oleh

Jenis Zakat Yang Di Keluarkan

Zakat pertanian dan buah-buahan
Hasil pertanian dan buah-buahan wajib di keluarkan zakatnya jika terpenuhi dua syarat, antara lain :

  • Dapat di takar.
  • Dapat di simpan lama.

Seperti; kacang tanah, kurma kismis dan yang semisalnya, ini adalah riwayat yang paling masyhur dari Imam Ahmad.
Nishab Pertanian dan buah-buahan adalah lima wasaq. (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim), yaitu sama dengan 300 sha’ nabawi, yaitu kurang lebih setara dengan 647 kg gandum.


Tidak di syaratkan haul pada zakat pertanian dan buah-buahan tetapi di keluarkan saat panen, ini merupakan kesepakatan para ulama’, jika telah mencapai nishab, maka di keluarkan :

  • Sepersepuluh (10%), untuk yang di airi tanpa biaya, seperti pengairan dari air hujan, mata air dan yang sejenisnya.
  • Seperduapuluh (5%), untuk yang di airi dengan biaya, seperti pengairan dengan air sumur yang di keluarkan dengan alat dan yang sejenisnya. (Q.S. Al-Baqarah : 267.


Zakat Peternakan
Hewan ternak yang wajib di keluarkan zakatnya ada tiga jenis, yaitu : Unta, Sapi, Kerbau, kambing dan domba, wajib di keluarkan zakatnya jika terpenuhi tiga syarat, antara lain :

  • Mencapai Nishab.
  • Haul.
  • Merupakan binatang ternak yang di gembala.

Artinya hewan ternak tersebut di gembalakan selama setahun lebih, dengan mencari makan sendiri, di biarkan di padang rumput (tidak di beri makan secara khusus), jika yang dominan adalah di beri makan di dalam kandang, maka tidak terkena zakat peternakan.

Adapun nishab dari masing-masing ternak tersebut adalah :

  1. Unta mulai wajib dizakati jika telah mencapai 5 ekor.
  2. Sapi mulai wajib dizakati jika telah mencapai 30 ekor.
  3. Para ulama’ telah bersepakat bahwa kambing itu mencakup domba dan biri-biri. Kambing mulai wajib di zakati jika telah mencapai 40 ekor.


Zakat Perdagangan
Menurut jumhur ulama’ wajib mengeluarkan zakat perdagangan, bahkan sebagian dari mereka menuturkan, hal ini adalah ijma’ sahabat dan tabi’in. Telah di riwayatkan dengan shahih dari ‘Umar, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dan sekelompok ulama’ salaf, bahwa barang dagangan wajib di keluarkan zakatnya dan ini juga merupakan pendapat imam yang empat, sebagaimana firman Allah, yaitu : ”Wahai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usaha kalian yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kalian.” (Q.S. Al-Baqarah : 267).

Kewajiban mengeluarkan zakat perdagangan terikat dengan dua syarat, antara lain :

a. Mencapai Nishab
Nishab perdagangan adalah sama dengan nishab emas, yaitu 85 gram emas (24 karat).


b. Haul
Jika telah mencapai nishab dan haul, maka di keluarkan zakatnya 2,5 %, di hitungnya nishab pada harta perdagangan adalah pada awal dan akhir haul, bukan di tengahnya, ini pendapat madzhab Abu Hanifah.

Baca juga...  Konsekuensi dari Pelaksanaan Li’an

Perdagangan terbagi menjadi dua, yaitu :
a. Jual-beli
Apabila jenis perdagangannya merupakan jual-beli, maka pendagang harus menggabungkan semua hartanya, harta tersebut mencakup modal (bahan baku), keuntungan, simpanan, nilai barang dagangan dan piutang yang diharapkan pembayarannya, selanjutnya di kurangi dengan jumlah tanggungan hutang yang wajib ia keluarkan, setelah itu ia mengeluarkan zakat dari semua hasil perhitungan sebanyak 2,5% (jika telah mencapai nishab dan haul) yang disesuaikan dengan harga ketika ia mengeluarkan zakat, bukan harga ketika ia membeli barang tersebut, inilah pendapat Jumhur ulama’.
 
b. Sewa-menyewa
Apabila jenis perdagangannya merupakan sewa-menyewa, maka yang di hitung adalah pada hasil sewa yang di mulai dari akad, di gabung dengan simpanan dan pembayaran yang di harapkan, jika telah mencapai nishab(85 gram emas) dan melalui masa haul, maka di keluarkan zakatnya sebanyak 2,5%. Berkata Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al-Jibrin : ”Setiap barang yang di proyeksikan untuk di gunakan atau di sewakan, tidak ada zakat pada harganya, adapun zakatnya adalah pada hasil penyewaannya.”

Zakat Rikaz
Rikaz adalah harta yang terpendam pada masa jahiliyyah, lalu di temukan oleh seseorang tanpa kerja keras dan tanpa biaya, baik itu sedikit atau banyak, pada harta rikaz tidak ada nishab dan tanpa menunggu haul, sehingga ketika menemukannya, maka harus segera di keluarkan zakatnya. Berkata Imam Nawawi, ”Secara ijma’ (kesepakatan ulama’) tidak ada syarat harus menunggu haul (setahun) di dalam harta rikaz.”

Zakat harta rikaz adalah sebesar 20%, sebagaimana di riwayatkan dari Abu Hurairah Ra, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda : ”Zakat rikaz adalah seperlima (20%).” (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim). Banyak para ulama’ yang berpendapat bahwa pembagian harta rikaz seperti pembagian fai’, yaitu untuk kemaslahatan umum, bukan di khususkan untuk delapan golongan dan ini adalah pendapat Abu Hanifah, Imam Malik, sebuah riwayat dari Imam Ahmad yang di shahihkan oleh Ibnu Qadamah.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru