oleh

Jual Beli yang Di Larang

-Muamalah-1 views

Jual beli yang di larang karena mengandung unsur, yaitu riba, gharar atau khida’, berikut ini penjelasannya.

A. Riba. (Q.S. Al-Baqarah : 275).
Di antara bentuk jual beli yang mengandung unsur riba adalah :

1. ‘Inah, jual beli ‘inah adalah seorang menjual sesuatu kepada orang lain dengan di hutang (kredit), kemudian penjual membeli kembali barang tersebut dengan harga yang lebih murah dari harga jual pertama secara kontan dan ini adalah di antara bentuk riba. (H.R. Imam Ahmad).

2. Muzabanah, muzabanah adalah menjual buah yang ada di pohon dengan buah yang telah di petik. (H.R. An-Nasa’i Juz 7 : 4549 dan Ibnu Majah : 2265).

3. Muhaqalah, muhaqalah adalah menjual biji-bijian yang masih ada di tangkainya dengan biji-bijian sejenis yang sudah di panen dan di kupas dengan cara perkiraan.

Jual beli semacam ini tidak di perbolehkan, karena terdapat ketidakjelasan ukuran dan kondisi serta adanya unsur riba karena penukaran yang tidak sama kadarnya. (H.R. Bukhari Juz 2 : 2074 dan Muslim Juz 3 : 1539).

d. Dua jual beli yang bersyarat dalam satu jual beli, misalnya seorang mengatakan, “Aku jual rumahku kepadamu seharga seratus ribu dengan syarat engkau jual rumahmu kepadaku seharga lima puluh ribu.”

Atau misalnya seorang mengatakan, “Aku jual mobilku kepadamu seharga seratus ribu dengan syarat engkau menyewakan rumahmu kepadaku seharga sepuluh ribu.

Dua akad yang bersyarat dalam satu jual beli semacam
ini tidak sah. (H.R. At-Tirmidzi Juz 3 : 1234, An-Nasa’i Juz 7 : 4611 dan Abu Dawud : 3504).

B. Gharar
Jual beli gharar adalah jual beli yang mengandung unsur ketidakjelasan, di antara bentuk jual beli yang mengandung unsur gharar adalah :

1. Munabadzah, munabadzah adalah jual beli dengan cara penjual melemparkan barang dagangan kepada pembeli tanpa pembeli memeriksa barang tersebut.

Baca juga...  Pengertian Tentang Wakaf

Misalnya seseorang penjual mengatakan, “Baju mana pun yang aku lemparkan kepadamu, maka harganya adalah tiga puluh ribu“, padahal harga baju di tempat tersebut beragam.

2. Mulamasah, mulamasah adalah jual beli dengan cara menyentuh tanpa melihat dan memilih, mana saja barang dagangan yang terkena sentuhan, maka berarti itulah yang di beli. (H.R. Bukhari Juz 2 : 2039).

3. Hashah, hashah adalah jual beli dengan cara melempar kerikil tanpa di lihat dan di pilih-pilih terlebih dahulu, barang dagangan mana saja yang terkena lemparan kerikil, maka itulah yang di jual. (H.R. Muslim Juz 3 : 1513).

4. Hablul habalah, hablul habalah yaitu jual beli dengan menangguhkan pembayaran hingga anaknya anak unta di lahirkan.

Jual beli semacam ini batil karena penangguhan pembayan hingga waktu yang tidak di tentukan. (H.R. Muttafaq‘alaih, Bukhari Juz 2 : 2036 dan Muslim Juz 3 : 1514).

5. ‘Asbul fahl, ‘Asbul fahl adalah pengambilan upah atas jasa
perkawinan pejantan. (H.R. Bukhari Juz 2 : 2164).

Namun jika pejantan di pinjamkan untuk di kawinkan tanpa di ambil upah dari perkawinannya, maka tidak mengapa dan jika peminjam memberikan sesuatu sebagai ungkapan terimakasih, maka orang yang meminjamkan boleh menerimanya. (H.R. At-Tirmidzi Juz 3 : 1274).

6. Mu’awamah, mu’awamah adalah jual beli buah-buahan dari suatu pohon selama beberapa tahun. Para ulama’ telah bersepakat atas di haramkannya jual beli mu’awamah. (H.R. Muslim Juz 3 : 1536).

7. Mukhadharah, mukhadharah adalah jual beli buah-buahan atau biji-bijian sebelum tampak matangnya, di riwayatkan dari Ibnu ‘Umar Ra ia berkata, Rasulullah Saw bersabda :

“Janganlah kalian menjual buah-buahan hingga tampak matangnya.” (H.R. Bukhari Juz 2 : 2072 dan Muslim Juz 3 : 1534).

C. Khida’
Khida’ adalah jual beli yang mengandung unsur penipuan, di antara bentuk jual beli yang mengandung unsur khida’ adalah :

Baca juga...  Tentang Riba

1. Najasy
Najsy adalah menawaran barang dengan harga tinggi tanpa bermaksud untuk membelinya, hanya bermaksud untuk menghasut pembeli yang lain.

Para ulama’ telah bersepakat977 atas haramnya jual beli najasy. (H.R. An-Nasa’i Juz 7 : 4497 dan Ibnu Majah : 2173).

2. Menjual di atas penjualan saudaranya, para ulama’ telah bersepakat atas terlarangnya menjual di atas penjualan saudaranya. (H.R. Bukhari Juz 2 : 2033 dan Muslim Juz 2 : 1413).

Misalnya seseorang membeli barang dengan harga sepuluh ribu dan sebelum jual beli selesai atau masih dalam masa khiyar, lalu datanglah penjual lain dengan berkata, “Aku menjual kepadamu barang yang sama dengan harga sembilan ribu.”

3. Orang kota menjualkan barang dagangan milik orang desa, jual beli seperti ini tidak sah karena mengandung mudharat, akan tetapi jika orang desa datang kepada orang kota dan memintanya untuk menjualkan barang dagangannya, maka hal itu tidak mengapa. (H.R. Bukhari Juz 2 : 2043 dan Muslim Juz 2 : 1413).

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya