oleh

Kekuatan Yang Menolong

-Tauhid-0 views

Di antara buah yang dapat dipetik dari ibadah yang dijalani orang-orang beriman, dengan itu mereka akan mendapatkan apa yang disebut dengan istilah Sulthaanan Nashiraa atau kekuatan dan kemampuan yang dapat menolong di jalan Allah.

Hal tersebut telah ditegaskan Allah dengan firman-Nya: “Dan katakanlah: “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.” (QS. Al-Isra‘ : 17/80).

Pertolongan yang diturunkan Allah kepada orang beriman itu bisa berbentuk apa saja, baik berupa ilmu pengetahuan, amal perbuatan maupun kelebihan-kelebihan. Pertolongan tersebut memancar dari arah tidak terduga, terbit dari rahasia urusan ketuhanan yang pasti bukan dari kekuatan (kemampuan) manusia secara pribadi.

Oleh karena terbit dari urusan ketuhanan, maka kekuatan pertolongan itu, baik keadaan maupun kualitasnya tentu jauh berbeda dengan kemampuan yang terbit dari manusia secara basyariyah. Perbedaan itu pasti bisa dirasakan oleh orang yang sudah memilikinya. Seperti susu murni dengan air santan misalnya, meski bentuk lahirnya sama, bagi yang sudah mengenali kedua rasa itu pasti mereka bisa membedakannya.

Ketika seseorang dapat merasakan, bahwa kekuatan pertolongan itu sesungguhnya benar-benar bukan sesuatu yang terbit dari kekuatan pribadinya sendiri, maka sedikitpun shultaan itu tidak memunculkan pengakuan pribadi. Bahkan mampu membangkitkan keyakinan dalam hati pemiliknya akan kebesaran, kekuasaan dan kekuatan Allah yang dapat menjadikan manusia menjadi orang yang tawadhu‟ atau rendah hati.

Ketika munculnya shultaan itu bersih dari pengakuan pribadi, maka ia akan menjadi lebih kuat karena lebih alamiah, ketika datangnya shultaan penolong itu benar-benar murni dari urusan Allah, adakah kekuatan yang dapat menandinginya?

Baca juga...  Alam Kubur (Barzah)

Sehingga, bagi orang yang telah mendapatkan shultaan ini, ia akan selalu dapat mengalahkan kekuatan musuh-musuhnya, “Beberapa banyak terjadi, golongan yang sedikit dapat mengalahkan yang banyak dengan izin Allah.” (QS. Al-Baqarah : 2/249).

Firman Allah di atas: (ِ“ ) بِإِذْىِ اللّه dengan izin Allah” maksudnya ialah, golongan minoritas yang dapat mengalahkan golongan mayoritas tersebut, itu sesungguhnya terjadi hanya dengan urusan dan ilmu Allah. Secara lahir mereka memang kelihatan kecil, tapi secara batin sesungguhnya besar, hal itu karena mereka telah mendapatkan pertolongan dari-Nya.

Sebaliknya, yang secara lahir kelihatannya besar, oleh karena mereka tidak mendapatkan pertolongan, maka secara batin menjadi kecil, untuk mendapatkan shultaan tersebut, seorang hamba harus memulai dari usahanya sendiri, yakni dengan melaksanakan mujahadah di jalan Allah.

Mujahadah tersebut dilakukan untuk menolak musuh-musuh Allah, hasil (pahala)nya, kepada orang yang melaksanakan mujahadah itu akan diturunkan pertolongan dan petunjuk dari-Nya.

Allah berfirman: “Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjuki kepada mereka jalan-jalan Kami”. (QS. Al-Ankabut : 29/69). Secara singkat yang dimaksud dengan mujahadah adalah: “Memadukan dua kemampuan pribadi di dalam satu amal, yaitu keras dalam usaha dan kuat dalam menjalani kesabaran, baik di saat melaksanakan ibadah secara vertikal maupun menghadapi ujian-ujian hidup secara horizontal, itu semua sebagai konsekuensi dan resiko yang muncul akibat usaha yang dijalani.

“Barangsiapa sabar menerima kesakitan dari ibadah yang dijalani itu, berarti mereka akan masuk di dalam bingkai janji Allah, sekali-kali Allah tidak mengingkari janji-janji-Nya.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru