oleh

Kesehatan Dalam Pandangan Hukum Islam

-Health-1 views

Al-Qur’an di turunkan sebagai syifa’ (penyembuh), bukan sebagai obat, karena cukup banyak obat tetapi tidak menyembuhkan dan setiap penyembuh dapat dikatakan sebagai obat, pada dokter ahli sudah mampu mengetahui berbagai macam virus yang mendatangkan penyakit, namun penyakit stress yang tidak ada virusnya tak mampu di deteksi oleh medis, maka lewat terapi Al-Qur’an penyakit yang tak bervirus itu bisa di ketahui.

Perubahan-perubahan sosial yang terjadi dengan cepat sebagai konsekwensi dari modernisasi dan globaliasi serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, mempunyai dampak serius dalam mempengaruhi nilai-nilai kehidupan masyarakat, tidak semua orang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang begitu cepat yang pada gilirannya menimbulkan stresss yang akhirnya menimbulkan penyakit.

Dalam konsep ilmu kesehatan jiwa, seseorang di katakan sakit apabila ia tidak mampu lagi berfungsi secara wajar dalam kehidupannya sehari-hari, dalam praktek di lapangan secara lahiriah, di saksikan oleh setiap orang berapa banyak pegawai yang tekun, patuh dan disiplin, karena takut dikatakan tidak loyal kepada atasannya, padahal sebenarnya apa yang di lakukan tidak sesuai dengan rasa hati nuraninya.

Begitu juga dalam banyak peristiwa lain yang berdampak pada kejiwaan, perasaan takut, sedih, kelaparan, kurang harta, kehilangan jiwa adalah cobaan yang telah di jelaskan dalam Al-Qur’an, betapa sedih dan tegang jiwa seorang ayah dan ibu yang mengetahui anaknya terserang penyakit yang menakutkan atau terserang oleh zat adiktif yang kini semakin marak dalam masyarakat.

Untuk mengatasi hal-hal tersebut, Al-Qur’an menawarkan metode yang tepat, Allah berfirman yang artinya : “…Katakanlah Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Fusilat/41: 33), Di ayat lain, Allah menegaskan, yang artinya : “Dan kami turunkan sebagian dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah manfaat kepada orang-orang zalim selain kerugian (QS Al-Isra’/17:82).

Baca juga...  Al-Khustul Bahri, Al-Habbatussauda' dan As-Sabah

Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan arti penyakit di ayat-ayat di atas. Raqhib Isfahany dalam tafsiran Al-Makhtut mengatakan bahwa: “Pada asasnya penyakit itu ada 2 macam, yaitu hissy (yang dapat di rasakan lewat indera) dan nafsi (yang berkaitan dengan kejiwaan). Kedua-duanya adalah keluar dari keadaan normal.

Penyakit yang dapat diketahui oleh panca indera mudah dikenal, sedangkan penyakit yang berkaitan dengan kejiwaan banyak seperti kebodohan, ketakutan, kekikiran, kehasadan (iri hati) dan penyakit-penyakit hati lainnya.
Akhlak-akhlak yang tercela di atas disebut dengan penyakit karena ia menghalangi orang-orang yang berakhlak demikian untuk mendapatkan kemuliaan sebagaimana penyakit menghalangi si sakit dari aktivitasnya sebagaimana biasa, mungkin juga karena akhlak tercela itu jalan yang menarik mengambil kehidupan yang sebenarnya sebagaimana firman Allah : “Dan sesungguhnya kehidupan di akhirat nanti adalah kehidupan yang sebenar-benarnya”. Mungkin juga penamaan ini dikarenakan jiwa manusia condong kepada keyakinan terhadap sesuatu sebagaimana condongnya jiwa seorang yang sakit kepada segala sesuatu yang
berbahaya.

Sedangkan firman Allah: Penyakit tersebut adalah kemunafikan, keragu-raguan dan permusuhan mereka. Ibnu Mas’ud dan Hasan Basry dan Qutadah mengatakan penyakit itu adalah keragu-raguan. Sedangkan selain mereka ada yang mengatakan : cinta dunia dan mengikuti hawa nafsu, sedangkan yang lain mengatakan : kesedihan, kedengkian, iri hati dan condong kepada dunia.

Kesemua apa yang disebutkan di atas termasuk ke dalam apa yang disebut dengan penyakit, apa yang disebutkan Raghib di atas benar adanya menurut bahasa karena penyakit yang disebutkan diayat di atas secara bahasa mencakup semua apa yang Raghib sebutkan, akan tetapi, walaupun kata “penyakit” bersifat umum, akan tetapi maknanya diayat di atas khusus.

Firman Allah dalam Surat Muhammad 29, yang artinya : “Atau apakah orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit mengira bahwa Allah tidak akan memperlihatkan kedengkian mereka”. Pada ayat ini, jelaslah bahwa maksud dari kata penyakit adalah kedengkian atau iri hati dan dengki.

Baca juga...  Macam-Macam Bekam

Pada ayat yang lain Allah juga menyifati orang-orang yahudi dengan sifat ini, sebagaimana firman Allah pada surat berikut, yang artinya : “Apakah mereka beriri hati kepada orang lain (kaum Arab) atas apa yang telah Allah berikan kepada mereka dari keutamaannya.”

“Banyak orang dari golongan ahli kitab yang berkeinginan untuk mengembalikan kalian (orang-orang beriman) kepada kekufuran setelah kalian beriman atas asas kekufuran dan isi hati dari diri mereka sendiri.” Atas dalil di atas, penafsiran penyakit dengan maksud memunafikan tidaklah cocok, apalagi banyak ayat yang menggabungkan penyakit itu dengan kemunafikan dengan cara athaf.

Begitu juga penafsiran penyakit ini dengan keraguan-raguan karena kedua-duanya juga telah disandingkan dengan athaf pada ayat berikut: “Apakah dihati mereka ada penyakit ataukah mereka ragu-ragu”. Kalau penyakit itu ditafsirkan dengan ragu-ragu maka penggabungan keduanya tidak mempunyai makna karena sebagaimana yang disebutkan diawal tulisan ini.

Sedangkan qasidah yang disebutkan Ibnu Abbas yang dipahami Nafi’ bin Azraq dengan makna kemunafikan tidaklah disebutkan dengan ungkapan yang jelas dan penjabarannya kepada Ibnu Abbas tidaklah kuat. Bait di atas lebih condong dapat diartikan dengan makna iri hati dan dengki dari pada diartikan dengan makna kemunafikan. “Saya melihat hati mereka terbakar dan mendidih panas menunjukkan bahwa penyakit di atas artinya iri hati dan dengki karena iri hati membakar hati seseorang sebagaimana api membakar kayu bakar”.

Sedangkan maksud penyakit pada surat Al-Ahzab ayat 32: “Jika kalian bertaqwa maka janganlah kalian berbicara dengan sikap yang menimbulkan keberanian orang bertindak tidak baik kepada kalian sehingga berkeinginan orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit…”

Sehubungan dengan uraian pendahuluan di atas, maka dalam tulisan ini dibahas tentang Islam dan kesehatan jiwa manusia, kesehatan merupakan salah satu dari maqashid syariah dan kesehatan dalam kajian hukum Islam, metode yang digunakan adalah pendekatan penelitian kepustakaan dengan content analysis (analisis isi) dari berbagai referensi yang relevan dengan permasalahan yang dibahas.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya