Nabi Saw dan para Imam laksana seorang perawi yang mengungkap keterangan dari Allah dengan bahasanya sendiri seperti hadis berikut ini.

Rasulullah berkata, “Allah berfirman, “Puasa adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan imbalannya.” Tak diragukan, hadis qudsi meski berkaitan dengan Allah, namun dari segi gaya bahasa, metode dan unsur mukjizat sama sekali tidak bisa disamakan dengan ayat-ayat Al-Qur’an, karena itu, hadis dari jenis ini tidak mempunyai fungsi tahaddiy (menantang orang untuk mendatangkan yang sepertinya) dan biasanya hanya merupakan khabar wahid, sementara, dari segi gaya bahasa, metode dan unsur mukjizat ayat-ayat Al-Qur’an dapat digunakan untuk tahaddiy dan dari segi banyaknya yang menukil dapat dikategorikan sebagai nukilan yang mutawatir.