oleh

Kebebasan Perempuan Dalam Menikah

Perempuan seperti halnya laki-laki, sangat bebas dalam menikah dan memilih pasangan.

Tidaklah benar pernikahan perempuan yang baligh di lakukan tanpa persetujuannya.

Tidak seorang pun yang berhak memaksa seorang perempuan untuk menikah atau memilih pasangan tertentu walaupun itu ayah, ibu, kakek, dan saudaranya.

Imam Shadiq berkata, “Hendaknya mereka memperoleh izin dari perempuan yang perawan dan bukan perawan dalam pernikahan dan pernikahan tanpa kerelaannya adalah tidak benar.”

Imam Shadiq berkata tentang seorang laki-laki yang ingin menikahkan saudarinya, “Harus meminta izin dari perempuan itu sendiri, apabila dia diam, maka diamnya adalah setuju, adapun tanpa persetujuannya, maka pernikahannya tidak benar.”

Oleh karena itu, dalam sahnya pernikahan, persetujuan seorang perempuan adalah perlu, baik perawan maupun bukan perawan.

Di sini muncul sebuah pertanyaan, apakah dalam sahnya pernikahan seorang perempuan di samping’persetujuannya, juga harus terdapat persetujuan ayah atau kakek ataukah tidak?

Dalam jawaban pertanyaan ini secara detail, mereka mengatakan bahwa apabila perempuan tersebut bukan perawan, maka tidak perlu izin ayah atau kakek dan dia sendiri secara independen bisa mengambil keputusan.

Di dalam hadis-hadis juga di jelaskan tentang topik ini. Imam Shadiq berkenaan dengan pernikahan perempuan bukan perawan dengan mengatakan, “Dia Iebih berhak berkenaan deng-an dirinya daripada orang lain. Apabila dia dulu pernah menikah, maka dia bisa memilih lelaki yang dia sukai untuk menikah lagi.”

Imam Shadiq mengatakan, “Seorang perempuan yang bukan perawan bisa menikah tanpa izin ayahnya apabila tidak ada masalah baginya.”

Namun jika perempuan tersebut perawan maka mayoritas ahli fiqh berpendapat, bahwa sahnya pernikahan tergantung kepada izin ayah atau kakeknya.

Dalam hal ini, mereka berpegang teguh kepada sebagian hadis sebagai berikut, “Seorang perempuan perawan yang mempunyai ayah, maka hendaknya tidak menikah tanpa seizin ayahnya.”

Baca juga...  Hak-Hak Suami Isteri

Kebebasan perempuan perawan dalam memilih pasangan hanya terbatas pada izin ayah atau kakek, namun batasan ini tidak hanya bermanfaat bagi dirinya tetapi juga bermanfaat bagi kemaslahatannya.

Ini karena perempuan perawan sebelumnya tidak pernah menikah dan tidak mempunyai pengalaman dalam hal ini dan karena malu, dia tidak bisa meneliti secara sempurna laki-laki yang meminangnya, maka dia memerlukan penasehat yang penyayang dan berpengalaman sehingga dia dapat memanfaatkan arahan-arahan sang penasehat sementara ayah dan kakek adalah individu-individu terbaik yang mampu membantu putri dan cucu perempuannya.

Di samping itu, musyawarah dan izin ayah juga mempunyai faedah lain, yaitu menghormati ayah serta meminta persetujuan dan kerja samanya. Tidak di ragukan lagi, bahwa hal ini untuk mengokohkan ikatan kekeluargaan dan kehidupan masa depan si perempuan serta membantu menyelesaikan problem-problem yang mungkin timbul dan berpengaruh terhadap kemaslahatannya.

Di katakan bahwa ada dua hal yang dikecualikan dalam perlunya meminta izin ayah, yaitu :

Pertama, apabila tidak ada ayah atau kakek untuk di mintai izin.

Kedua, perempuan tersebut perlu menikah dan laki-laki (peminang) telah sangat sesuai baginya. Namun, sang ayah tanpa alasan yang tepat selalu beralasan dan menolaknya. Maka, para fuqaha dalam hal ini mengizinkan perempuan (perawan) untuk menikah dengan laki-laki dambaannya tanpa izin ayahnya.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru