Berikut beberapa jenis-jenis Mahar

Jenis-jenis mahar dapat di lihat dari dua sisi, yaitu :
a. Di lihat dari sisi nilainya, mahar di lihat dari sisi nilainya terbagi menjadi dua, antara lain :

– Mahar yang di sebutkan nilainya, di anjurkan ketika akad nikah menyebutkan mahar, karena hal ini dapat menghindari perselisihan.

– Mahar yang tidak di sebutkan nilainya, di perbolehkan melangsungkan akad nikah tanpa menyebutkan mahar, ini merupakan ijma’ ulama’.

Akad pernikahan yang tidak di sebutkan maharnya di sebut dengan nikah tafwidh. (Q.S. Al-Baqarah : 236).

b. Di lihat dari sisi waktu pembayarannya, mahar di lihat dari sisi waktu pembayarannya terbagi menjadi dua, antara lain :

– Mahar yang di bayar tunai, mahar yang di bayar tunai harus di berikan kepada isteri sebelum jima’ dan isteri boleh menolak jima’, hingga ia mendapatkan mahar yang akan di bayar tunai tersebut.

Mahar yang di bayar tunda

Mahar yang di bayar tunda boleh di akhirkan pembayarannya hingga waktu yang di sepakati oleh kedua belah pihak, bahkan suami isteri sudah di perbolehkan jima’, meskipun maharnya belum di tunaikan.

Adapun syarat bolehnya menunda mahar adalah :

– Tempo pembayaran mahar di ketahui, sehingga tidak di perbolehkan menunda dengan masa yang tidak tentu, seperti sampai mati, sampai cerai dan yang semisalnya.

– Tempo penundaan tidak terlalu lama, ketentuan mahar yang di terima isteri, mahar yang berhak di terima oleh seorang isteri terbagi dalam beberapa kondisi, antara lain :

A. Yang menjadikan seorang isteri berhak mendapatkan mahar secara penuh.

Hal-hal yang menjadikan seorang isteri berhak mendapatkan mahar secara penuh, adalah :

a. Telah terjadi jima’
Para ulama’ telah bersepakat bahwa isteri berhak mendapatkan mahar secara penuh, jika suaminya telah menjima’nya. (H.R. At-Tirmidzi Juz 3 : 1102).

Mahar harus di berikan kepada isteri setelah terjadi jima’, meskipun jima’nya di lakukan dengan cara yang haram, seperti jima’ ketika haidh, ketika ihram dan yang semisalnya.

Bahkan mahar tetap harus di berikan ketika telah terjadi jima’, meskipun pernikahannya batil. (H.R. Muslim Juz 2 : 1406).

b. Telah terjadi khalwat yang shahih
Yang di maksud dengan khalwat yang shahih adalah suami isteri berduaan setelah akad nikah pada suatu tempat yang memungkinkan keduanya untuk melakukan jima’ secara sempurna dan tidak ada penghalang secara alami maupun secara syar’i yang menghalangi mereka untuk melakukan jima’, sehingga jika antara suami isteri telah terjadi khalwat yang shahih, meskipun belum terjadi jima’, lalu suami tersebut mentalak isterinya, maka isteri berhak mendapatkan mahar secara penuh.

Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Asy-Syafi’i dan pendapat yang masyhur dari Ahmad, Ishaq dan Al-Auza’i. (H.R. Baihaqi Juz 7 : 14256).

c. Ketika maharnya di sebutkan dalam aqad dan suami meninggal dunia setelah akad (sebelum jima’), jika mahar di sebutkan ketika akad nikah dan setelah melangsungkan akad nikah suami meninggal dunia sebelum terjadi jima’ (dan isterinya tidak di talak), maka isteri berhak mendapatkan maharnya secara penuh.

Karena akad nikah keduanya tidak batal dengan kematian, ini adalah kesepakatan para sahabat dan kesepakatan para ulama’ fiqih.

B. Yang menjadikan seorang isteri berhak mendapatkan setengah mahar

Jika ketika akad nikah maharnya di sebutkan dan belum terjadi jima’ antara suami dan isteri lalu suami mentalak isterinya, maka isteri berhak mendapatkan setengah dari mahar yang telah di tentukan. (Q.S. Al-Baqarah : 237).

C. Yang menjadikan seorang isteri berhak mendapatkan mahar “Mitsl”

Mahar mitsl adalah mahar yang di bayarkan dalam pernikahan yang besarnya di samakan dengan besarnya mahar wanita kalangan kerabat dari pihak bapaknya isteri, bukan dari pihak ibunya.

Seperti mahar saudara perempuannya (dari pihak bapak), mahar bibinya (dari pihak bapak), dan seterusnya, jika tidak ada wanita dari pihak bapak yang mendapatkan mahar, maka besarnya mahar mitsl di samakan dengan wanita-wanita yang sebaya dan sezaman dengan isteri dari penduduk daerahnya.

Seorang isteri berhak mendapatkan mahar mitsl jika ketika akad maharnya tidak disebutkan, lalu setelah itu suaminya meninggal dunia, ini adalah madzhab Hanafiyah, pendapat yang shahih dari Hanabilah dan salah satu pendapat Imam Asy-Syafi’i. (H.R. At-Tirmidzi Juz 3 : 1145, An-Nasa’i Juz 6 : 3354, Abu Dawud : 2114 dan Ibnu Majah : 1891).

D. Yang menjadikan seorang isteri berhak mendapatkan mut’ah (pemberian)

Jika mahar tidak di sebutkan ketika akad nikah lalu isteri di talak oleh suaminya, sebelum terjadi jima’ dan khalwat yang shahih, maka isteri tidak mendapatkan mahar, namun ia wajib mendapatkan mut’ah (pemberian) saja. (Q.S. Al-Baqarah : 236).

E. Yang menggugurkan mahar bagi seorang isteri

Hal-hal yang menggugurkan mahar bagi isteri adalah :
a. Terjadi perceraian dari pihak isteri sebelum jima’, misalnya setelah akad nikah isteri masuk Islam, isterinya murtad, isteri membatalkan pernikahan karena aib yang terdapat pada suami dan lain sebagainya.
b. Khulu’.
c. Ibra’ (isteri menggugurkan hak maharnya).
d. Isteri yang menghibahkan seluruh mahar untuk suaminya.

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: