oleh

Jin Yang Mana Yang Akan Di Keluarkan Dari Tubuh Manusia…?

-Health-3 views

Timbul pertanyaan lagi, kalau yang di katakan “ruqyah” itu mengeluarkan jin dari tubuh manusia yang sedang dalam keadaan sadar…?

Pertanyaannya, jin yang mana yang akan di keluarkan dari tubuh manusia itu…?

Dalam kaitan ini kami mengetengahkan tiga buah hadits Rasulullah Saw, oleh karena dimensi jin adalah dimensi ghaib bagi indera lahir manusia (tidak dapat di lihat mata), maka hanya wahyu tuhan yang berhak membicarakannya, bukan mitos-mitos yang di hasilkan dari persangkaan manusia : “Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.” (Q.S. An-Najm/28).

Sedangkan manusia wajib mengimani wahyu itu, kalau tidak, berarti mereka akan tersesat jalannya, adapun kedudukan hadits shahih adalah sejajar dengan wahyu.

Hal itu di nyatakan Allah melalui firman-Nya yang artinya adalah : “Dan tiadalah yang di ucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya, ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang di wahyukan (kepadanya).” (Q.S. 53/3-4).

Tiga hadits tersebut, masing-masing akan kita ikuti pembahasannya di bawah ini :

إِنٖماظشٖقِطَونَمظَقَفِِّىمعٔـِمابِـِمآَدَمَمعَفَِّىماظّٖمِممصَضَقٚؼُقِامعَفَؤرؼَفُٔمبوظْفُقِعِ. م

“Sesungguhnya syaithan masuk (mengalir) ke dalam tubuh anak Adam mengikuti aliran darahnya, maka sempitkanlah jalan masuknya dengan puasa”. Atau dengan kalimat yang lain seperti yang telah di ketengahkan di dalam bahasan di atas :

حَّٔؼٌُمصَػٔقٖيَمبٔـًِٔمحُقَلّمرَضٔلَماظؾّفُمسَـِفَومضَوظًَِم:مطَونَماظـٖؾٔلٗم
صَؾّك ماظؾّفُ مسَؾَقِفٔ موَدَؾّؿَ معُعِؿَؽٔػًو مصَلَتَقِؿُفُ مأَزُورُهُ مظَقِؾًو مصَقَّٖثِؿُفُ مثُؿٖم
ضُؿًُِمظٔلَغِؼَؾٔىَمصَؼَومَمعَعٔلَمظٔقَؼْؾٔؾَـٔلموَطَونَمعَلِؽَـُفَومصٔلمدَارِمأُدَوعَيَم
ابِـِمزَؼِّٕمصَؿَّٖمرَجُؾَونِمعٔـَماظْلَغِصَورِمصَؾَؿٖومرَأَؼَوماظـٖؾٔلٖمصَؾّكماظؾّفُمسَؾَقِفٔم
وَدَؾّؿَ مأَدَِّسَو مصَؼَولَ ماظـٖؾٔلٗ مصَؾّك ماظؾّفُ مسَؾَقِفٔ موَدَؾّؿَ مسَؾَك مرِدِؾٔؽُؿَوم
إِغٖفَومصَػٔقٖيُمبٔـًُِمحُقَلّمصَؼَوظَومدُؾِقَونَماظؾّفٔمؼَومرَدُقلَماظؾّفٔمضَولَمإِنٖم
اظشٖقِطَونَ مؼَفِِّي معٔـَ ماظْنِغِلَونِ معَفَِّى ماظّٖمِ موَإِغٚل مخَشٔقًُ مأَنِم
ؼَؼّْٔفَمصٔلمضُؾُقبٔؽُؿَومذَّ٘امأَوِمضَولَمذَقِؽّوم*مم م

“Di riwayatkan dari Sofiah binti Huyai Ra, ia berkata: Pada suatu malam ketika Nabi Saw sedang beriktikaf aku datang menghampiri baginda. Setelah puas berbincang-bincang dengan baginda, akupun berdiri untuk pulang. Rasulullah Saw ikut berdiri untuk mengantarku. Tempat tinggal Sofiah adalah di rumah Usamah bin Zaid. Tiba-tiba datang dua orang Anshar. Ketika mereka melihat Nabi Saw mereka mempercepatkan langkahnya. Lalu Nabi Saw bersabda : Perlahankanlah langkahmu. Sesungguhnya ini adalah Sofiah binti Huyai. Kedua orang ansor itu berkata Maha suci Allah, wahai Rasulullah. Lalu Rasulullah Saw bersabda : Sesungguhnya syetan itu berjalan pada aliran darah manusia. Sebenarnya aku khawatir ada tuduhan buruk atau yang tidak baik dalam hati kamu berdua.”

Ternyata syetan jin dapat dengan mudah keluar masuk bahkan bertempat tinggal di dalam anggota tubuh manusia melalui jalan darahnya, supaya setan jin tidak terlalu leluasa menjajah tubuh manusia, maka sempitkanlah jalan darah itu dengan lapar atau ibadah puasa.

Artinya, manusia harus selalu mengendalikan kemauan nafsu syahwatnya, baik melalui ibadah puasa maupun ibadah-ibadah yang lain, itulah yang di sebut mujahadah di jalan Allah.

Yang di sebutkan di atas adalah konsep langit yang harus di ketahui dan di terapkan oleh manusia di bumi, selain wahyu tidak ada yang dapat mengetahui rahasia itu. Sebagian kalangan mengira rumah jin itu hanya di tempat-tempat yang angker saja, seperti di pohon beringin tua misalnya. Ketika jin penunggu pohon beringin itu di khawatirkan masuk di dalam tubuhnya, maka tubuh itu di ruqyah.

Padahal rumah jin itu ternyata di dalam tubuhnya sendiri, oleh sebab itu, ketika di ruqyah segera saja jin yang di dalam tubuh itu menampakkan diri, jadi orang-orang yang takut terkena gangguan jin, caranya tidak harus di ruqyah, tapi melaksanakan mujahadah di jalan Allah dengan benar.

Hadits kedua adalah sebagai berikut :

عَو معٔـِؽُؿِ معٔـِ مأَحَّٕ مإِلاّ موَضَِّ موَطّؾَ مضََِّؼِـَفُ معٔـَ ماظْفٔـٚ م. مضَوُظْقا مأَاَغًَِم
ؼَورَدُقِلَ مآٔ ضَول: موَإِؼٖويَ مإِلاّ مأَنٖ مآَ مضَِّ مأَسَوغَـٔل مسَؾَقِفٔ مصَلَدِؾَؿَ مصَلاَم
ؼَلْعُُّغٔلمإِلاّمبٔوظْكَقِِّم.مرواهمعلؾؿ.م م

Baca juga...  Bekam Pada Tengkuk

“Tidaklah dari salah satu di antara kalian kecuali sesungguhnya Allah telah mewakilkan temannya dari jin, mereka bertanya: “Apakah engkau juga ya Rasulullah?”, Rasulullah Saw menjawab : “Dan juga kepadaku, hanya saja sesungguhnya Allah telah menolongku mengalahkannya, maka ia masuk islam, maka ia tidak memerintah kepadaku kecuali dengan kebaikan.” (H.R. Imam Muslim).

Ternyata dalam diri Rasulullah Saw pun ada jin yang hidup, hanya saja berkat pertolongan Allah kepada Baginda Nabi Saw, jin itu masuk Islam. Jin itu bukan menjadi setan jin melainkan menjadi Qorin (teman) yang baik.

Selanjutnya, jin qorin itu tidak memberikan informasi kepada Baginda Nabi Saw kecuali informasi yang baik dan dalam hal kebaikan. Hal itu, karena Nabi adalah seorang hamba yang ma’shum atau terjaga.

Untuk itu manusia harus selalu bermujahadah di jalan Allah baik dengan puasa maupun dzikir serta dengan ibadah-ibadah yang lain agar manusia benar-benar bersih dari karakter manusiawi sehingga terjaga dan terbebas dari upaya syetan jin untuk menggoda dan menguasai melalui wilayah kesadaran mereka.

Mujahadah yang demikian itu di namakan tazkiyah, apabila tazkiyah itu berhasil di laksanakan dengan sempurna, berarti manusia sudah benar-benar terjaga dari was-was setan yang ada dalam hatinya.

Namun demikian, kebersihan hati itu ada parameternya yaitu seperti yang telah di sampaikan Nabi Saw dalam haditsnya di bawah ini :

ظَقِلاَ مأَنٖ ماظشٖقَورٔقِـَ مؼَقُقِعُقِنَ مسَؾَك مضُؾُقِبٔ مبَـٔك مآَدَمَ مظَـَظَُّوِا مأظَكم
عَؾَؽُقِتٔماظلٖؿَووَاتٔم. م

“Kalau sekiranya syaithan tidak meliputi hati anak Adam, pasti dia akan melihat alam kerajaan langit”. Maksudnya: Sekiranya ysetan jin yang ada di dalam tubuh manusia tidak mampu lagi mengadakan tipu daya di dalam hatinya, maka pandangan mata hati manusia dapat menembus alam malakut atau alam kerajaan langit, di mana Lauh Makfudz berada.

Artinya pandangan mata manusia (dengan izin Allah) menjadi tembus pandang sehingga ia mampu melihat alam ghaib, baik ghaibnya alam malakut yang ada di langit maupun ghaibnya alam malakut yang ada di dalam isi dada manusia.

Apabila tanda-tanda seperti itu belum tampak pada diri seseorang, berarti di dalam hati orang tersebut masih berpotensi mendapatkan was-was dari syetan.

Hal tersebut berarti di dalam tubuh manusia itu masih terdapat banyak syetan jin yang setiap saat siap menusuk dan menguasai wilayah kesadarannya. Sungguh seandainya Allah tidak melindungi manusia barangkali tidak ada seorangpun yang dapat selamat dari kejahatan syetan jin yang terkutuk.

Allah telah menegaskan dengan firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syetan, maka sesungguhnya syetan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang di kehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. An-Nur : 24/21).

Apa saja yang menyebabkan kekejian berarti itu perbuatan keji dan apa saja yang menyebabkan kemungkaran berarti perbuatan mungkar, apabila sesuatu yang di kerjakan manusia itu ternyata menjadi penyebab timbulnya penyakit, seperti pelaksanaan ruqyah itu, maka hakikatnya itu adalah penyakit, bahkan sumber penyakit.

Hal tersebut, apabila di laksanakan oleh seseorang dengan sengaja, berarti orang tersebut telah mengikuti langkah-langkah syetan, itulah pengertian yang terkandung di dalam ayat di atas.

Baca juga...  Dalil Mengenai Pengobatan Ala Islam

Lebih jelas lagi firman Allah : “Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti syetan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).” (Q.S. An-Nisa’ : 4/83). Maksudnya, tidak ada yang dapat menyelamatkan manusia dari ancaman syetan jin kecuali hanya karunia (fadhol) Allah, namun demikian, karunia itu tidak datang dengan sendirinya kecuali dengan sebab yang di usahakan seorang hamba di dunia.

Itulah yang di sebut amal, yaitu perpaduan antara ilmu, iman dan perbuatan agar dengan itu manusia tidak memperturutkan langkah-langkah syetan.

Oleh sebab itu, selama hidupnya manusia harus beramal secara benar, tentunya dengan amal yang mendapatkan bimbingan dari guru ahlinya, sebabnya, karena selama hidup itu pula ancaman Iblis tetap membidik kehidupan manusia.

Bukan semata karena manusia mempunyai kesaktian yang ampuh sehingga mereka dapat menolak kekuatan syetan jin, ketika di ruqyah itu yang kesurupan jin hanya sebagian kecil dari mereka.

Hal itu di sebabkan semata fadhal (keutamaan) Allah dan rahmat-Nya yang di turunkan kepada hamba-hamba yang beriman, kalau tidaklah demikian : “Tentulah kamu semua akan mengikuti syetan, kecuali sebagian kecil saja
(di antaramu).” (Q.S : 4/83).

Hal tersebut, tidak di pahami oleh banyak kalangan kecuali oleh para ahli thariqat yang sepanjang hidupnya telah melatih diri untuk mengadakan pengembaraan ruhaniyah di jalan Allah, merekalah para ahli salik (berjalan di jalan Allah) yang dalam perjalanannya kadang-kadang sering bersinggungan dengan dunia (dimensi) jin.

Namun demikian, berkat karunia Allah itu, meski mereka tidak dapat melihat jin dengan mata kepala (bashara), tetapi dengan pancaran matahati (bashiroh) yang cemerlang, mereka dapat merasakan keberadaan mahluk ghaib yang ada di sekitar kehidupannya.

Hendaklah kita selalu berhati-hati dalam melaksanakan amal ibadah, apalagi yang bersinggungan secara langsung dengan wilayah dimensi alam jin, sebagaimana yang banyak kita lihat dari pelaksanaan apa yang mereka katakan sebagai ruqyah tersebut.

Apakah pelaksanaan seperti itu benar-benar telah sesuai dengan pelaksanaan ruqyah secara sar’iyyah sebagaimana yang telah di contohkan oleh Rasulullah Saw dan para ulama‘ salafush-shaleh terdahulu yang telah terlebih dahulu melaksanakan ruqyah dengan cara yang benar..?

Kalau tidak, maka yang seharusnya menyembuhkan penyakit itu malah boleh jadi menjadi sumber panyakit yang membahayakan kehidupan manusia secara luas, seperti orang menyalakan api, apabila api itu di manfaatkan dengan benar, api itu akan memberi manfaat bagi kehidupan manusia.

Sebaliknya, manakala salah dalam pelaksanaannya, maka justru akan menjadi sebab kehancuran manusia, terlebih lagi dengan menyalakan api dimensi jin yang secara qudroti tercipta lebih kuat daripada api dunia dan ditakdirkan sebagai ancaman bagi kelestarian hidup manusia, baik jasmani maupun ruhaninya.

Yang harus kita teliti ulang adalah aspek pelaksanaan Ruqyah itu, bukan aspek definisi ruqyah serta dalil-dalil yang mereka jelaskan, pelaksanaan itu boleh jadi ada yang perlu di luruskan oleh ahlinya.

Konkritnya, yang dinamakan ruqyah (sebagaimana yang telah di tulis oleh para ulama ahlinya baik di dalam buku maupun di dalam VCD yang mereka terbitkan) adalah alat atau sarana untuk pencegahan dan pengobatan orang sakit, baik akibat gangguan jin maupun sebab yang lain.

Sarana penyembuhan yang islami, bersih dan murni, baik dari perbuatan syirik maupun perbuatan bid‘ah, ruqyah bukan alat untuk mengetahui (diagnosa) apakah di dalam tubuh manusia ada jin atau tidak.

Baca juga...  Transfusi dan Transplantasi Pada Hukum Islam

Namun demikian, oleh karena manusia lebih menyukai hal-hal yang sifatnya instan dan yang dapat di jadikan pertunjukan bahkan untuk bangga-banggaan, maka kebanyakan mereka yang awam menyukai tontonan yang mengerikan itu.

Sedangkan untuk mengetahui hasil dari ruqyah yang sesungguhnya, oleh karena hal itu membutuhkan ilmu pengetahuan yang khusus dan keyakinan yang kuat serta tidak dapat di ketahui secara cepat, baik oleh penderitanya maupun pelakunya, maka ruqyah yang sesungguhnya itu kurang di minati oleh banyak kalangan.

Tidak demikian dengan pelaksanaan ruqyah yang kedua (yang akhir-akhir ini banyak di siarkan oleh beberapa media penyiaran dan juga di laksanakan di mana-mana tempat dengan penuh kebanggaan) oleh karena reaksinya dapat cepat di lihat, maka ia lebih cepat dapat di terima di tengah-tengah masyarakat, terutama bagi kalangan yang masih awam.

Tanpa sadar bahwa pelaksanaan itu akan berdampak sangat membahayakan bagi kehidupannya sendiri dan Allah telah memberi peringatan kepada hamba-Nya yang beriman dengan firman-Nya : “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Al-Hadid : 57/16).

Jadi, yang harus di teliti ulang bukan dalildalilnya akan tetapi niat dan pelaksanaannya, sebelum mereka akan menerima akibat yang fatal sehingga dengan perbuatan itu justru akan menghancurkan mereka sendiri, sehingga menyebabkan mereka menjadi putus asa.

Allah telah memberikan memperingatkan lagi dengan firman-Nya : “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah di berikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah di berikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (Q.S. Al-An’am : 6/44).

Tanda-tanda suatu perbuatan masih membutuhkan penelitian dan kajian ulang adalah kebanggaan yang ada di dalam hati kita terhadap apa-apa yang sedang kita perbuat, kita merasa aman bahwa apa yang kita perbuat adalah pasti benar, terlebih apabila hal itu mampu di ekspresikan dengan menyalahkan dan mensyirikkan perbuatan orang lain.

Padahal yang menilai benar atau tidaknya sebuah amal ibadah hanyalah Allah, yang membayar pahalanya juga Allah, adapun manusia, mereka hanya melaksanakan apa-apa yang sudah di pahaminya dari firman-firman Allah.

Hanya hasil penafsiran yang belum tentu selalu benar, oleh karena itu, kebanggaan hati itu boleh ada, yaitu ketika saat itu kita mengetahui bahwa dosa-dosa kita sudah di ampuni oleh Allah, sedangkan nanti, sesudah itu tidak ada lagi kesempatan untuk mengulang berbuat dosa, apabila datangnya ajal kematian kita belum seperti itu, berarti besok harinya setelah matahari berganti, sejak di alam barzah kita masih mempunyai pekerjaan rumah.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya