oleh

Konsep Mengenal Tuhan Menurut Kaum Sufi

-Tasawuf-8 views

Dari cara-cara yang berupa amalan sehingga teori mengenai kesatuan realitas dengan Tuhan, sama ada dalam cara menyaksikan wujud maupun dalam kesatuan wujud, jalan atau cara mencapai ma‘rifat itu kini telah berkembang menjadi lebih sistimatik, walaupun aliran tasawuf akhlak dan amal masih terus di amalkan oleh beberapa kelompok tertentu, manakala jalan untuk mencapai ma‘rifat yang sistimatik itu telah menjadi wacana dan bahkan menjadi konsep para tokoh sufi sama ada di dunia Islam maupun dunia melayu.

Jalan yang sistematik itu di bagikan menjadi dua, yaitu ma‘rifah melalui konsep tauhid dan ma‘rifat melalui konsep wujud, pembahasannya akan di urai berikut ini.

Al-Ma‘rifah Melalui Jalan Tauhid

Dalam pembahasan ini di jelaskan mengenai konsep ma‘rifat melalui jalan tauhid dengan secara menaik dengan menguraikan pandangan para sufi dari dunia Islam secara umum.

Tauhid adalah akidah dan masalah asas (fundamental) dalam agama Islam, tauhid itu berarti meng-esakan Allah, yaitu meyakini bahwa Dia (Allah) itu benar-benar Tunggal. Tiada Tuhan selain Dia, tiada sekutu bagi-Nya.

Banyak ayat Al-Qur’an tentang masalah tauhid dan kewajiban bagi umat untuk bertauhid, ia merupakan intisari daripada ajaran Islam yang terangkum dalam kalimat ( ,لاَ إلهَ إِلاّ اللهtiada Tuhan selain Allah).

Mengesakan Allah dalam mengi‘tiqadkan keesaan Allah dalam segala aspek, lawan tauhid adalah syirik, artinya menyekutukan atau menduakan Tuhan. Syirik adalah dosa besar yang tidak akan di ampunkan oleh Allah.

Pembahasan mengenai Tauhid dalam tradisi pemikiran Islam wujud pada kelompok mutakallim, falsafah dan kaum sufi, para sufi ketika membahas tauhid dalam tasawuf tidak semata-mata menggunakan akal sebagaimana perbahasan ahli kalam dan falsafah.

Namun, karena pandangan mutakalliman dan falsafah di luar pembahasan topik ini, maka hanya pandangan para sufi yang akan di bahaskan di sini, pembahasan mengenai tauhid ini penting, karena ia menjadi jalan menuju ma‘rifah.

Para sufi mempunyai konsep yang berbeda-beda mengenai tauhid, sepertimana akan di bahaskan saat ini, sehubungan dengan tauhid Al-Junaid Al-Baghdadi seorang sufi yang di kenal dengan faham tauhid yang berasas kepada keyakinan fana.

Al-Junaid mengartikan tauhid sebagai keyakinan bahwa, seseorang hamba itu tidak mempunyai wujud dan aktivitas secara hakiki, karena yang benar-benar mempunyai wujud dan perbuatan hanyalah Allah Ta’ala.

Oleh itu, menurut Al-Junaid, ahli tauhid harus selalu berada dalam kehendak Tuhan dan tidak lagi memiliki kekuasaan dalam kehendak, karena semua di kendalikan Allah, oleh karena ia tiada mempunyai kekuasaan apapun, maka wujud diri dan perbuatan atau aktivitasnya itu laksana bayangan saja di hadapan Allah.

Segala yang berlaku diyakini sebagai qudrat Allah, karena pemilik wujud dan perbuatannya yang hakiki hanyalah milik Allah Ta’ala. Menurut Al-Junaid tauhid secara hakiki itu apabila seseorang tidak lagi menyadari dirinya ada dan segala sesuatu ini ada, karena dirinya telah fana, maka ia telah mencapai ma‘rifatullah.

Cara memandang (musyahadah) para sufi itu tidak menggunakan daya indrawi, tetapi menggunakan mata hatinya saja, istilah bagi sufi inilah tauhid bagi orang khawas.

Menurut Al-Junaid, apabila seseorang telah mencapai tahapan ini, berarti ia telah bertauhid secara hakiki, konsep tauhid pandangan Al-Junaid yang berasas daripada ke-fana-an ini di kenali dengan konsep fana At-Tauhid.

Baca juga...  Download Buku Maqam Dzikir An-Naqsyabandi

Pandangan Al-Junaid di atas, bukan berarti manusia itu sama dengan Tuhan yang qadim, maka harus membedakan perkara yang qadim daripada perkara yang bermula dalam masa, yakni seorang yang bertauhid tidak boleh mendakwa yang qadim sebagai tempat daripada yang tidak hakiki, jadi faham ini Tuhan adalah qadim, manakala manusia hanyalah bayangan daripada yang qadim itu.

Cara pandang Al-Junaid dalam mentauhidkan Allah itu sebagaimana pandangan para sufi lainnya di anggap sebagai peringkat tauhid tertinggi dan di sebut dengan waḥdah al-shuhud, artinya apabila seseorang telah dapat menyaksikan ‘Yang Satu’ maka seseorang telah mencapai ma‘rifatullah.

Al-Qushayri justru berpandangan bahwa Tuhan tidak boleh di samakan
dengan makhluq, sebab berasaskan pada ayat Al-Qur’an لَْي َ س َ ك ِ مثْلِِ ه َ ش ْ يء, Artinya, Dia tiada dapat di misalkan dengan apapun. (Surah As-Syura, 42: 11). Oleh itu menurutnya, manusia mestilah bertauhid secara al-khalq li al-Ḥaqq, (makhluk itu bagi Khalik).

Konsep tauhid yang di kemukakan Al-Qushariy ini justru nampak menunjukkan perbedaan secara jelas antara Khaliq dengan makhluq. Sebab, baginya Allah mempunyai Dzat, Sifat dan af‘al yang tidak mungkin di beri makna sama dengan sifat-sifat makhluq yang baharu atau di maknai sama dengan sifat makhluk-Nya, Allah Maha suci daripada keadaan demikian itu.

Menurut Al-Qushairi, sifat Tuhan itu Qadim tidak dapat melekat pada zat yang baharu (ḥadith) demikian sebaliknya sifat yang baharu (ḥadith) tidak mungkin dapat melekat pada Dzat Allah yang Qadim. Oleh karena itu menurut Al-Qushairi, sesiapa yang beriktiqad Tuhan dapat bersatu dalam diri manusia yang bersifat hadith itu adalah kafir.

Manakala kaum jahiliyah yang meyakini bahwa tuhan dapat masuk ke dalam diri manusia adalah ahli bid‘ah, bagi Al-Qushairi, tauhid yang hakiki di buktikan dengan ketaatan kepada yang Ḥaqq dengan melaksanakan segala perintah-Nya (syari’ah) untuk mendekatkan diri kepada Allah semata dan tanpa mengharapkan sesuatu daripada yang lainnya.

Pandangan mengenai Tauhid hampir serupa dengan sufi di atas adalah
pandangan Al-Ghazali. Menurut Al-Ghazali, tauhid adalah memahami keesaan Tuhan Allah melalui Dzat dan sifat-sifat-Nya. Esa, artinya Dia tiada terbagi-bagi, tiada pula sekutu bagi-Nya.

Jikalau sekiranya ada sekutu bagi-Nya, maka ia akan menyerupai dan menyamai-Nya dalam semua aspek-Nya yang mungkin lebih tinggi daripada-Nya.

Al-Ghazali menolak faham dualisme (menyamakan Tuhan Allah dengan manusia, selain itu, menurut Al-Ghazali, kebenaran mengenai tauhid yang hakiki itu hanya boleh di peroleh dengan melalui jalan kashf.

Kashf artinya, menyaksikan keesaan Allah melalui perantaraan Nur Al-Ḥaqq (cahaya kebenaran Illahi) membawa makna bahwa kesemua yang di lihat secara langsung (dengan mata hati) atau dengan pandangan muyahadah di alam ini terbit daripada yang satu, yaitu Allah Ta’ala.

Itulah hakikat tauhid pada derajat Al-Muqarrabin, yaitu orang-orang yang melihat sesuatu yang banyak akan tetapi, apa yang di lihatnya hanya bersumberkan dari Tuhan Yang Esa. Selain itu, bertauhid pada peringkat Al-Muqarrabin di artikan pula sebagai waḥdah al-af‘al, artinya meyakini bahwa segala perbuatan yang terlihat olehnya hanya satu, yaitu perbuatan Allah.

Baca juga...  Beberapa Tingkatan Taqwa

Manakala tauhid pada peringkat Siddiqin adalah tauhid seseorang yang tiada melihat segala yang berwujud ini melainkan hanya satu, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, bahkan ia tidak boleh melihat sekalipun dirinya sendiri, karena ia telah tenggelam dalam Ke-Esaan Allah.

Tauhid tingkatan ini di namai penyaksian orang Siddiqin (musyahadah Siddiqin), pada derajat golongan Siddiqin itu menurut Al-Ghazali merupakan derajat tertinggi, karena dalam penglihatan mata hatinya (syuhud), segala wujud yang banyak tidaklah nampak, yang nampak hanyalah Allah yang Esa.

Ini dalam terminologi ahli sufi di namai dengan al-fana’ fī al-tauḥid (fana’ dalam tauhid), menurut Al-Ghazali, tauhid pada golongan muqarrabin dan golongan ṣiddiqin di namai tauhid orang khawaṣs, yaitu tauhidnya bagi orang sufi.

Inilah tauhid hakiki bagi Al-Ghazali dan tauhid tertinggi menurutnya adalah waḥdat al-syuhud, sedikit berbeda dari Al-Ghazali, Ibn ‘Arabi, mendefinisikan tauhid dalam dua makna: Pertama tauhid rububiyyah, yaitu meyakini bahwa tiada wujud di alam ini kecuali hanyalah Allah yang Esa.

Allah itu adalah Esa sama ada dari segala zat, sifat maupun af‘al-Nya, maknanya tiada sesiapa kecuali Allah, tiada wujud kecuali hanya Allah, tiada yang mengatur kecuali Allah dan tiada yang menjadikan kecuali hanya Allah.

Kedua, adalah tauhid ‘ubudiyyah, yakni sikap mengesakan Allah dalam ketuhanan-Nya, bahwa tiada Tuhan yang berhak di pertuhankan dan di sembah melainkan hanya Allah, tiada wujud kecuali hanya satu, yaitu wujud Allah Ta’ala saja, manakala wujud yang lainnya atau wujud alam ini adalah majazi (bayangan).

Tauhid dalam pandangan Ibn ‘Arabi juga berarti meyakini bahwa hakikat wujud itu hanyalah satu, sebab alam ini dari segi Dzatnya adalah al-Ḥaqq dan ketika di lihat dari segi sifat-sifatnya adalah Dia ciptaan.

Pada paham ini, Ibn ‘Arabi berpandangan, bahwa al-Khaliq dan al-makhluq adalah satu hakikat, sebab Tuhan adalah al-Ḥaqq, manakala selain-Nya itu tidaklah ada atau sekadar manifestasi wujud Tuhan atau tajalli diri Tuhan.

Singkat kata, salah satu dari cara-cara mencapai al-ma‘rifah yang di lalui dengan cara sufi adalah dengan konsep tauhid, cara tauhid bagi kaum sufi terdapat dua macam, yaitu dengan mengesakan Tuhan dengan cara waḥdah al-shuhud dan dengan cara waḥdah al-wujud.

Al-ma‘rifah dengan melalui jalan tauhid kemudian berkembang menjadi apa yang di sebut dengan ma‘rifah dengan jalan sufi, yaitu mengenali Allah melalui tauḥid al-Asma’, tauḥid al-ṣifat, tauḥid al-af‘al, tauḥid al-dzat.

Dalam perbahasan di atas telah di jelaskan jalan sufi dalam memperoleh ma‘rifah dengan konsep fana’ al-tauḥid, berikut ini akan di jelaskan jalan tanazzul dalam mencapai al-ma‘rifah yang di ambil daripada konsep wujud.

Maknanya, ma‘rifah bisa di capai dengan mengenali wujud Tuhan melalui tajalliyat atau dengan cara tanazzul. Namun, pembahasan jalan sufi dan tanazzul secara terasing tidak berarti bahwa para sufi mengamalkan jalan tanazzul secara berasingan pula.

Para sufi beraliran Naẓari pada umumnya mengamalkan kedua-dua jalan taraqqi dan tanazzul, cara mencapai al-ma‘rifah melalui jalan tanazzul para sufi pada umumnya tidak pakai kaidah yang telah di kenal dalam kenyataan yang berbunyi: “Barang siapa telah mengenal dirinya, pasti ia telah dapat mengenal Tuhannya.”

Baca juga...  Makrifat Ketuhanan

Maknanya, dalam memperoleh ma‘rifatullah (mengenali Tuhan) dengan jalan tanazzul itu tidak di mulai daripada mengenali diri sendiri sebagaimana taraqqi, namun di mulai dari pengenalan terhadap Tuhan secara tanazzul.

Kaidah yang di gunakan untuk ini adalah kebalikan daripada yang pertama, yaitu: “Barang siapa mengenali Tuhannya, maka ia telah mengenali dirinya.” Dari kaidah ini dapat di fahami, bahwa ma‘rifah bisa di capai melalui proses tajalli, sebab Tuhan Allah memperkenalkan diri dengan cara menampakkan diri melalui ciptaan-Nya (tajalli).

Para Sufi mengajarkan konsep ma‘rifah dengan cara tajalli melalui beberapa martabat atau peringkat. Ini berasas daripada pemikiran, bahwa Tuhan menjadikan alam ini dengan tujuan untuk memperkenalkan diri-Nya.

Oleh itu, agar supaya Tuhan dapat di kenali oleh makhluk-Nya, maka Tuhan ber-tajalli, maknanya Allah memperkenalkan wujud diri-Nya melalui proses tajaliyyat (penampakan) yang melalui beberapa martabat seperti, tajalli wujud al-dzat, tajalli wujud al-sifat dan tajalli wujud al-fi‘l (perbuatan).

Karena proses ini bermula dari Allah sendiri atau dari atas, maka ianya di sebut proses tanazzul (menurun). Jadi, maksud daripada tajallii itu bukan pengalaman mukasyafah atau musyahadah seperti mana konsep Al-Ghazali.

Tidak pula seperti pandangan ittiḥad dan bukan pula seperti pandangan kesatuan hamba dengan Tuhan yang di namakan dengan hulul, bagi memberikan kefahaman yang lebih detail mengenai konsep tajalli ini, maka pengkaji akan membincangkan di sini pemikiran para Sufi.

Mengenal Tuhan meneruskan proses tanazzul dan tajalliyatal-ḥaqq (penampakan diri Allah yang ḥaqq) berhubung kait dengan dengan konsep waḥdah al-wujud yang merujuk kepada pemikiran tokoh sufi Ibn ‘Arabi.

Pandangannya berasas daripada faham, bahwa Tuhan menciptakan alam ini, karena Dia ingin memperlihatkan diri-Nya melalui alam, pandangan Ibn ‘Arabi ini di sokong pula oleh sebuah ungkapan yang di dakwa di sebuah hadits Qudsi dalam yang berbunyi:
كْنت َ كْنًزا َ مَِْ فيًا فَأَ ْ حبَْبت أَ ْ ن أ ْ عَر َ ف فَ َ خلَْقت ا ْ لَْْل َ ق فَبِِ ه َ عَرف ْون
Artinya: “Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi (yang tak di kenal), maka Aku suka untuk di kenali, untuk itu Aku ciptakan makhluq yang karena itu mereka mengenal-Ku.”

Kenyataan di atas menunjukkan bahwa seluruh ciptaan Allah adalah alat atau jalan untuk mengenali Allah, oleh itu yang utama untuk di kenali dan di fahami adalah Allah dan bukan ciptaan-Nya, bahkan dalam pandangan Ibn Arabi, ciptaan Allah itu di kira sebagai tiada “yang ada hanya wujud Allah”.

Maknanya semua yang ada (manusia dan alam semesta) ini adalah sebagai penampakan zahir (tajalli) daripada nama-nama Allah, ini bagi Ibn Arabi, tidak berarti bahwa Tuhan adalah alam semesta atau sebaliknya, bahwa alam semesta adalah Tuhan.

Sebab wujud alam semesta ini bukanlah wujud yang haqiqi, wujud yang haqiqi hanyalah wujud Allah, itulah pemahaman mengenai Tuhan menurut Ibn ‘Arabi yang meneruskan konsep wujud yang nampak lebih sempurna daripada pandangan Abu Yazid dan Al-Halajj.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya